BRI Wealth Management dan Syailendra Capital menggelar Sharia Wealth Forum 2026 guna menawarkan strategi diversifikasi portofolio lewat instrumen investasi syariah.
Stabilitas.id – Kolaborasi strategis kembali dijalin PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) bersama PT Syailendra Capital guna merespons dinamika pasar modal. Kedua entitas keuangan ini sukses menyelenggarakan perhelatan Sharia Wealth Forum 2026 bertajuk “Navigating Opportunities Through Sharia Investment” di Shangri-La Hotel, Jakarta, pada Rabu (9/9/2026). Forum eksklusif ini menyajikan ragam perspektif tajam seputar dinamika pasar sekaligus membedah peluang investasi syariah bagi nasabah tajir segmen BRI Prioritas dan BRI Private.
Direktur Consumer Banking BRI, Aris Hartanto, memaparkan bahwa gejolak ekonomi dan pasar mutlak menuntut para investor untuk meracik ulang portofolionya secara cermat. Investor saat ini harus menghitung secara presisi potensi imbal hasil, profil risiko, ketersediaan likuiditas, hingga peta jalan tujuan finansial dalam setiap pengambilan keputusan penempatan dana.
“Kondisi ekonomi dan pasar terus bergerak dinamis. Bagi investor, situasi seperti ini tentu menghadirkan tantangan, tetapi di saat yang sama juga membuka berbagai peluang,” ungkap Aris membedah lanskap investasi terkini.
BERITA TERKAIT
Aris pun menekankan urgensi bagi nasabah untuk melihat ekosistem investasi secara lebih menyeluruh, bukan sekadar memburu potensi imbal hasil semata. “Semakin penting bagi kita untuk melihat investasi secara lebih menyeluruh, tidak hanya mengejar potensi imbal hasil, tetapi juga bagaimana menata portofolio, menjaga likuiditas, dan mengelola risiko sesuai dengan tujuan finansial masing-masing,” tambahnya.
Kehadiran instrumen syariah rupanya tidak lagi sebatas mengakomodasi preferensi religius nasabah, melainkan telah berevolusi menjadi instrumen taktis untuk diversifikasi portofolio. Forum investasi ini secara komprehensif membekali nasabah dengan wawasan mutakhir seputar tren pasar modal syariah, prinsip dasar pengelolaan dana syariah, hingga kurasi pilihan reksa dana syariah yang paling prospektif.
Manajemen BRI Wealth Management turut menerjunkan layanan advisory atau pendampingan profesional guna mengawal nasabah merumuskan racikan aset terbaik. Skuad Relationship Manager dari BRI Prioritas dan BRI Private selalu bersiaga mendampingi nasabah dalam mengevaluasi berbagai alternatif peluang sebelum mereka mengeksekusi strategi penempatan modal.
“Pengelolaan investasi tidak berhenti pada memilih instrumen, tetapi bagaimana setiap keputusan ditempatkan dalam strategi portofolio yang tepat. Kami ingin nasabah memiliki perspektif yang utuh dalam melihat setiap alternatif, termasuk investasi syariah, sebelum menentukan pilihan,” tegas Aris kembali.
Senada dengan pandangan tersebut, CEO Syailendra Capital, Fajar R. Hidajat, menangkap sinyal positif dari volatilitas pasar belakangan ini. Koreksi pasar pada paruh pertama 2026 justru membuka celah bagi munculnya valuasi aset yang jauh lebih menarik dengan tawaran imbal hasil yang sangat kompetitif.
“Memasuki paruh kedua 2026, kita melihat lanskap investasi yang semakin kompleks. Kondisi market yang dinamis membuat kita semakin sadar bahwa pengelolaan aset dan wealth management sangat penting,” papar Fajar mengurai analisisnya.
Fajar meyakini fase paska-koreksi ini merupakan momentum paling ideal bagi investor untuk membongkar dan mengevaluasi kembali struktur portofolio mereka. “Paruh pertama 2026 memberikan tekanan yang cukup besar. Namun setelah koreksi yang signifikan, kita mulai melihat munculnya peluang baru dari valuasi yang lebih menarik dan imbal hasil yang lebih kompetitif. Karena itu, bagi kami, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi kembali portofolio secara lebih objektif,” tuturnya.
Kinerja impresif bisnis pengelolaan kekayaan BRI nyatanya mengonfirmasi besarnya animo masyarakat terhadap layanan investasi perseroan. Pertumbuhan jumlah investor baru pada layanan BRI Wealth Management sukses meroket hingga 280,68 persen hingga triwulan II 2026. Laju angka yang fantastis tersebut berbanding lurus dengan lonjakan dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) reksa dana yang terkerek naik 46,94 persen. Infrastruktur layanan wealth management milik bank pelat merah ini kini bertumpu kuat pada 43 outlet layanan prima dan 152 Priority Lounge yang tersebar masif di seluruh penjuru Nusantara. ***

















