Dinamika di industri jasa pengiriman berkembang mengikuti perkembangan teknologi dan komunikasi. Demi terus bertahan dalam perubahan dan perkembangan itu, PT. Pos Indonesia terus melakukan transformasi baik produk maupun jasa layanan. Pengalaman masa lalu pun menjadi pijakan untuk mengembangan PT. Pos Indonesia ke depan
Siapa di antara kita yang tidak mengenal PT Pos Indonesia. Perusahaan milik negara yang pada 26 Agustus silam genap berusia 265 tahun itu tidak terpisahkan dari evolusi komunikasi di Indonesia. Ketika surat menyurat masih populer, kehadiran “tukang Pos” yang setia mengantar surat dan paket sampai ke tujuannya selalu dinanti.
Tidak hanya itu, sebagai sebuah entitas, Pos Indonesia selama lebih dari dua setengah abad telah membuktikan ketangguhan untuk menghadapi berbagai tantangan. Berdiri pada zaman sebelum kemerdekaan, PT Pos kemudian menjadi salah satu simbol perjuangan. Kemudian pasca kemerdekaan, PT Pos selalu menemani denyut nadi kehidupan masyarakat dan kemudian menjadi pelayan komunikasi di antara warga masyarakat dan antara masyarakat dengan Pemerintah.
BERITA TERKAIT
Sejarah panjang inilah yang dijadikan modal berharga bagi badan usaha milik negara itu untuk menata masa depannya. Tidak berlebihan jika kemudian dalam perayaan ulang tahun ke-265 tahun diangkat tema learning from the past, developing for the future.
Kalimat singkat itu menegaskan mengenai upaya PT Pos menghadapi perubahan, langkah transformasi yang dilakukan dan cita-cita yang ingin dicapai. “Kami memanfaatkan waktu yang lama itu untuk belajar tentang bagaimana PT Pos Indonesia bisa bertahan hidup, menghadapi berbagai situasi dan perubahan. Satu hal yang kami rasakan adalah ternyata PT Pos Indonesia selalu mempunyai nilai yang bisa dimanfaatkan untuk mendahului jamannya,” tandas Wakil Direktur Utama PT Pos Indonesia Sukatmo Padmosukarso.
Oleh karena itu saat dunia berubah dengan munculnya revolusi teknologi informasi yang mengikis kegiatan surat menyurat secara fisik dan digantikan dengan e-mail, telepon atau layanan pesan singkat, PT Pos tidak gamang. Dengan mentransformasikan dirinya menghadapi perubahan itu, PT Pos terbukti bertahan.
Kuncinya adalah memanfaatkan nilai-nilai yang sudah meresap di dalam diri PT Pos sendiri selama ini. Ya, badan usaha yang ternama dengan simbol burung merpati ini bertumpu pada empat nilai-nilai yang digunakan sebagai sumber kekuatan.
Pertama, kekuatan fisik berupa jaringan kantor di seluruh Indonesia. Kedua, jaringan fisik yang terhubung lewat moda transportasi darat, laut dan udara. Ketiga, jaringan virtual seiring dengan teknologi komunikasi yang canggih dan keempat berupa sumber daya manusia yang sudah teruji.
Transformasi PT Pos yang pada 1995 berubah bentuk menjadi Perseroan Terbatas terlihat dari produk-produk yang dikembangkan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Sebut saja jasa pengiriman uang lewat Wesel. Kalau dulu, dalam proses pengiriman wesel harus tersedia kertas yang dikirim kemudian ketika sampai di tempat tujuan, sebagian kertasnya disobek, baru uangnya dibayar.
Tetapi sekarang dengan adanya teknologi pengiriman data secara virtual, waktu yang dibutuhkan semakin singkat. Pelanggan tinggal datang ke kantor pos, kirim uang, kemudian mendapat nomor identitas pribadi atau PIN, pada saat yang sama juga menghubungi orang yang dituju untuk langsung mengambil uang di kantor pos terdekat hanya dengan menunjukan nomor PIN yang telah dikirim.
Demikian juga dengan pengiriman paket. Pelanggan Pos sekarang ini sudah bisa memantau perjalanan barang hingga sampai ke tempat tujuan. “Ini dimudahkan karena setiap kali barang tersebut berpindah, barcode-nya akan ditembak sehingga akan dengan mudah terdeteksi sudah sampai mana,” kata Sukatmo. Selain itu seiring dengan surat-menyurat yang sudah mulai ditinggalkan, perseroan yang mendapat penghargaan dari Indonesia Brand Champion 2011 sebagai The Best Popular Logistic & Best Logistic telah mengembangkan produk AdMail.
Sukatmo menerangkan, jika sebuah perusahaan sebut saja Bank Mandiri hendak menerbitkan surat tagihan kartu kredit atau mengirim PIN dan lainnya kepada nasabah, tidak perlu lagi repot mencetak surat dan menyewa kurir mengantarnya. “Serahkan semua itu ke PT Pos yang sudah memiliki pabrik yang dinamakan AdMail. Bank Mandiri cukup memberikan database dalam bentuk USB, lalu PT.Pos Indonesia yang akan mencetaknya, memasukannya ke amplop dan mengirim kemudian memberi laporan. Semuanya diselesaikan di kantor pos,” jelas Sukatmo yang sebelumnya lama menggeluti profesi sebagai bankir ini.
Bahkan Sukatmo mengatakan bahwa produk unggulannya itu telah berpengalaman dalam mendukung berbagai aktivitas usaha, baik di harus tersedia kertas yang dikirim kemudian ketika sampai di tempat tujuan, sebagian kertasnya disobek, baru uangnya dibayar. Tetapi sekarang dengan adanya teknologi pengiriman data secara virtual, waktu yang dibutuhkan semakin singkat. Pelanggan tinggal datang ke kantor pos, kirim uang, kemudian mendapat nomor identitas pribadi atau PIN, pada saat yang sama juga menghubungi orang yang dituju untuk langsung mengambil uang di kantor pos terdekat hanya dengan menunjukan nomor PIN yang telah dikirim.
Demikian juga dengan pengiriman paket. Pelanggan Pos sekarang ini sudah bisa memantau perjalanan barang hingga sampai ke tempat tujuan. “Ini dimudahkan karena setiap kali barang tersebut berpindah, barcode-nya akan ditembak sehingga akan dengan mudah terdeteksi sudah sampai mana,” kata Sukatmo.
Selain itu seiring dengan surat-menyurat yang sudah mulai ditinggalkan, perseroan yang mendapat penghargaan dari Indonesia Brand Champion 2011 sebagai The Best Popular Logistic & Best Logistic telah mengembangkan produk AdMail.
Sukatmo menerangkan, jika sebuah perusahaan sebut saja Bank Mandiri hendak menerbitkan surat tagihan kartu kredit atau mengirim PIN dan lainnya kepada nasabah, tidak perlu lagi repot mencetak surat dan menyewa kurir mengantarnya. “Serahkan semua itu ke PT Pos yang sudah memiliki pabrik yang dinamakan AdMail. Bank Mandiri cukup memberikan database dalam bentuk USB, lalu PT.Pos Indonesia yang akan mencetaknya, memasukannya ke amplop dan mengirim kemudian memberi laporan. Semuanya diselesaikan di kantor pos,” jelas Sukatmo yang sebelumnya lama menggeluti profesi sebagai bankir ini.

Sukatmo Padmosukarso, Wakil Direktur Utama PT. POS
Jejak Langkah Sang Merpati
Pos Indonesia adalah penyelenggara layanan pos yang telah beberapa kali mengalami perubahan status dimulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone) yakni badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan dan operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Hingga kini, statusnya telah lima kali mengalami perubahan sampai pada status Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).
PT Pos yang memiliki simbol burung merpati memiliki jaringan yang semakin berkembang dan sampai sekarang terdapat sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau seluruh kota atau kabupaten di Indonesia, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan/desa, serta lokasi transmigrasi. Pemanfaatan teknologi telah membangun 3.800 kantor pos online, dilengkapi sejumlah electronic mobile pos di beberapa kota besar. Jaringannya membentuk rantai yang terhubung satu sama lain secara solid dan terintegrasi, dilengkapi dengan sistem Kode Pos yang mampu mengidentifikasi secara akurat setiap jengkal alamat.
Bisnis operator perposan terkemuka ini terbagi menjadi 3 (tiga) bisnis utama, yakni mail (surat dan paket), logistik, dan jasa keuangan. Di bidang jasa keuangan, kesuksesannya dibidang jasa keuangan yang tahun ini terlihat tumbuh cukup tajam, hingga optimis memposisikan Pos Indonesia sebagai National Payment System.
Perusahaan ini sekarang telah menjadi “the bank for the unbank society”. Unbank society atau cash based society yang berjumlah sekitar 200 juta dibanding 40 juta penduduk yang memiliki rekening bank, kelompok menengah ke bawah mayoritas berdomisili di wilayah pedesaan menjadi sasaran dan target.
Untuk urusan bisnis logistik, ketersebaran jaringan di Nusantara membuat PT Pos Indonesia optimistis akan dapat berperan sebagai “National Backbone Logistic” yang mampu mendukung pergerakan bisnis dan pertumbuhan industri dari Papua sampai Nangroe Aceh Darussalam (NAD).
MENGEDEPANKAN MANAJEMEN RISIKO
Langkah PT Pos tidak berhenti sampai di situ. Demi menyongsong perubahan dan persaingan bisnis yang makin sengit di masa-masa mendatang, perseroan kembali merumuskan visi dan misi baru untuk masa 2011-2015. Dengan makin banyaknya kompetitor dan makin tingginya kebutuhan akan kecepatan dalam pelayanan, motto yang diangkat perseroan pun makin meyakinkan yakni Tepat waktu setiap waktu. “Kompetitor kita memang lebih cepat karena jumlahnya sedikit dan dalam dalam beberapa tahun terakhir dipersepsikan PT Pos lamban, tidak konsisten. Kita mau mengubahnya dan mau mengatakan bahwa kita bisa tepat waktu, cepat dan aman dan terpercaya. Ini suatu nilai yang ingin kita jual,” jelas Sukatmo mengenai makna dari motto perseroan.
Dengan belajar dari pengalaman masa lalu, perseroan yang kini di bawah manajemen baru juga melakukan terus transformasi. Salah satu yang dilakukan adalah dengan mengedepankan manajemen risiko. Kerugian yang dialami perseroan pada periode-periode sebelumnya salah satunya diakibatkan oleh kurang mampunya mengantisipasi risiko dari munculnya perubahan pasar, situasi sosial dan ekonomi dan lainnya.
Oleh karenanya ketika manajemen baru dilantik pada 2009 silam, mandat dari pemegang saham sangat jelas yakni melakukan revitalisasi sehingga menjadi perusahaan yang menguntungkan. Dan sejalan dengan itu, kini PT Pos mengembangkan manajemen risiko untuk mengantisipasi risiko-risiko seperti rusak, tidak tepat sasar, lamban dan lainnya.
Menurut Sukatmo meski risiko yang menonjol di usaha titipan ini adalah risiko operasional tetapi risiko ini sangat kompleks bahkan melebihi semua risiko yang ada di perbankan. Saat ini manajemen risiko bergabung dengan divisi kepatuhan (compliance) yang berhubungan dengan Good Corporate Governance.
Untuk membentengi manajemen risiko di PT Pos, saat ini manajemen tengah fokus pada penguatan first line of defence. Akhirnya yang menjadi muara dari semua itu adalah cita-cita untuk menjadikan PT. Pos Indonesia sebagai jadi perusahaan yang lebih sehat dan menguntungkan. Juga menjadikan PT Pos sebagai perusahaan terkemuka dalam layanan jasa kurir, jasa transaski keuangan dan perusahaan pos dan telekomunikasi terbesar di Asia tenggara.SP/adv





.jpg)










