Pemerintah tetapkan BLU Lemigas sebagai pelaksana utama impor migas lewat Perpres 107/2026; Bank Mandiri soroti transparansi biaya di tengah harga Brent US$104.
Stabilitas.id – Pemerintah secara resmi menetapkan Badan Layanan Umum Lemigas sebagai pelaksana utama impor minyak mentah, bahan bakar minyak, dan liquefied petroleum gas yang selama ini dikelola oleh PT Pertamina (Persero). Kebijakan strategis yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2026 ini dirancang untuk memangkas perantara sekaligus memperkuat kepastian pasokan energi nasional di tengah tingginya eskalasi geopolitik global.
Peralihan wewenang tersebut mentransformasi mekanisme pengadaan minyak nasional. Skema tender antarkorporasi atau business to business yang sebelumnya dijalankan Pertamina kini dialihkan menjadi kerja sama antarpemerintah atau government to government serta government to business. Melalui pola baru ini, pemerintah bernegosiasi langsung dengan negara pemasok energi, lalu Pertamina membeli komoditas tersebut dari BLU Lemigas.
Pemerintah menegaskan bahwa skema impor terpusat melalui BLU ini bertujuan menyederhanakan prosedur birokrasi, mengikis keberadaan pihak ketiga, dan meningkatkan posisi tawar negara. Kebijakan ini tidak mengikat badan usaha swasta, sehingga importir swasta tidak diwajibkan mengikuti skema terpusat tersebut.
BERITA TERKAIT
Langkah deregulasi ini menyempurnakan Perpres Nomor 26 Tahun 2026 yang sebelumnya telah memberi ruang bagi BLU untuk melakukan impor migas di samping BUMN. Evaluasi pemerintah menunjukkan mekanisme tender B2B kerap memakan waktu panjang. Dalam sejumlah dinamika pasar, Pertamina kerap gagal mengamankan kargo minyak akibat kalah bersaing dengan pembeli internasional lain yang mengajukan penawaran harga lebih tinggi.
Laporan Daily Economic and Market Review yang dirilis Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyoroti bahwa kebijakan ini muncul saat pasar komoditas energi masih dibayangi volatilitas tajam. Harga minyak mentah dunia ICE Brent terpantau berada di level 104,8 dolar AS per barel, masih mencatatkan kenaikan kumulatif 72,18 persen sejak awal tahun meski sempat terkoreksi harian.
Tingginya harga energi global tersebut turut memberikan tekanan rambatan terhadap stabilitas nilai tukar domestik. Kurs rupiah tercatat berada pada level Rp18.150 per dolar AS akibat berlanjutnya sentimen penghindaran risiko investor global di pasar keuangan negara berkembang.
Ekonom Bank Mandiri menilai skema impor terpusat ini berpeluang mengerek kepastian volume pasokan, namun implementasinya menuntut disiplin tata kelola dan transparansi struktur biaya yang ketat. Keterlibatan Lemigas sebagai simpul baru berpotensi memperpanjang rantai pasok dan berdampak pada formula harga beli Pertamina.
Pemerintah telah memastikan pengadaan komoditas energi ini tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Oleh sebab itu, pelaku industri dan pasar menanti kejelasan sumber pendanaan alternatif, mekanisme pembentukan harga komersial, serta sistem pengawasan terhadap tata kelola BLU Lemigas.
Tim Riset Bank Mandiri memperkirakan dampak jangka pendek dari kebijakan ini masih terbatas karena proses transisi impor belum beroperasi secara penuh. Guna mengantisipasi situasi darurat seperti menipisnya cadangan BBM nasional atau gejolak mendadak di negara mitra produsen, Pertamina tetap diizinkan melakukan pengadaan langsung melalui koordinasi bersama Lemigas.
Mengingat tingginya ketergantungan impor energi Indonesia, kelancaran masa transisi pengalihan wewenang ini menjadi kunci utama dalam menjaga kesinambungan pasokan BBM dan elpiji bagi masyarakat luas. ***
















