• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Market

Memaksimalkan Manisnya Komoditas Cokelat

by Sandy Romualdus
12 Februari 2012 - 00:00
17
VIEWS
Memaksimalkan Manisnya Komoditas Cokelat
0
SHARES
17
VIEWS

Setelah melansir perdagangan timah, BBJ kembali meluncurkan Kontrak Kakao. Hal itu diharapkan akan membuat perdagangan komoditas ini ramai di Tanah Air. Selain itu juga membuat Indonesia menjadi penentu penciptaan harga komoditas itu di perdagangan dunia.

Oleh : Lila Intana

  • Baca juga: Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

 

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bagi sebagian orang, mengaitkan bulan Februari dengan sepotong coklat adalah sebuah kelaziman. Tentu karena ada sebuah hari yang dinamakan “hari kasih sayang” pada bulan itu. Dan umumnya pada hari itu, orang akan membeli coklat untuk mengekspresikan rasa kasih sayangnya kepada pasangan atau orang yang dicintainya.

Jika demikian, apakah investor harus mulai memindahkan dana-dananya ke komoditas kakao yang merupakan bahan baku pembuat coklat? Bisa saja. Akan tetapi menurut analis pasar komoditas, hal yang membuat investasi di komoditas cokelat akan menguntungkan pada bulan ini adalah karena harganya akan melenting naik.

Analis Phillip Futures, Juni Sutikno mengatakan bahwa mulai Februari ini, harga komoditas kakao akan cenderung menanjak setelah beberapa waktu ini melorot mencapai dasar. Apa yang dikatakan dia tidaklah berlebihan.

Lihat saja harga kakao di perdagangan bursa yang paling aktif memperdagangkan komoditas bahan baku cokelat ini yakni ICE Futures (New York). Pada perdagangan pekan pertama Januari 2012, harga kakao berjangka mengalami penurunan signifikan.

“Harga kakao berjangka ICE Futures untuk kontrak pengiriman bulan Maret saat ini ditutup pada posisi 2.075 dolar AS per ton. Padahal, kakao tahun lalu sempat menyentuh harga tertingginya yaitu 3.593 dolar AS per ton,” ujar Juni.

Menurut dia, lesunya harga kakao lebih disebabkan oleh penurunan sebagian besar harga komoditas lunak di pasar bursa berjangka. Namun mulai kini dan beberapa waktu ke depan harga kakao berpeluang rebound kembali karena dinilai sudah menyentuh bottom price yang sangat rendah.

Ditambah lagi faktor cuaca yang tidak terlalu mendukung di sentra-sentra kakao akan membuat produksi turun, sementara pertumbuhan permintaannya selama ini relatif stabil sebesar 2 persen per tahun. “Kenaikan harga kakao pernah mencapai delapan persen dalam waktu dua hari. Ini peluang bagus untuk trading,” imbuh Juni.

Malahan fenomena yang terjadi belakangan ini dari pengamatannya di bursa berjangka global, kakao lebih dilirik investor ketimbang komoditas lain seperti jagung atau kacang-kacangan. Karena itulah, dia berani merekomendasikan posisi buy bagi investor.

Selama ini harga kakao masih mengacu pada bursa global seperti ICE Futures (New York) ataupun NYSE (London). Namun sekarang, investor bisa bertransaksi komoditas ini di dalam negeri. Kontrak berjangka kakao sudah bisa diperdagangkan di bursa komoditas, yakni Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) sejak 15 Desember 2011 lalu.

Kontrak Kakao diperdagangkan dengan simbol CC5. Setiap 1 lot bernilai 5 metrik ton (mt). Bulan kontrak adalah Maret, Mei, Juli, September dan Desember. Mutu biji kakao yang diperdagangkan adalah kakao fermentasi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Tempat penyerahan di gudang penyimpanan terdaftar di Makassar, Palu dan Lampung.

  • Baca juga: Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Belum Menentukan

Direktur Utama BBJ, Made Soekarwo, mengatakan sangat menyayangkan Indonesia belum mampu menjadi penentu harga cokelat dunia padahal Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ke-3 di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. “Seharusnya Indonesia mampu mampu menentukan harga cokelat dunia. Namun saat ini, harga kakao dan cokelat dunia masih banyak ditentukan oleh negara lain,” ujar Made.

Untuk itulah BBJ menerbitkan fasilitas kontrak berjangka komoditas kakao. Made berharap perdagangan kontrak berjangka kakao di BBJ mampu menjadi pembentuk harga sekaligus pencipta tranparasi harga, memberikan fasilitas hedging (lindung nilai) kepada para pelaku usaha industri kakao dan cokelat nasional, serta untuk mempermudah transaksi. “Cukup dengan online saja ke situs resmi BBJ, investor sudah bisa mendapatkan berapa gambaran harga terakhir kakao,” ujar Made.

Sebelumnya pelaku industri timah sudah melakukan terobosan dengan menghadirkan perdagangan timah di BBJ dengan kode Inatin. Perdagangan sudah efektif berlaku awal Februari. Apa yang dilakukan para stake holder industri timah itu tak lain karena ingin ikut menentukan harga timah karena Indonesia merupakan negara pengekspor timah terbesar di dunia.

Sementara itu, tentang peluang kontrak berjangka kakao di BBJ, Made sangat optimistis akan likuid. Pasalnya, industri cokelat nasional saat ini sedang bergairah. Bahkan ke depannya Indonesia bisa memimpin produksi kakao dunia. “Target transaksi produk kakao bisa mencapai 1.000 lot per bulan dalam tiga bulan pertama.”

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, produksi kakao nasional mencapai 600.000 mt/tahun dan pada 2020 produksinya diperkirakan mencapai 2 juta ton per tahun. “Jika hal ini mampu kita capai, pada 2020 Indonesia akan menjadi produsen kakao terbesar di dunia,” ujar Made.

Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia juga setuju jika dikatakan industri coklat saat ini tengah bergairah. Terutama pasca terbitnya Surat Keputusan Menteri Keuangan No.67/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar pada April 2010. Kebijakan pemerintah menerapkan bea keluar ekspor kakao memberi efek positif pada pelaku industri kakao olahan nasional.

Sindra menjelaskan, bukti positif terlihat dari beberapa pabrik kakao olahan yang sebelumnya berhenti produksi, mulai beroperasi kembali pada Mei 2010. Data Kementerian Perindustrian mencatat ekspor kakao olahan Indonesia sepanjang Januari sampai Mei 2011 mencapai 216,4 juta dollar AS, naik dibandingkan periode yang sama tahun 2010 yakni 142 juta dollar AS.

Bahkan kondisi itu bertambah kondusif lagi setelah beberapa perusahaan dunia juga melakukan ekspansi ke Tanah Air. Investor asing juga mulai masuk, seperti Cargill Cocoa & Chocolate Inc, Archer Daniels Midland Company, dan JB Cocoa Sdn Bhd. Barry Callebaut, produsen kakao olahan terbesar dunia juga dikabarkan akan masuk ke Indonesia.

Namun ada kekhawatiran sendiri dari pelaku jika harga kakao akan naik di pasar internasional. Jika hal itu terjadi maka kebanyakan produsen kakao tentu akan memilih mengekspor karena tertarik harga yang tinggi. Akan tetapi kekhawatiran itu berkurang setelah BBJ memperdagangkan kontrak berjangka kakao, karena fungsi pembentukan harga dan lindung nilai bisa dilakukan.

Selain kontrak berjangka kakao, dalam waktu dekat BBJ juga akan memperdagangkan kontrak berjangka batubara. “Pengembangan produk BBJ ini dalam rangka membantu pemerintah agar Indonesia dapat menjadi acuan harga komoditi primer dunia yang produksinya memang banyak berasal dari Indonesia,” tegas Sindra.

  • Baca juga: Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Jika komoditas-komoditas yang jadi andalan ekspor bisa diperdagangkan di dalam negeri, maka bukan tak mungkin Indonesia makin diperhitungkan dalam penciptaan harga-harga dunia. Ujung-ujungnya keuntungan terbesar tetap berada di dalam negeri. SP

 

 
 
 
 
 
Previous Post

Bank Kian Tidak Efisien Tanpa Outsourcing

Next Post

Berharap Perubahan dari Davos

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 19:53

Hans Kwee menilai bursa RI mustahil turun kelas ke Standalone Market di tengah pendapatan emiten kuartal II/2026 yang tumbuh 13,31...

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 19:45

OJK menjatuhkan denda rekor total Rp2,1 triliun kepada DSSA, BREN, dan CUAN atas pelanggaran manipulasi pasar dan penjatahan semu penawaran...

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 11:34

MSCI mengusulkan penurunan status bursa saham Indonesia langsung ke Standalone Market akibat isu transparansi free float dan dugaan transaksi terkoordinasi....

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 10:33

Rupiah terperosok ke level Rp18.000 per dolar AS bersamaan dengan trading halt IHSG, Bank Indonesia gelar intervensi terpadu di pasar...

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 09:19

IHSG dibuka anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92 pada Jumat (16/10/2026), memicu penghentian sementara perdagangan BEI akibat sentimen usulan MSCI...

Ancam Arus Modal Ratusan Triliun Rupiah: MSCI Konsultasikan Status Bursa Efek Indonesia

Ancam Arus Modal Ratusan Triliun Rupiah: MSCI Konsultasikan Status Bursa Efek Indonesia

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 08:12

MSCI membuka konsultasi usulan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market yang diputuskan Juni 2027. Stabilitas.id...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Memaknai Angka 50 Tahun

Memaknai Angka 50 Tahun

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance