Tingginya biaya teknologi informasi (TI) memaksa sejumlah perusahaan memutar otak untuk mencari pembiayaan yang lebih murah. Nah, kehadiran cloud computing (komputasi awan) bisa dijadikan solusi tepat karena menyajikan berbagai aplikasi dalam satu jaringan yang bisa diakses secara cepat, tanpa harus berinvestasi secara besar-besaran.
Oleh: Romualdus San Udika
BERITA TERKAIT
Untuk kebutuhan listrik di rumah, atau kantor, tentunya tidak harus membuat pembangkit listrik sendiri. Yang perlu dilakukan hanya membayar sesuai pemakaian ke operator yang menyediakan listrik, dalam hal ini PLN. Kira-kira demikian juga gambaran sederhana tentang cloud computing (komputasi awan). Itu adalah sebuah metode baru dalam dunia komputer yakni tidak lagi berorientasi pada kinerja komputer di rumah kita, namun semua kegiatan komputasi dilakukan di internet.
Jadi tak perlu investasi besar-besaran untuk sejumlah server, listrik, ruang server, staf operasional, storage/prosesor, software dan biaya terkait pengelolaan infrastruktur teknologi informasi (TI) lainnya. Yang perlu dilakukan tinggal bayar sewa atau membayar sesuai pemakaian.
Oleh salah satu lembaga di AS, National Institute of Standards and Technology (NIST), computasi awan ini didefinisikan sebagai model untuk menciptakan kenyamanan dalam akses jaringan sesuai keperluan ke dalam wadah bersama. sumber daya komputasi yang dapat dikonfigurasi dengan cepat dan dirilis dengan upaya manajemen yang minimal atau minimal interaksi antar penyedia jasa manajemen.
Layanan cloud computing secara garis besar dapat dikelompokan menjadi, Infrastructure as a Service (IAAS), Platform as a Service (PAAS), sampai kepada Software as a Service (SAAS) yang seluruhnya disalurkan ke pelanggan melalui jejaring yang aman dan terpecaya.
Model cloud computing memang tergolong masih anyar karena baru ramai digunakan oleh sejumlah perusahaan di dunia pada 2010. Sebuah survei yang dilakukan Springboard Research mencatat, 83 persen perusahaan berskala besar di Asia Pasifik beranggapan cloud computing sebagai teknologi yang relevan bagi bisnis mereka. Persentase ini meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 18 bulan terakhir.
Masih dari catatan Springboard Research, sejumlah perusahaan di Jepang dan Australia memimpin adopsi cloud computing, masing-masing 36 persen dan 31 persen. Sementara, India dan China, masing-masing 43 persen dan 39 persen. Di Asia Tenggara, perusahaan di Singapura memimpin dengan 23 persen, disusul Malaysia dan Thailand, masing- masing 21 persen.
Namun, menariknya inovasi cloud computing ini ternyata belum begitu membumi di pengguna jasa TI di Tanah air. Kurang berkembangnya cloud computing di Tanah Air ini diperkirakan oleh beberapa waktor seperti kekhawatiran akan keamanan dan keraguan akan kesiapan jaringan (broadband).
Seperti dikatakan Senior Consultant ICT Practice Frost&Sullivan Indonesia Iwan Rachmat bahwa masih banyak perusahaan yang menunjukkan sikap skeptis terhadap penerapan sistem ini. “Karena adanya kekhawatiran atas keamanan dan privasi. Hal ini, ditambah dengan rendahnya konektivitas internet broadband yang handal di Indonesia, dapat menghambat penerapan sistem cloud,” ungkap Iwan dalam pernyataan resminya di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Iwan, cloud computing di Indonesia masih dalam tahap pengembangan awal. Tentu karena persoalan kurangnya infrastruktur yang terkait dengan ketersediaan dan konektivitas internet. Dia mencermati penetrasi internet di luar ibukota Jakarta pada umumnya melalui konektivitas nirkabel dan tidak memiliki kapasitas untuk koneksi broadband dalam skala besar.
Sehingga Iwan melihat kondisi tidak adanya konektivitas internet yang cepat dan dapat diandalkan di Indonesia, ditambah dengan rendahnya minat perusahaan-perusahaan lokal terhadap TI merupakan tantangan utama yang dihadapi. Celakanya, ada banyak pihak di Indonesia yang ikutan latah terjun ke dunia bisnis cloud-computing, tetapi kini masih terus meraba-raba dalam menerapkannya.
SANGAT PROSPEKTIF
Namun demikian, sebuah firma penasihat dan penelitian TI terkemuka di dunia, Gartner, mengatakan bahwa prospek penerapan teknologi cloud computing di Indonesia cukup cerah. Sebagaimana dikatakan Errol Rasit, Principle Analyst dari Gartner, mengatakan bahwa pihaknya memprediksi pertumbuhan data perusahaan untuk lima tahun ke depan di Indonesia adalah sekira 716 persen. “Karena cloud computing akan membuat sektor bisnis jadi lebih mudah dan efisien,” ujar Errol Rasit, di Jakarta, baru-baru ini.
Errol menilai, hadirnya beberapa usaha di Indonesia yang menggunakan cloud-computing bisa menjadi pemicu inovasi komputasi ini untuk berkembang. Terutama, katanya, banyak usaha kelas menengah yang menggunakan email sebagai contoh nyata dari public cloud. Sementara bagi sektor bisnis, Errol menyatakan justru TI yang menentukan apakah cloud itu bagus atau tidak untuk sektor bisnis.
Errol juga menyatakan bahwa banyak perusahaan yang mulai melakukan migrasi data dari data center tradisional ke cloud. “Dalam beberapa tahun ke depan bakal banyak lagi perusahaan di Indonesia yang menggunakan teknologi cloud-computing,” ungkap Errol.
Perkiraan semakin banyaknya perusahaan yang menggunakan teknologi cloud-computing, karena memang teknologi ini menawarkan sesuatu model yang efisien. Tanpa harus menginvestasikan dana yang besar tapi mendapatkan tingkat keamanan yang tinggi, layanan cloud computing pasti banyak diminati. Khususnya segmen Infrastucture-as-a-Service (IAAS) yang diperkirakan mengalami pertumbuhan yang pesat.
Bahkan perusahaan bidang industri dan jasa konsultan, Frost & Sullivan Indonesia, awal September lalu merilis prediksinya soal pasar cloud di Indonesia. Perusahaan tersebut memprediksi layanan cloud computing akan tumbuh 53,4 persen selama periode 2010-2014. Lebih lanjut, disebutkan dalam rilisnya, share IaaS dalam pasar Cloud diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 34 persen pada 2014 mendatang. Pada tahun 2010 lalu, share IaaS hanya mencapai 30 persen.
Menurut hasil riset terbaru Frost & Sullivan, 65 persen dari pasar data di industri Banking, Financial Services & Insurance (BFSI), Manufaktur, dan TI menyediakan potensi terbesar bagi layanan cloud khususnya IaaS di Indonesia. Pasalnya, cloud computing dapat memberikan perusahaan cara yang lebih efektif dari segi biaya untuk mengakses teknologi mutakhir dan meningkatkan respons permintaan bisnis.
Jika data riset Gartner memperkirakan pasar global cloud computing akan mencapai 150 miliar pada 2014, untuk Indonesia, data proyeksi Telkom memperkirakan pasar cloud computing di negeri ini bisa mencapai Rp 2,1 triliun.
TELKOM CLOUD COMPUTING
Untuk pasar Indonesia, baru Telkom yang diketahui memasarkan secara serius layanan cloud computing. Telkom sendiri sejatinya telah meluncurkan solusi TelkomCloud sejak tahun 2010. Namun pada pada awal Juli 2011, Telkom memutakhirkan layanan tersebut melalui Telkom Cloud Computing. Nantinya, Telkom Cloud Computing merupakan payung bagi layanan-layanan cloud computing yakni TelkomVPS dan TelkomCollaboration yang ditujukan untuk pelanggan usaha kecil dan menengah.
Operating Vice President Public Relation Telkom, Agina Siti Fatimah menjelaskan, layanan cloud computing merupakan pengembangan dari layanan yang sebenarnya sudah dilakukan sejak awal tahun 2000 melalui bisnis IT Managed Services yang meliputi IT Operation Management Services, Data Recovery Services dan Data Center Infrastructure.
Telkom sendiri melalui Divisi Business Services (DBS) terus berusaha menyasar kalangan UKM, serta koperasi untuk mengaplikasikan teknologi itu. Beberapa solusi TI yang ditawarkan DBS kepada kalangan usaha tersebut adalah e-Toko, e-Koperasi, e-Sekolah, e-Apotik, e-Radio, e-Puskesmas, e-Campus (SIA), dan e-Bengkel. Telkom sampai saat ini sudah memiliki 155 ribu pelanggan dari kalangan UKM, koperasi dan BPR ini. SP

















