• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home BUMN

Teknologi Perbankan: Investasi hingga ke Luar Angkasa

oleh Sandy Romualdus
25 November 2013 - 00:00
3
Dilihat
Teknologi Perbankan: Investasi hingga ke Luar Angkasa
0
Bagikan
3
Dilihat

“Bank sejatinya adalah perusahaan teknologi,” begitu kata Hugo Banziger, Chief Risk Officer pada Deutsche Bank tahun 2009 lalu saat krisis global memuncak. Pernyataan itu tidaklah berlebihan. Bahkan hingga kini tidak ada industri lain yang membelanjakan uangnya lebih banyak ke teknologi informasi dari perbankan.

Indonesia sebagai negara yang perbankan tengah menapaki penggunaan teknologi dalam setiap operasionalnya juga demikian. Bahkan dengan meningkatnya transaksi elektronik seiring dengan penggunaan internet kebutuhan akan teknologi informasi (TI) telah sampai ke kondisi yang tak pernah dialami sebelumnya.

Hampir semua bank –terutama yang bermodal besar, menyiapkan belanja TI hingga lebih dari separo anggaran belanja modal. Hal tersebut dilakukan agar jaringan tetap terkoneksi dan on line. Selama ini bank mendapatkan dukungan satelit dari penyelenggara atau operator telekomunikasi nasional untuk
mendukung operasionalnya. Singkatnya perbankan harus menyewa jasa satelit milik perusahaan macam Telkom, Indosat atau milik operator telekomunikasi lainya.

BERITA TERKAIT

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Namun lama kelamaan strategi ini dianggap tidak sangkil karena setiap tahun, biaya sewa satelit terus mengalami peningkatan mulai 30 persen higga 100 persen. Menurut seorang pejabat bank pelat merah, tarif sewa untuk sebuah transponden pada satelit – satu satelit bisa menampung 36 transponder– berada di kisaran 1 juta hingga 2 juta dollar AS per tahun. Bisa dihitung jika setiap tahun mengalami peningkatan hingga 100 persen, padahal bank bisa menyewa hingga 5 transponden sekaligus.

Oleh karena itu muncul ide untuk memiliki satelit sendiri langsung tanpa harus menyewa lewat perusahaan telekomunikasi. Memang untuk mempunyai sebuah satelit, biayanya tidak sedikit. Sebut saja satelit Telkom-3 yang pembangunannya menelan investasi sekitar 200 juta dollar AS atau setara dengan Rp 1,8 triliun. Selain itu kesempatan untuk memiliki satelit itu juga bukan persoalan gampang.

Namun demikian saat ini keduanya seperti pintu yang terbuka. Beberapa bank memiliki keleluasan dana untuk membeli orbit satelit sendiri di samping juga kesempatan untuk melakukan itu terbuka lebar.

Pemerintah melalui Kementerian Kominfo telah mengirimkan surat resmi untuk mencabut hak kelola slot orbit yang sebelumnya dikuasakan ke Indosat. Surat yang ditandatangani Menkominfo Tifatul Sembiring ini telah dikirimkan akhir September lalu. Hal ini tentu membuka peluang untuk menggantikan posisi Indosat dalam mengelola slot orbit.

Meskipun mahal, memiliki satelit sendiri dalam jangka panjang sangat menguntungkan bank. “Dalam hitungan kita, kalau kita mempunyai satelit sendiri, di tahun ketujuh sudah balik modal. Jadi tidak masalah kalau kita mempunyai satelit sendiri,” ungkap pejabat Bank BUMN, yang tak bersedia disebut namanya, dalam perbincangan dengan Stabilitas.

Dengan memiliki satelit sendiri, maka harapannya tidak ada lagi cerita gangguan akan padatnya jaringan, karena digunakan oleh banyak sektor industri dan pengguna individual.

Modal Cukup

Dalam kajian Stabilitas, bank sekaliber Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, dan Bank Central Asia (BCA), sangat mungkin untuk mempunyai satelit sendiri jika memang biaya pengadaan sebuah satelit berada di kisaran Rp1,8 triliun. Ini berkaca dari laba bersih yang diraih saat ini sudah melampaui angka Rp10 triliun. Dan yang paling mengkonfirmasi kesanggupan untuk mengalokasikan investasi satelit adalah BRI, yang hingga kuartal ketiga 2013 telah meraih laba bersih Rp 15,2 triliun dengan tingkat kecukupan modal di level 17 persen.

Untuk tahun ini saja, manajemen BRI telah mengalokasikan dana sebesar Rp2 triliun untuk pengembangan teknologi informasi. Manajemen bank berlaba terbesar di Indonesia ini menegaskan, rencana investasi ini untuk menambah jumlah mesin ATM berteknologi chip, mesin EDC dan kartu kredit dan debit berchip.

Adapun alokasi dana terbesar untuk pembelian mesin ATM. Menurut General Manager Divisi Teknologi Sistem Informasi BRI, Zulhelfi Abidin, untuk penambahan 5.000 ATM sampai 6.000 ATM, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 400 miliar-Rp 500 miliar. Total ATM BRI mencapai 14.604 per Juni 2013 atau bertambah 4.312 dibandingkan periode ditahun yang sebelumnya 10.292 ATM. Bank berpelat merah ini mengaku sudah mengganti seluruh ATM berbasis chip dengan biaya sekitar 5.000-7.000 dollar AS per mesin ATM.

Tak berhenti di situ, setiap tahun, lanjut Abidin, selalu ada kenaikan 15 persen hingga 17 persen untuk pengadaan teknologi di BRI karena perseroan tengah mempersiapkan diri untuk menjadi bank berbasis teknologi banking pada tahun 2014 sampai 2018. “Kami tengah mendorong nasabah untuk melakukan transaksi di ATM dan mobile banking untuk menggerakkan teknologi bank,” ucap dia.

Sementara untuk daerah terpencil, manajemen BRI akan meluncurkan bank keliling berupa kapal yang akan beroperasi di pulau-pulau terluar di Indonesia. Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengatakan, bank keliling tersebut akan beroperasi paling lambat tahun depan. “Kapalnya akan dilengkapi sistem online dan ditunjang fasilitas satelit,” kata Sofyan.

Dengan melihat rencana tersebut, maka memiliki satelit sendiri akan menunjang strategi operasional dan ekspansi usaha bank nasional tertua ini.
Tak mau kalah, Bank Mandiri juga mengalokasikan belanja modal sebesar 130 juta dollar AS untuk kebutuhan pengembangan IT pada tahun ini. Angka yang sama juga dialokasikan di setiap tahunnnya. Bank Mandiri berharap dengan pengembangan TI ini bisa menekan cost dan mampu meningkatkan investasi dengan dibarengi inovasi.

Direktur Strategi dan Keuangan Bank Mandiri Pahala N. Mansury mengatakan, dengan alokasi dana sebesar itu diharapkan bisa memperbaiki kapasitas dalam melayani masyarakat. Dan di luar IT, Bank Mandiri juga berencana mengembangkan network lain dalam bentuk cabang-cabang. Pahala mengaku, tercatat pertumbuhan TI di Bank Mandiri sudah sebesar 19,7 persen per tahun dan pertumbuhan capex non TI itu tumbuh sebesar 40 persen.

Untuk bisa bersaing dengan dua bank besar milik pemerintah di atas, sebagai bank dengan aset terbesar ketiga di Indonesia, BCA juga menyiapkan belanja teknologi informasi dengan peningkatan signifikan setiap tahunnya. Sejak dua tahun lalu, pertumbuhan investasi TI bank ini berada di kisaran 20 persen hingga 60 persen. Jika di 2010 hanya di kisaran Rp 50 juta dollar AS, di tahun ini juga telah melampau angka investasi IT di 2011 yag berada di angka Rp 80 juta dollar AS.

Menurut pengamat, industri perbankan memang akan terus meningkatkan kapasitas penggunaan TI dalam operasional bisnisnya. Managing Director IDC Financial Asia Pacific, Cyrus Daruwala, mengatakan, penerapan sistem TI baru untuk perbankan di Indonesia hingga semester I 2013 memakan biaya hingga 1,5 miliar dollar AS atau setara Rp16,4 triliun.

Menurutnya, rata-rata perbankan Indonesia menghabiskan 30 persen hingga 35 persen anggaran operasionalnya untuk pemasangan dan perawatan sistem TI masing-masing bank. “CIMB Niaga bisa 40-42 persen karena mereka akan mengolaborasikan sistemnya,” ucap Cyrus.

Incar Slot Orbit 150,5

Jika memang rencana itu berjalan mulus maka kemungkinan bank berpeluang memiliki satelit. Dan, jika memilki satelit, harus pula mempunyai slot orbitnya. Sejauh ini yang paling memungkinkan untuk dimiliki adalah slot orbit 150,5 Bujur Timur (BT) yang saat ini tengah dihuni satelit Palapa C2 milik Indosat.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Kominfo telah mengirimkan surat resmi untuk mencabut hak kelola slot orbit yang sebelumnya dipegang ke Indosat. Hal itu akan berlaku efektif persis di hari pertama tahun depan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, setelah pemerintah menarik kembali slot orbit tersebut, lantas mau diserahkan ke mana pengelolaannya? Tifatul Sembiring, Menteri Kominfo tak menampik jika slot orbit yang saat ini masih diisi satelit Palapa C2 Indosat itu diincar banyak perusahaan. “Banyak yang mau, banyak peminat. Memiliki satu slot orbit satelit itu sesuatu yang penting dan tidak mudah untuk mencari orbit baru,” ujar Tifatul, tanpa menyebut peminat yang dimaksud.

Beredar kabar, slot orbit 150,5 BT diinginkan oleh konsorsium perbankan yang ingin memiliki satelit sendiri untuk jalur komunikasi. Bahkan kabarnya ada kekuatan besar yang ikut bermain. Indosat sendiri tak menampik kabar ini. “Namanya juga usaha, boleh dong. Ada yang main gila. Memangnya gampang mau narik satelit?” tukas CEO Indosat, Alex Rusli dalam suatu perbincangan.

Maka dari itu, Alex Rusli menegaskan, Indosat tidak hanya berupaya untuk mempertahankan slot orbit 150,5 BT agar tetap menjadi milik Indonesia, namun juga untuk meningkatkan nilai slot orbit tersebut.

Beberapa langkah konkret yang dilakukan di antaranya adalah menandatangani perjanjian awal dengan Orbital Sciences. Perjanjian ini, kata Alex Rusli, merupakan bagian dari kontrak yang akan ditandatangani dan disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

“Kerja sama kami dengan Orbital Sciences memastikan bahwa satelit yang baru akan diluncurkan dalam waktu 26 bulan sejak kontrak ditandatangani. Dengan demikian satelit sudah akan berada di orbit dalam waktu yang cukup sebelum deadline ITU,” kata Alex.

Namun upaya Indosat akan menjadi sia-sia, jika Kemenkominfo bersikukuh mencabut penggunaan slot orbit 150,5 BT tersebut, dan memberinya kepada pihak lain, tepatnya pada 1 Januari 2014 nanti. Menurut seorang pejabat di Kominfo, pemerintah telah menunjuk BRI untuk mengambil alih penggunaan slot satelit tersebut. Rencananya, Kementerian Pertahanan akan ikut memanfaatkan sebagian kapasitas transponder satelit BRI nantinya untuk operasi strategis.

Sementara Sekretaris Perusaan BRI, Muhammad Ali mengatakan, BRI akan sangat siap jika diberikan kepercayaan tersebut. Namun pihaknya belum mau memberikan pernyataan lebih lanjut. “Nanti tanya ke Kemkominfo saja,” kata Ali.

Sebelumnya Direktur Penetapan Frekuensi dan Sumber Daya Kemkominfo, Titon Dutono menegaskan bahwa manajemen BRI sudah menyatakan keinginannya untuk punya satelit sendiri karena kebutuhan layanan perbankan perusahaan yang semakin meningkat. “BRI merasa tidak cukup hanya dengan menyewa,” jelas Titon.

Rencananya, kata Titon, BRI akan menggunakan sebagian dari 36 transponder pada satu satelit untuk menunjang aktivitas perbankan. Sisa transponder akan dialokasikan untuk kebutuhan pemerintah, seperti Kementerian Pertahanan, Dinas Pendidikan, dan Kemkominfo.

Menteri BUMN Dahlan Iskan pun telah memberikan lampu hijau kepada bank BUMN seperti BRI dan Bank Mandiri mempunyai satelit sendiri. Dengan adanya satelit sendiri bank pelat merah tersebut akan lebih aman dari sisi sekuritisasi dibandingkan dengan menggunakan satelit luar. “BRI dan Mandiri punya satelit sendiri saya setuju. Kebutuhan Indonesia akan satelit itu besar,” ucap Dahlan.

 
 
 
 
Sebelumnya

Angka-Angka Asumsi itu

Selanjutnya

Akuisisi Inalum Menyambut Anggota ke 105

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

BNI dan BNI Ventures Luncurkan Dropbox Kertas, Dorong Ekonomi Sirkular di Lingkungan Kantor

BNI dan BNI Ventures Luncurkan Dropbox Kertas, Dorong Ekonomi Sirkular di Lingkungan Kantor

oleh Sandy Romualdus
17 Februari 2026 - 13:51

Stabilitas.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI bersama anak usahanya, BNI Ventures, memperkuat komitmen keberlanjutan melalui peluncuran...

Jasa Marga Kenalkan Ekosistem Travoy di IIMS 2026, Siap Kawal Mudik Lebaran

Jasa Marga Kenalkan Ekosistem Travoy di IIMS 2026, Siap Kawal Mudik Lebaran

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:08

Stabilitas.id — PT Jasa Marga (Persero) Tbk. memperkenalkan ekosistem aplikasi Travoy (Travel with Comfort and Joy) dalam ajang Indonesia International...

Bangkit dari PHK, UMKM Binaan BRI Rolly Bakery Tembus Pasar Global

Bangkit dari PHK, UMKM Binaan BRI Rolly Bakery Tembus Pasar Global

oleh Stella Gracia
11 Februari 2026 - 12:47

Stabilitas.id — Berawal dari pemutusan hubungan kerja (PHK), Natali berhasil membangun usaha roti dan kue kering rumahan bernama Rolly Bakery...

Permudah Pembayaran, BRImo Perkenalkan Fitur QRIS Tap

Permudah Pembayaran, BRImo Perkenalkan Fitur QRIS Tap

oleh Stella Gracia
9 Februari 2026 - 09:07

JAKARTA, Stabilitas.id – Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus memperluas kemudahan transaksi digital untuk mendukung mobilitas harian masyarakat Jakarta melalui pengembangan...

BNI Dorong Edukasi Lingkungan, Fondasi Keberlanjutan Aksi Bersih Pantai di Bali

BNI Dorong Edukasi Lingkungan, Fondasi Keberlanjutan Aksi Bersih Pantai di Bali

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 14:34

Stabilitas.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menegaskan upaya menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui satu kali...

BNI Lanjutkan Aksi Bersih Pantai, Perkuat TPS3R Sekar Tanjung di Bali

BNI Lanjutkan Aksi Bersih Pantai, Perkuat TPS3R Sekar Tanjung di Bali

oleh Sandy Romualdus
7 Februari 2026 - 18:43

Stabilitas.id — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) melanjutkan aksi bersih Pantai Mertasari, Bali, dengan menyalurkan bantuan sarana pengelolaan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
OJK Rilis Regulasi Interkoneksi Keuangan Syariah di 2014

OJK Rilis Regulasi Interkoneksi Keuangan Syariah di 2014

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance