OJK bersama kementerian canangkan Bulan Dana Pensiun 2026 untuk tingkatkan literasi dana pensiun yang baru 22% dan siapkan masyarakat hadapi aging population.
Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama berbagai pemangku kepentingan resmi meluncurkan inisiatif Bulan Dana Pensiun 2026 di Kawasan Senayan, Jakarta (6/9/2026). Gerakan nasional berslogan “Muda Berkarya, Tua Bahagia” ini bertujuan menumbuhkan literasi serta inklusi finansial, guna mempersiapkan masyarakat—khususnya kelompok pekerja mandiri dan informal—dalam menghadapi masa purnabakti yang mandiri dan tidak membebani perekonomian.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyoroti rendahnya literasi dana pensiun yang baru menyentuh angka 22%, jauh di bawah rata-rata tingkat literasi keuangan nasional yang sudah berada di level 69%.
“Tapi ini tentunya PR-nya adalah enggak cuma membesarkan dana kelolaan dana pensiun, tapi meningkatkan kepesertaannya. Apalagi sekarang banyak masyarakat kita lebih memilih enggak jadi pegawai, banyak pekerja mandiri dan lain-lain,” ungkap Friderica.
BERITA TERKAIT
Oleh karena itu, kampanye sebulan penuh ini akan diisi dengan lebih dari 104 kegiatan literasi dan inklusi yang tersebar di berbagai daerah—mulai dari seminar, konsultasi perencanaan pensiun, hingga kampanye digital yang menyasar pekerja formal, informal, UMKM, perempuan, hingga generasi muda.
Tingkatkan Replacement Ratio Hadapi Ledakan Lansia
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menegaskan urgensi mendongkrak replacement ratio (rasio penggantian pendapatan pensiun) melalui kerja sama lintas program—baik dari program wajib negara (BPJS/TASPEN/ASABRI) maupun program sukarela via Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).
“Peningkatan replacement ratio tidak dapat hanya mengandalkan satu program atau satu lembaga,” tegas Ogi. Ia menambahkan, persiapan pensiun kian krusial karena tingginya inflasi, biaya kesehatan, serta perubahan demografi di mana Indonesia telah memasuki fase ageing population (penuaan populasi) sejak 2021. Tanpa persiapan finansial, ledakan jumlah lansia ini berisiko menambah beban ekonomi bagi kelompok usia produktif.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan komitmen pemerintah untuk memperluas cakupan perlindungan sosial, khususnya bagi 60% pekerja dari total 155 juta angkatan kerja yang saat ini terserap di sektor informal.
“Sekarang kita ada bonus demografi dan tidak berapa lama lagi kita akan menuju kepada aging population… Dan tentu kita menginginkan bahwa mereka bisa tetap berkarya. Mereka tidak tergantung dari para pekerja yang produktif,” papar Yassierli.
Hal senada diungkapkan Menteri PAN-RB, Rini Widyantini, yang mengingatkan bahwa persiapan masa purnabakti sejatinya harus dilakukan “sejak mulai bekerja,” bukan mendekati masa pensiun.
Bulan Dana Pensiun 2026 ini diharapkan tak hanya melindungi masyarakat di usia senja, tetapi juga memobilisasi dana jangka panjang untuk memperdalam pasar keuangan dan menyokong pembiayaan produktif ekonomi nasional. ***

















