OJK terus bersinergi memperkuat literasi keuangan serta kecakapan digital pelajar sejak dini sebagai fondasi strategis mencetak generasi cerdas finansial menuju Indonesia Emas 2045.
Stabilitas.id – Selama berpuluh-puluh tahun, konsep menabung bagi sebagian besar anak sekolah di pelosok Tanah Air nyaris tak pernah beranjak dari tradisi lama. Aktivitas menyisihkan uang selalu identik dengan sisa koin uang jajan yang dimasukkan secara sembunyi-sembunyi ke dalam celengan plastik berbentuk ayam jago atau gerabah tanah liat yang harus dipecahkan di akhir tahun. Namun, sebuah pemandangan yang mematahkan kebiasaan usang tersebut tersaji begitu nyata di ruang kelas Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Provinsi Sulawesi Selatan pada akhir September lalu.
Di sela-sela riuhnya kegiatan edukasi terpadu bertajuk BNI Sahabat Sekolah Rakyat yang diselenggarakan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), tangan mungil Selfi Nawawi N, seorang siswi kelas dua SMA, tampak begitu antusias menggenggam sebuah buku tabungan perbankan. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu ketika ia menyadari satu hal baru yang mendasar: akses ke layanan finansial resmi dan perbankan modern bukanlah hak istimewa yang hanya diperuntukkan bagi orang dewasa yang telah mapan bekerja.
“Ternyata kita bisa menabung menggunakan buku rekening meskipun belum kerja. Saya ingin mempunyai tabungan yang banyak untuk dipakai kuliah nantinya,” tutur Selfi dengan nada polos namun sarat akan tekad kemandirian.
BERITA TERKAIT
Rasa takjub yang dialami Selfi di sudut Sulawesi tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Momen itu adalah hasil dari pendekatan experiential learning atau praktik belajar langsung yang sengaja diusung oleh BNI. Guru Biologi SMA SRT 3, Tiyah Wasma Terru, menjadi saksi hidup bagaimana metode aplikatif ini sukses memantik antusiasme luar biasa dari para muridnya. Tiyah mengamati betapa tingginya rasa ingin tahu para siswa saat mereka untuk pertama kalinya berkesempatan memindai kartu identitas cerdas (ID card) yang terintegrasi, memegang buku tabungan atas nama mereka sendiri, serta memahami mekanisme pencatatan saldo digital.
Tiyah mengakui, melihat rupa nominal uang di dalam sistem perbankan modern dan mempraktikkan pengelolaan limbah sekolah secara nyata memberikan dampak kognitif yang jauh lebih membekas di benak para siswa, dibandingkan sekadar imbauan normatif di depan papan tulis kelas.

Paradoks Angka dan Perisai Literasi Digital
Di balik gegap gempita pergerakan membumikan budaya menabung di ujung timur Indonesia tersebut, tersimpan sebuah pekerjaan rumah berskala nasional yang sangat mendesak. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menyingkap sebuah realitas yang sarat akan paradoks. Tingkat inklusi atau kepemilikan rekening di kalangan pelajar memang telah meroket tajam hingga mencapai angka 92,76 persen.
Sayangnya, tingginya angka kepemilikan akses ini ternyata tidak dibarengi dengan fondasi melek finansial yang memadai. Indeks literasi pada kelompok pelajar dan mahasiswa terpantau baru menyentuh angka 62,72 persen, masih tertinggal jika dikomparasikan dengan rata-rata indeks literasi nasional. Memiliki instrumen keuangan tanpa pemahaman yang utuh ibarat memberikan kemudi kendaraan kepada seseorang yang belum memahami rambu-rambu lalu lintas. Risiko dari kesenjangan ini kian mengerikan ketika dihadapkan pada ledakan era digital, di mana generasi muda kerap menjadi target empuk kejahatan siber (scam) berkedok investasi cepat kaya.
Menyadari ancaman mematikan ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun langsung untuk membentengi para siswa. Mengambil momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, OJK menggelar program edukasi terpadu OJK Digiclass Sekolah Rakyat 2026 dengan tema “Saatnya Berkarya, Ciptakan Prestasi” di Aula Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Jakarta. Di hadapan 500 pelajar yang hadir, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan peringatan tegas mengenai urgensi perlindungan berlapis di dunia maya.
Friderica meyakini bahwa literasi keuangan yang tangguh akan menjadi sangat rapuh tanpa adanya perisai kecakapan digital. “Jadi kelas ini spesial. Tidak cuma belajar tentang keuangan, tapi mengajarkan juga bagaimana kalian paham digital literacy dan financial literacy. Dua hal itu kalau dikombinasikan akan menjadi suatu pengetahuan dan keterampilan yang sangat dahsyat untuk masa depan kalian,” tegas Friderica sembari menobatkan para pelajar yang hadir sebagai Duta Literasi Keuangan agar kelak mereka mampu mengedukasi ekosistem di sekitarnya.
Pesan perlindungan yang digaungkan OJK turut diamini oleh Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya. Ia mengingatkan para pelajar bahwa secanggih apa pun teknologi buatan manusia saat ini, termasuk artificial intelligence (AI), hal tersebut murni hanyalah sebuah alat bantu. Kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa, dan tidak boleh, menumpulkan insting, logika, serta nurani kritis manusia seutuhnya dalam mengambil setiap keputusan finansial. Langkah nyata OJK ini pun menuai apresiasi tinggi dari Ketua Komisi Informasi Pusat (KIP) Handoko Agung Saputro, yang memandang bahwa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa lewat inisiatif Sekolah Rakyat sangat sejalan dengan visi pemerataan akses pendidikan nasional.

Pramuka dan Fondasi Karakter Bangsa
Selain memperkuat benteng pertahanan dari paparan risiko digital, OJK juga menempuh jalur kultural yang lebih masif untuk memastikan budaya menabung mengakar kuat dalam denyut nadi generasi penerus. Salah satu langkah paling strategis adalah menginfiltrasi pendidikan karakter massal melalui institusi Gerakan Pramuka.
Pada medio Agustus lalu, OJK berhasil menyulap area Jambore Nasional (Jamnas) XII di Bumi Perkemahan Cibubur menjadi sebuah “Kampung Finansial” raksasa bagi 7.500 Pramuka Penggalang berusia 11 hingga 15 tahun. Melalui sinergi apik lintas lembaga bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Kemendikdasmen, dan Kwarnas Pramuka, lahirlah program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026 bertajuk “Pramuka Cerdas Keuangan”.
Melalui serangkaian simulasi produk perbankan, permainan edukatif interaktif, hingga program Pramuka Goes to Office, menabung tidak lagi diajarkan sebagai rutinitas kaku menyisihkan uang semata. Aktivitas ini telah naik kelas menjadi metode pembentukan karakter untuk menangkal godaan gaya hidup konsumtif.
“Kunci masa depan itu ada di cara kita mengelola keuangan. Mengelola keuangan secara bijak merupakan jalan menuju kesejahteraan dan kebahagiaan,” papar Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, di hadapan 3.500 peserta talkshow Leaders Insight.
Pandangan esensial ini mendapat sokongan penuh dari Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati, yang menyoroti betapa mendesaknya pergeseran paradigma menabung menjadi pilar karakter bangsa. Selaras dengan hal itu, Wakil Menteri Dikdasmen Prof. Atip Latipulhayat menegaskan bahwa literasi keuangan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Visi besar ini kemudian dijahit rapi oleh Sekjen Kwarnas Pramuka Mayjen TNI (Purn.) Bachtiar Utomo, yang secara cerdas mengintegrasikan pendidikan finansial ke dalam poin ketujuh Dasa Dharma Pramuka—yakni sikap hemat, cermat, dan bersahaja—yang kini diperkuat secara institusional lewat implementasi Syarat Kecakapan Khusus (SKK) Penabung dan SKK Cakap Keuangan.
Pada akhirnya, gagasan mulia dari para otoritas pengawas tersebut akan kembali bermuara pada keseriusan titik eksekusi di lapangan oleh para pelaku industri, sebagaimana yang secara konsisten diwujudkan BNI di Sulawesi Selatan. Keempat pilar strategis yang dibawa BNI, yakni Cerdas Belajar, Cerdas Menabung, Cerdas Sekolah, dan Peduli Bersama, membuktikan bahwa edukasi yang baik harus selalu relevan dengan keseharian penerimanya.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, meyakini bahwa sebagai entitas yang bernaung di bawah ekosistem Danantara Indonesia, langkah BNI ini adalah bagian tak terpisahkan dari desain raksasa pembangunan manusia. “Keseriusan menanamkan budaya menabung sejak usia dini memiliki daya gema yang jauh melampaui sekadar urusan merapikan angka-angka di neraca perbankan atau sekadar mengejar target kuantitatif inklusi dari pemerintah. Ini adalah sebentuk investasi peradaban jangka panjang,” tegas dia.
Memasuki usia delapan dekade dengan napas Swadharma Bhakti Nagara, inisiatif yang dihela BNI bersama OJK menjadi lentera penerang. Sebab, ketika jutaan anak seperti Selfi mulai berani merajut mimpi dan merencanakan masa depan mereka lewat selembar buku tabungan, di detik itulah Indonesia sesungguhnya tengah menabung sebuah generasi tangguh untuk menyongsong Indonesia Emas 2045—generasi yang tak hanya mandiri, namun juga berkarakter kuat dan berdaulat secara utuh di atas kaki finansialnya sendiri. ***

















