• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Ekonomi

Standard Chartered: Ekonomi 2012 Melambat

by Sandy Romualdus
11 Januari 2012 - 00:00
11
VIEWS
Stanchar Kembali Fasilitasi Pembelian Pesawat Cebu Air
0
SHARES
11
VIEWS

Jakarta – Sebagai bagian dari perdagangan internasional dan finansial, perlambatan ekonomi global yang masih terus berlangsung di tahun 2012 diperkirakan akan menyebar di Indonesia. Maka dari itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 tidak akan sebaik pertumbuhan ekonomi tahun 2011 yang sebesar 2011.

Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 5,8 persen di tahun 2012. Untuk mengurangi dampak perlambatan ekonomi, pemerintah harus lebih mengakselerasi pembangunan infrastruktur.

  • Baca juga: ULN Indonesia Agustus 2026 Terjaga US$459,3 Miliar, BI Tegaskan Struktur Tetap Sehat

"Pertimbangannya, pembangunan infrastruktur harus dipercepat. karena itulah cara yang paling alam untuk memperkecil dampak global," ujar Fauzi usai Seminar Ekonomi Tahunan Standard Chartered Bank di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (11/1)..

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Menurut Fauzi, krisis ekonomi di Eropa akan berdampak pada perbankan Eropa. Perbankan Asia yang memiliki eksposur dengan perbankan Eropa otomatis juga akan terpukul. Indonesia akan terkena dampak lanjutan (second round effect) yakni mengeringnya likuiditas valuta asing di koorporasi. Akibatnya, investasi di sektor swasta melemah. "Itu harus dikompensasikan dengan pertumbuhan investasi pemerintah, melalui program infrastruktur," jelas Fauzi.

Dia mengingatkan, selama ini infrastruktur menjadi faktor utama mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berjalan maksimal. Lambatnya pertumbuhan investasi dan manufaktur lantaran kondisi infrastruktur yang tidak memadai.

Jika pembangunan infrastruktur diakselerasi, maka otomatis bisa menekan biaya produksi, menurunkan suku bunga dan menekan inflasi. "Kalau misalnya infrastruktur lebih memadai, jalan tol trans jawa, trans sumatara dibangun dan pasokan listrik murah otomatis biaya transpotarsi bisa tertekan,otomatis menurunkan suku bunga, dan inflasi bisa ditekan," terang Fauzi.

Dia menambahkan, disahkannya UU pembebasan lahan bukan berarti dengan serta merta akan mengakselerasi pembangunan infrastruktur. Pasalnya, meski sudah disahkan, harus ada peraturan teknis yang mendukung peraturan tersebut.

Sayangnya, sampai kini peraturan tersebut belum keluar. Selain itu, tuntasnya payung hukum pembebasan tanah bukan berarti realisasi pembebasan lahan akan cepat, karena berkaitan dengan anggaran yang ditetapkan. "Dampak first round akan terasa, yakni menyerap tenaga kerja dan daya beli bertambah. Tapi multipliernya, baru akan terasa di sektor swasta akan terasa 2-3 tahun kemudian," ujar Fauzi

  • Baca juga: Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

Ekspor Terbatas

Fauzi juga menyinggung terkait kinerja ekspor Indonesia yang meski akan melambat di tahun 2012, tetapi memiliki efek terbatas. Pasalnya, ekspor hanya memberi kontribusi sebanyak 10 persen terhadap PDB. Sedangkan 65 persen PDB Indonesia dikuasai oleh konsumsi domestik.

Maka dari itu, lanjut Fauzi, konsumsi domestik merupakan mesin penggerak perekonomian Indonesia yang utama. Ia mengungkapkan pada tahun 2012 ini sektor industri otomotif, rokok, semen, telekomunikasi, leasing, farmasi dan pengemasan akan menjadi sektor yang kebal terhadap dampak krisis.

Sementara itu, kelapa sawit, batu bara, karet dan kakao masih akan menjadi komoditas ekspor andalan Indonesia. "Dari sisi volume, tantangannya besar. Dari sisi harga masih mungkin. Karena 65 persen ekspor Indonesia dari komoditas, Jadi kalau harga komoditas naik, (ekspor) bisa terbantu," jelas Fauzi.

Tiga Jalur

Di kesempatan yang sama, Ekonom Standard Chartered Bank Eric Sugandhi menambahkan pengaruh perlambatan ekonomi global dalam hal finansial akan berdampak pada tiga jalur, yakni penanaman modal asing (Foreign Direct Investment), Pinjaman valuta asing perbankan dan pasar modal.

  • Baca juga: Riset Paramadina: 8 Juta UMKM Pangan Belum Tersertifikasi, Wajib Halal Serentak Berisiko Tekan Daya Beli

Menurutnya, meski investastor menganggap Indonesi sebagai pasar potensial untuk dana investasinya, akan tetapi PMA diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan. Sementara itu, kondisi perbankan Eropa akan membawa dampak pada menurunnya pinjaman bank dalam bentuk valuta asing.

"Sebenarnya ketergantungan terhadap perbankan Eropa sedikti. Tapi misalnya perbankan Singapura dan Jepang kena, akan ada impactnya ke kita. Namun bagaimana juga forecast kami pertumbiuhan masihn moderat di angka 5,8 persen.

 
 
 
 
 
Previous Post

Yang Lokal, Yang Bergairah

Next Post

Musim Semi di Jazirah Arab

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Baku Bakal Dongkrak Inflasi Ritel Per Juni 2026

ULN Indonesia Agustus 2026 Terjaga US$459,3 Miliar, BI Tegaskan Struktur Tetap Sehat

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:51

Bank Indonesia mencatat ULN Indonesia Agustus 2026 tetap sehat sebesar US$459,3 miliar (tumbuh 5,6% yoy) dengan rasio PDB 30,9% didominasi...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:00

Indonesia peringkat 1 dunia sektor modest fashion SGIE 2025/2026. Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman buka IN2MOTIONFEST x JMFW...

Porsi Kredit UMKM BRI Capai 83,86%, Bukti Komitmen BRI pada Pemberdayaan Usaha Mikro

Riset Paramadina: 8 Juta UMKM Pangan Belum Tersertifikasi, Wajib Halal Serentak Berisiko Tekan Daya Beli

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 08:18

Riset Paramadina memproyeksikan kewajiban sertifikasi halal serentak berisiko membebani 8 juta UMKM pangan dan menekan daya beli rumah tangga. Stabilitas.id...

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

by Stella Gracia
13 Oktober 2026 - 13:23

Kementerian Pariwisata meluncurkan rute wisata Camino de Flores. Program ini bertujuan meratakan distribusi wisatawan dan memulihkan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara...

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

by Stella Gracia
12 Oktober 2026 - 12:21

Survei Konsumen BI September 2026 mencatat IKK tetap optimis di level 118,1 di tengah kenaikan rasio belanja konsumsi masyarakat menjadi...

Kikis Inefisiensi, Kemenkeu Selamatkan Anggaran Rp170 Triliun Tanpa Ganggu Birokrasi

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026, Menkeu Pastikan Postur Fiskal Tetap Kredibel

by Stella Gracia
9 Oktober 2026 - 14:13

APBN membukukan defisit Rp319 triliun atau 1,24 persen PDB per September 2026, Menkeu Suahasil Nazara pastikan disiplin fiskal terjaga. Stabilitas.id...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Bank akan Fokus Konsolidasi Internal

Bank akan Fokus Konsolidasi Internal

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance