BI bersama OJK dan APUVINDO menggelar HLM 2026 guna mempercepat implementasi Blueprint PUVA 2030 melalui empat prioritas pendalaman pasar keuangan.
Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO) memperkuat sinergi strategis guna mengakselerasi implementasi Blueprint Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing 2030 (BPPU 2030). Langkah terpadu ini ditempuh untuk menciptakan pasar keuangan domestik yang likuid, efisien, dan berintegritas guna memperkuat transmisi kebijakan moneter serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam High Level Meeting (HLM) BI bersama APUVINDO yang turut melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para pelaku industri perbankan di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Pertemuan tingkat tinggi ini mengusung tema “Perkuat Sinergi, Akselerasi Menuju PUVA Modern dan Maju 2030”.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa fokus pendalaman pasar uang dan valuta asing (PUVA) kini diarahkan dari sekadar penyediaan regulasi menuju peningkatan aktivitas riil transaksi dan pemanfaatan infrastruktur pasar.
BERITA TERKAIT
“Keberhasilan pendalaman PUVA tidak cukup berhenti pada tersedianya ketentuan dan infrastruktur, tetapi harus tercermin dari peningkatan aktivitas transaksi, perluasan partisipasi pelaku pasar yang kompeten, pembentukan harga yang semakin baik, serta penguatan tata kelola dan integritas pasar,” tegas Destry.
Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan bahwa pendalaman pasar keuangan merupakan pilar penting dalam memperluas sumber pembiayaan pembangunan ekonomi. OJK berkomitmen memperkuat sinergi bersama BI dan APUVINDO agar ekspansi instrumen pasar berjalan seiring dengan tata kelola yang baik, transparansi, dan integritas pelaku.
Memasuki tahun 2027, BI dan APUVINDO memetakan empat prioritas strategis untuk mempercepat realisasi BPPU 2030:
Pertama, pengembangan pasar uang difokuskan pada penguatan instrumen Surat Berharga Komersial (SBK) sebagai alternatif pembiayaan sektor riil, perluasan referensi suku bunga acuan INDONIA pada produk keuangan, serta peningkatan likuiditas transaksi Overnight Index Swap (OIS) guna mendukung pembentukan suku bunga pasar yang efisien.
Kedua, pengembangan pasar valuta asing melalui perluasan akses lindung nilai (hedging) berbasis platform VASTRA guna mempermudah akses pemodal global dan meningkatkan daya tarik aset rupiah. Penguatan ini turut menyasar ekosistem mata uang Renminbi melalui Renminbi Clearing Bank untuk mendukung efisiensi transaksi skema Local Currency Transaction (LCT) Indonesia–Tiongkok.
Ketiga, penguatan kapasitas pelaku pasar melalui penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), operasionalisasi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Tresuri Indonesia, serta penegakan kode etik pasar oleh APUVINDO sebagai Self-Regulatory Organization (SRO).
Keempat, optimalisasi infrastruktur pasar keuangan terintegrasi melalui pemanfaatan Central Counterparty (CCP) dan Tri-party Agent Repo guna meningkatkan keamanan transaksi, memitigasi risiko gagal serah, dan memperluas konektivitas pasar keuangan.
Hingga Oktober 2026, APUVINDO telah menaungi 121 anggota institusi yang terdiri atas 105 perbankan serta 16 lembaga nonbank dan penyelenggara infrastruktur pasar keuangan. Melalui konsolidasi terpadu ini, otoritas optimis pasar uang dan valas Indonesia semakin modern dan berdaya saing global menjelang 2030. ***

















