• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Danantara

Teknologi Perbankan: Investasi hingga ke Luar Angkasa

by Sandy Romualdus
25 November 2013 - 00:00
9
VIEWS
Teknologi Perbankan: Investasi hingga ke Luar Angkasa
0
SHARES
9
VIEWS

“Bank sejatinya adalah perusahaan teknologi,” begitu kata Hugo Banziger, Chief Risk Officer pada Deutsche Bank tahun 2009 lalu saat krisis global memuncak. Pernyataan itu tidaklah berlebihan. Bahkan hingga kini tidak ada industri lain yang membelanjakan uangnya lebih banyak ke teknologi informasi dari perbankan.

Indonesia sebagai negara yang perbankan tengah menapaki penggunaan teknologi dalam setiap operasionalnya juga demikian. Bahkan dengan meningkatnya transaksi elektronik seiring dengan penggunaan internet kebutuhan akan teknologi informasi (TI) telah sampai ke kondisi yang tak pernah dialami sebelumnya.

  • Baca juga: Himpun 131 CEO Global dan Peraih Nobel, Danantara Gelar Forum Investasi DTIIF 2026

Hampir semua bank –terutama yang bermodal besar, menyiapkan belanja TI hingga lebih dari separo anggaran belanja modal. Hal tersebut dilakukan agar jaringan tetap terkoneksi dan on line. Selama ini bank mendapatkan dukungan satelit dari penyelenggara atau operator telekomunikasi nasional untuk
mendukung operasionalnya. Singkatnya perbankan harus menyewa jasa satelit milik perusahaan macam Telkom, Indosat atau milik operator telekomunikasi lainya.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Namun lama kelamaan strategi ini dianggap tidak sangkil karena setiap tahun, biaya sewa satelit terus mengalami peningkatan mulai 30 persen higga 100 persen. Menurut seorang pejabat bank pelat merah, tarif sewa untuk sebuah transponden pada satelit – satu satelit bisa menampung 36 transponder– berada di kisaran 1 juta hingga 2 juta dollar AS per tahun. Bisa dihitung jika setiap tahun mengalami peningkatan hingga 100 persen, padahal bank bisa menyewa hingga 5 transponden sekaligus.

Oleh karena itu muncul ide untuk memiliki satelit sendiri langsung tanpa harus menyewa lewat perusahaan telekomunikasi. Memang untuk mempunyai sebuah satelit, biayanya tidak sedikit. Sebut saja satelit Telkom-3 yang pembangunannya menelan investasi sekitar 200 juta dollar AS atau setara dengan Rp 1,8 triliun. Selain itu kesempatan untuk memiliki satelit itu juga bukan persoalan gampang.

Namun demikian saat ini keduanya seperti pintu yang terbuka. Beberapa bank memiliki keleluasan dana untuk membeli orbit satelit sendiri di samping juga kesempatan untuk melakukan itu terbuka lebar.

Pemerintah melalui Kementerian Kominfo telah mengirimkan surat resmi untuk mencabut hak kelola slot orbit yang sebelumnya dikuasakan ke Indosat. Surat yang ditandatangani Menkominfo Tifatul Sembiring ini telah dikirimkan akhir September lalu. Hal ini tentu membuka peluang untuk menggantikan posisi Indosat dalam mengelola slot orbit.

Meskipun mahal, memiliki satelit sendiri dalam jangka panjang sangat menguntungkan bank. “Dalam hitungan kita, kalau kita mempunyai satelit sendiri, di tahun ketujuh sudah balik modal. Jadi tidak masalah kalau kita mempunyai satelit sendiri,” ungkap pejabat Bank BUMN, yang tak bersedia disebut namanya, dalam perbincangan dengan Stabilitas.

Dengan memiliki satelit sendiri, maka harapannya tidak ada lagi cerita gangguan akan padatnya jaringan, karena digunakan oleh banyak sektor industri dan pengguna individual.

Modal Cukup

Dalam kajian Stabilitas, bank sekaliber Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, dan Bank Central Asia (BCA), sangat mungkin untuk mempunyai satelit sendiri jika memang biaya pengadaan sebuah satelit berada di kisaran Rp1,8 triliun. Ini berkaca dari laba bersih yang diraih saat ini sudah melampaui angka Rp10 triliun. Dan yang paling mengkonfirmasi kesanggupan untuk mengalokasikan investasi satelit adalah BRI, yang hingga kuartal ketiga 2013 telah meraih laba bersih Rp 15,2 triliun dengan tingkat kecukupan modal di level 17 persen.

Untuk tahun ini saja, manajemen BRI telah mengalokasikan dana sebesar Rp2 triliun untuk pengembangan teknologi informasi. Manajemen bank berlaba terbesar di Indonesia ini menegaskan, rencana investasi ini untuk menambah jumlah mesin ATM berteknologi chip, mesin EDC dan kartu kredit dan debit berchip.

Adapun alokasi dana terbesar untuk pembelian mesin ATM. Menurut General Manager Divisi Teknologi Sistem Informasi BRI, Zulhelfi Abidin, untuk penambahan 5.000 ATM sampai 6.000 ATM, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 400 miliar-Rp 500 miliar. Total ATM BRI mencapai 14.604 per Juni 2013 atau bertambah 4.312 dibandingkan periode ditahun yang sebelumnya 10.292 ATM. Bank berpelat merah ini mengaku sudah mengganti seluruh ATM berbasis chip dengan biaya sekitar 5.000-7.000 dollar AS per mesin ATM.

Tak berhenti di situ, setiap tahun, lanjut Abidin, selalu ada kenaikan 15 persen hingga 17 persen untuk pengadaan teknologi di BRI karena perseroan tengah mempersiapkan diri untuk menjadi bank berbasis teknologi banking pada tahun 2014 sampai 2018. “Kami tengah mendorong nasabah untuk melakukan transaksi di ATM dan mobile banking untuk menggerakkan teknologi bank,” ucap dia.

Sementara untuk daerah terpencil, manajemen BRI akan meluncurkan bank keliling berupa kapal yang akan beroperasi di pulau-pulau terluar di Indonesia. Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengatakan, bank keliling tersebut akan beroperasi paling lambat tahun depan. “Kapalnya akan dilengkapi sistem online dan ditunjang fasilitas satelit,” kata Sofyan.

Dengan melihat rencana tersebut, maka memiliki satelit sendiri akan menunjang strategi operasional dan ekspansi usaha bank nasional tertua ini.
Tak mau kalah, Bank Mandiri juga mengalokasikan belanja modal sebesar 130 juta dollar AS untuk kebutuhan pengembangan IT pada tahun ini. Angka yang sama juga dialokasikan di setiap tahunnnya. Bank Mandiri berharap dengan pengembangan TI ini bisa menekan cost dan mampu meningkatkan investasi dengan dibarengi inovasi.

  • Baca juga: Sinergi BNI dan InJourney, Layanan Asistensi Bandara Joumpa Kini Hadir di Aplikasi wondr

Direktur Strategi dan Keuangan Bank Mandiri Pahala N. Mansury mengatakan, dengan alokasi dana sebesar itu diharapkan bisa memperbaiki kapasitas dalam melayani masyarakat. Dan di luar IT, Bank Mandiri juga berencana mengembangkan network lain dalam bentuk cabang-cabang. Pahala mengaku, tercatat pertumbuhan TI di Bank Mandiri sudah sebesar 19,7 persen per tahun dan pertumbuhan capex non TI itu tumbuh sebesar 40 persen.

Untuk bisa bersaing dengan dua bank besar milik pemerintah di atas, sebagai bank dengan aset terbesar ketiga di Indonesia, BCA juga menyiapkan belanja teknologi informasi dengan peningkatan signifikan setiap tahunnya. Sejak dua tahun lalu, pertumbuhan investasi TI bank ini berada di kisaran 20 persen hingga 60 persen. Jika di 2010 hanya di kisaran Rp 50 juta dollar AS, di tahun ini juga telah melampau angka investasi IT di 2011 yag berada di angka Rp 80 juta dollar AS.

Menurut pengamat, industri perbankan memang akan terus meningkatkan kapasitas penggunaan TI dalam operasional bisnisnya. Managing Director IDC Financial Asia Pacific, Cyrus Daruwala, mengatakan, penerapan sistem TI baru untuk perbankan di Indonesia hingga semester I 2013 memakan biaya hingga 1,5 miliar dollar AS atau setara Rp16,4 triliun.

Menurutnya, rata-rata perbankan Indonesia menghabiskan 30 persen hingga 35 persen anggaran operasionalnya untuk pemasangan dan perawatan sistem TI masing-masing bank. “CIMB Niaga bisa 40-42 persen karena mereka akan mengolaborasikan sistemnya,” ucap Cyrus.

Incar Slot Orbit 150,5

Jika memang rencana itu berjalan mulus maka kemungkinan bank berpeluang memiliki satelit. Dan, jika memilki satelit, harus pula mempunyai slot orbitnya. Sejauh ini yang paling memungkinkan untuk dimiliki adalah slot orbit 150,5 Bujur Timur (BT) yang saat ini tengah dihuni satelit Palapa C2 milik Indosat.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Kominfo telah mengirimkan surat resmi untuk mencabut hak kelola slot orbit yang sebelumnya dipegang ke Indosat. Hal itu akan berlaku efektif persis di hari pertama tahun depan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, setelah pemerintah menarik kembali slot orbit tersebut, lantas mau diserahkan ke mana pengelolaannya? Tifatul Sembiring, Menteri Kominfo tak menampik jika slot orbit yang saat ini masih diisi satelit Palapa C2 Indosat itu diincar banyak perusahaan. “Banyak yang mau, banyak peminat. Memiliki satu slot orbit satelit itu sesuatu yang penting dan tidak mudah untuk mencari orbit baru,” ujar Tifatul, tanpa menyebut peminat yang dimaksud.

Beredar kabar, slot orbit 150,5 BT diinginkan oleh konsorsium perbankan yang ingin memiliki satelit sendiri untuk jalur komunikasi. Bahkan kabarnya ada kekuatan besar yang ikut bermain. Indosat sendiri tak menampik kabar ini. “Namanya juga usaha, boleh dong. Ada yang main gila. Memangnya gampang mau narik satelit?” tukas CEO Indosat, Alex Rusli dalam suatu perbincangan.

Maka dari itu, Alex Rusli menegaskan, Indosat tidak hanya berupaya untuk mempertahankan slot orbit 150,5 BT agar tetap menjadi milik Indonesia, namun juga untuk meningkatkan nilai slot orbit tersebut.

Beberapa langkah konkret yang dilakukan di antaranya adalah menandatangani perjanjian awal dengan Orbital Sciences. Perjanjian ini, kata Alex Rusli, merupakan bagian dari kontrak yang akan ditandatangani dan disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

“Kerja sama kami dengan Orbital Sciences memastikan bahwa satelit yang baru akan diluncurkan dalam waktu 26 bulan sejak kontrak ditandatangani. Dengan demikian satelit sudah akan berada di orbit dalam waktu yang cukup sebelum deadline ITU,” kata Alex.

Namun upaya Indosat akan menjadi sia-sia, jika Kemenkominfo bersikukuh mencabut penggunaan slot orbit 150,5 BT tersebut, dan memberinya kepada pihak lain, tepatnya pada 1 Januari 2014 nanti. Menurut seorang pejabat di Kominfo, pemerintah telah menunjuk BRI untuk mengambil alih penggunaan slot satelit tersebut. Rencananya, Kementerian Pertahanan akan ikut memanfaatkan sebagian kapasitas transponder satelit BRI nantinya untuk operasi strategis.

Sementara Sekretaris Perusaan BRI, Muhammad Ali mengatakan, BRI akan sangat siap jika diberikan kepercayaan tersebut. Namun pihaknya belum mau memberikan pernyataan lebih lanjut. “Nanti tanya ke Kemkominfo saja,” kata Ali.

Sebelumnya Direktur Penetapan Frekuensi dan Sumber Daya Kemkominfo, Titon Dutono menegaskan bahwa manajemen BRI sudah menyatakan keinginannya untuk punya satelit sendiri karena kebutuhan layanan perbankan perusahaan yang semakin meningkat. “BRI merasa tidak cukup hanya dengan menyewa,” jelas Titon.

  • Baca juga: Bedah Kriteria GRE Fitch: Ketergantungan Mutlak DIM pada Likuiditas Dividen BUMN

Rencananya, kata Titon, BRI akan menggunakan sebagian dari 36 transponder pada satu satelit untuk menunjang aktivitas perbankan. Sisa transponder akan dialokasikan untuk kebutuhan pemerintah, seperti Kementerian Pertahanan, Dinas Pendidikan, dan Kemkominfo.

Menteri BUMN Dahlan Iskan pun telah memberikan lampu hijau kepada bank BUMN seperti BRI dan Bank Mandiri mempunyai satelit sendiri. Dengan adanya satelit sendiri bank pelat merah tersebut akan lebih aman dari sisi sekuritisasi dibandingkan dengan menggunakan satelit luar. “BRI dan Mandiri punya satelit sendiri saya setuju. Kebutuhan Indonesia akan satelit itu besar,” ucap Dahlan.

 
 
 
 
 
Previous Post

Angka-Angka Asumsi itu

Next Post

Akuisisi Inalum Menyambut Anggota ke 105

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Himpun 131 CEO Global dan Peraih Nobel, Danantara Gelar Forum Investasi DTIIF 2026

Himpun 131 CEO Global dan Peraih Nobel, Danantara Gelar Forum Investasi DTIIF 2026

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 08:21

Danantara menggelar DTIIF 2026 di Fairmont Jakarta dengan mempertemukan 131 CEO teknologi dunia dan peraih Nobel guna membiayai enam sektor...

Sinergi BNI dan InJourney, Layanan Asistensi Bandara Joumpa Kini Hadir di Aplikasi wondr

Sinergi BNI dan InJourney, Layanan Asistensi Bandara Joumpa Kini Hadir di Aplikasi wondr

by Stella Gracia
2 Oktober 2026 - 14:09

BNI menggandeng InJourney Aviation Services (IAS) untuk menghadirkan layanan asistensi bandara Joumpa langsung melalui aplikasi digital wondr by BNI. Stabilitas.id...

Bedah Kriteria GRE Fitch: Ketergantungan Mutlak DIM pada Likuiditas Dividen BUMN

Bedah Kriteria GRE Fitch: Ketergantungan Mutlak DIM pada Likuiditas Dividen BUMN

by Stella Gracia
22 September 2026 - 10:47

PT Danantara Investment Management (DIM), Fitch Ratings, peringkat utang BBB, prospek negatif, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, tata kelola...

Rasio Modal Negatif, OJK Cabut Izin Usaha PT BPRS Gaido Indonesia

Dorong Konsep Total Building Solution, SIG Buka Prospek Positif Pasar Semen 2H26

by Stella Gracia
3 September 2026 - 22:37

SIG mencatatkan lonjakan laba bersih 471% yoy menjadi Rp228 miliar pada Semester I/2026, ditopang kenaikan pendapatan Rp17,65 triliun dan penurunan...

Kontongi Ijin Efektif dari OJK, ADHI Optimis Kinerja Tumbuh Berkelanjutan Pasca Rights Issue

Konsolidasi 7 BUMN Karya Jadi 3 Entitas Dikebut, Dony Oskaria Jamin Tanpa Pemutusan Hubungan Kerja

by Stella Gracia
1 September 2026 - 11:34

Danantara percepat merger 7 BUMN Karya menjadi 3 entitas, termasuk penggabungan PTPP dan Adhi Karya. COO Danantara Dony Oskaria pastikan...

Perkuat Ekonomi hingga Literasi Warga Surabaya, Patra Logistik Gandeng Unair

Masuk Ekosistem Danantara, Semen Indonesia (SMGR) Pacu Penyediaan Bahan Bangunan Terjangkau

by Stella Gracia
31 Agustus 2026 - 11:14

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menghadirkan inovasi Bata Interlock Presisi untuk mendukung percepatan Program 3 Juta Rumah dan efisiensi...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
OJK Rilis Regulasi Interkoneksi Keuangan Syariah di 2014

OJK Rilis Regulasi Interkoneksi Keuangan Syariah di 2014

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance