Kinerja solid kuartal III 2026 BNI dan Bank Mandiri menjadi katalis positif penopang rebound harga saham perbankan BUMN ke level Rp3.400.
Stabilitas.id – Kinerja keuangan solid PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) pada kuartal III 2026 menjadi katalis positif bagi pemulihan harga saham perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Penguatan fundamental tersebut berhasil meredam tekanan pasar menyusul kekhawatiran investor atas isu reklasifikasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Sebelumnya, sentimen risk-off pemodal global sempat menekan harga saham-saham berkapitalisasi pasar besar, termasuk kelompok bank BUMN. Saham BBNI bahkan sempat terkoreksi ke level Rp2.800-an pada pertengahan Oktober 2026.
Namun, seiring publikasi kinerja keuangan kuartal ketiga yang solid, harga saham BBNI telah berhasil rebound ke kisaran Rp3.400 per saham pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), mendekati posisi sebelum isu MSCI bergulir.
BERITA TERKAIT
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai tekanan terhadap saham Himbara—khususnya BBNI, BBRI, dan BMRI—dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian terkait potensi pergeseran alokasi portofolio dana investasi pasif global. Namun, koreksi tajam tersebut justru memicu daya tarik valuasi saham bank-bank pelat merah.
“Selain itu, investor mulai mencermati valuasi saham perbankan yang relatif lebih menarik setelah koreksi serta ekspektasi terhadap kinerja keuangan kuartal III 2026,” kata Nafan di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Nafan menambahkan bahwa saham perbankan pelat merah memiliki likuiditas yang tinggi, sehingga menjadi pilihan utama investor institusi ketika kembali melakukan akumulasi portofolio.
Daya tahan pemulihan harga saham tersebut ditopang oleh kinerja operasional BNI yang prima. Hingga kuartal III 2026, BNI mencatatkan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar Rp27,5 triliun, tumbuh 11,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pencapaian tersebut didukung pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tumbuh 13,6 persen YoY menjadi Rp33,2 triliun, serta pertumbuhan laba bersih sebesar 6,6 persen YoY menjadi Rp16,1 triliun. Penyaluran kredit BNI meningkat 22,2 persen YoY mencapai Rp992,5 triliun, diiringi kenaikan dana murah (current account savings account/CASA) sebesar 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross membaik ke posisi 1,9 persen.
“Kinerja fundamental yang baik dapat menjadi katalis positif bagi saham BBNI dan BMRI melalui peningkatan ekspektasi laba, penguatan kepercayaan investor, serta potensi penilaian ulang valuasi saham atau re-rating,” jelas Nafan.
Kekuatan fundamental serupa ditunjukkan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,5 triliun atau melesat 20,7 persen YoY hingga September 2026.
Kendati demikian, Nafan mengingatkan investor untuk tetap mencermati kualitas pertumbuhan bank secara menyeluruh, meliputi pergerakan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM), biaya dana (Cost of Fund/CoF), rasio efisiensi (Cost to Income Ratio/CIR), hingga biaya risiko kredit (Cost of Credit).
“Dalam kondisi pasar yang masih sensitif terhadap isu MSCI, respons harga saham tidak selalu langsung mencerminkan kinerja keuangan emiten,” ujar Nafan.
Nafan menyimpulkan bahwa fundamental emiten perbankan cenderung menjadi penopang jangka menengah hingga panjang. Sementara pergerakan jangka pendek masih dipengaruhi oleh konsistensi arus modal asing, stabilitas nilai tukar rupiah, dan kepastian kebijakan indeks global.
“Saya melihat prospek saham-saham Himbara masih menarik untuk dicermati secara selektif, terutama bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang,” pungkas Nafan. ***

















