Stabilitas.id – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian makroekonomi global, komitmen untuk menjaga tingkat kepercayaan pasar dinilai menjadi kunci krusial dalam mengamankan arus modal asing. Sentimen positif tersebut ditegaskan oleh Pendiri Artha Graha Peduli, Tomy Winata, yang mengajak para pelaku usaha untuk tetap optimistis melihat prospek pertumbuhan ekonomi domestik.
Tomy menekankan bahwa posisi geografis yang strategis dan peran vital Indonesia sebagai salah satu poros komoditas dunia merupakan modal kuat yang membuat tanah air mempertahankan daya pikatnya di mata investor global.
“Indonesia itu tetap bagus dan memiliki nilai prestise bagi investor. Posisi kita sangat strategis dan dibutuhkan dunia. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus percaya diri,” tegas Tomy Winata dalam peluncuran rangkaian perayaan HUT ke-36 Discovery Kartika Plaza Hotel di Bali, dikutip Rabu (24/6/2026).
Pasar Domestik: Tameng Gejolak Eksternal
Merespons pandangan tersebut, Peneliti Senior Populi Center Yugolastarob Komeini menilai sikap optimistis dari pelaku usaha kelas kakap seperti Tomy Winata sangat beralasan dan didukung oleh indikator fundamental yang kokoh.
Indonesia dinilai beruntung karena memiliki basis kekuatan konsumsi domestik yang ditopang oleh populasi lebih dari 270 juta jiwa. Struktur demografi ini menjadi tameng atau bantalan alami (buffer) yang membuat pertumbuhan ekonomi nasional jauh lebih tangguh menghadapi guncangan resesi global, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang strukturnya sangat bergantung penuh pada kinerja ekspor.
Perencanaan Matang
Yugolastarob menambahkan, implementasi UU Cipta Kerja dan efisiensi birokrasi lewat platform OSS terbukti memberikan kepastian hukum yang sangat dicari oleh investor institusional. Kendati demikian, pesan optimisme dari dunia usaha ini tetap harus berjalan beriringan dengan manajemen risiko (risk management) yang terukur.
Pemerintah dan pelaku usaha masih dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah (PR) struktural untuk mempercepat realisasi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru dunia. Tantangan tersebut mencakup penguatan sektor manufaktur, peningkatan kualitas keterampilan SDM, efisiensi rantai pasok logistik, hingga komitmen pembiayaan pada sektor ekonomi hijau (green economy).
Lahirnya narasi positif dari tokoh pengusaha dinilai memberikan dorongan psikologis yang penting bagi pasar modal dan sektor riil, guna memastikan ekspansi korporasi di tingkat akar rumput tetap berjalan ekspansif dan berkelanjutan di sisa tahun buku 2026. ***

















