Jakarta – Pemerintah telah resmi menetapkan harga premium sebesar Rp7.600 per liter sejak tanggal 1 Januari 2015. Namun, dengan premium diturunkan menjadi Rp7.600 per liter dan Solar menjadi Rp7.250 per liter, akankah BI menurunkan kembaali BI Rate tersebut?
Pasalnya, kenaikan BBM yang terjadi pada 18 November lalu tersebut juga membuat BI menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 7,75 persen dari sebelumnya 7,5 persen. Padahal selama 13 bulan, BI Rate stagnan di angka 7,5 persen.
Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo, saat ini BI masih melihat kondisi inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang terus menerus terperosok. Desember 2014 menjadi bulan yang cukup kelam karena perdagangan Indonesia jeblok hingga defisit USD425,7 juta. Inflasi pun serupa, yakni melonjak ke angka 4,46 persen.
“Secara umum kita masih melihat tentang kondisi bagaimana inflasi, bagaimana transaksi berjalan dan secara umum necara perdagangan kita,” ucap Agus di Jakarta Selatan, Jumat (2/1).
Saat ditanyai mengenai BI Rate kedepannya karena melihat harga BBM turun, Agus pun tak mau berspekulasi. Meskipun begitu , ihaknya mengaku kebijakan yang diterapkan pemerintah di akhir tahun 2014 akan memberikan dampak baik.
“Kita harapkan menjadi lebih baik karena kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah di bulan November dan Desember. Namun perihal asumsi terkait dengan inflasi kita masih akan mendiskusikan lagi, tapi sementara ini ada di 4 plus minus 1 persen,” pungkas Agus.

















