JAKARTA, Stabilitas – Industri sawit nasional dalam dua tahun terakhir memang tengah dirundung masalah. Kondisi harga yang terus bergejolak dan cenderung tertekan, dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta berbagai kampanye hitam (black champagne) dari Uni Eropa terhadap komoditas sawit terus menjadi sentimen negatif yang mengepung bisnis kelapa sawit Tanah Air.
Belum lagi kebijakan baru pemerintah yang menerapkan moratorium terhadap izin pembukaan lahan sawit baru, sehingga perusahaan sawit dapat dipastikan belum akan bisa berekspansi untuk sementara waktu. “Memang kondisinya sedang sulit untuk saat ini. Hampir semua (pengusaha sawit) mengalami tekanan yang cukup berat. Tapi sebagai pemain lama yang sudah punya pengalaman dan rekam jejak sangat panjang, kami masih sangat yakin (harga minyak sawit mentah) akan kembali bagus,” ujar Direktur PT Eagle High Plantations Tbk, Henderi Djunaidi, di Jakarta, pekan lalu.
Dalam pandangan emiten berkode BWPT ini, komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) merupakan salah satu jenis komoditas bisnis yang sifatnya jangka panjang. Dengan demikian, adalah hal wajar ketika di tengah-tengahnya terjadi fluktuasi harga yang digerakkan oleh sentimen sesaat.
“Berdasarkan pengalaman bisnis sawit itu sifatnya long term, sehingga tidak kaget ketika dalam perjalanannya terjadi volatilitas harga. Itu pasti sifatnya temporer, dan ketika kita tarik garis lurus secara jangka panjang, kami yakin tren harga CPO masih akan terus mengalami kenaikan,” tutur Henderi.
Keyakinan tersebut, menurut Henderi, salah satunya didasarkan pada pertumbuhan jumlah populasi dan juga peningkatan konsumsi CPO yang tengah terjadi di Asia dan Afrika. Selain itu, dampak lain dari moratorium ijin pemerintah adalah membuat supply CPO di pasar bakal menjadi terbatas, sehingga dengan sendirinya tentu akan mendongkrak harga.
“Lalu juga rencana implementasi B20 menjadi B30, yang artinya kebutuhan terhadap minyak sawit bakal bertambah, sehingga otomatis bakal mengerek harga CPO di pasar. Ini semua berujung pada kesimpulan bahwa tren harga (CPO) ke depan masih akan bagus. Kami yakin itu,” tegas Henderi.

















