• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Internasional

Musim Semi di Jazirah Arab

by Sandy Romualdus
11 Januari 2012 - 00:00
54
VIEWS
Musim Semi di Jazirah Arab
0
SHARES
54
VIEWS

Gelombang perubahan yang menjalar di sejumlah negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara masih belum menghasilkan pemerintahan yang stabil. Pertumbuhan ekonomi pun ikut melambat sehingga berpotensi menimbulkan ketegangan sosial global.

Oleh: Ainur Rahman

  • Baca juga: Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

 

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Musim semi biasanya hanya ditandai dengan berseminya bunga-bunga dan segala jenis tetumbuhan atau binatang-binatang yang bermunculan kembali setelah berhibernasi di musim dingin. Juga biasanya hanya ditandai dengan siang hari yang lebih panjang dari pada malam hari serta udara yang terasa hangat karena menjelang musim panas.

Namun tidak dengan musim semi di jazirah Arab tahun lalu. The Arab Spring, menjadi pertanda adanya perubahan politik drastis di beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Di Tunisia, musim yang juga disebut musim bunga itu, perubahan dimulai saat seorang pedagang bernama Muhammed Bouazizi membakar diri sebagai aksi unjuk rasa kepada pemerintah 17 Desember 2010.

Peristiwa itu kemudian menyulut demonstrasi besar-besaran di Tunisia menuntut perubahan politik dan reformasi ekonomi. Aksi bergelombang itupun akhirnya memaksa Presiden Zine El Abidine Ben Ali mundur dari jabatannya pada 14 Januari 2011 setelah 23 tahun berkuasa. Saat ini pemulihan kondisi ekonomi dan politik Tunisia masih dalam proses transisi.

Bagai api yang menyulut ilalang, apa yang terjadi di Tunisia itu merambat ke Mesir. Presiden Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun pun akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya pada 10 Februari 2011 setelah beberapa bulan digoncang aksi demonstrasi.

Penyebab yang terjadi di Libya mungkin agak berbeda, karena kemudian berubah menjadi pemberontakan bersenjata dan menghasilkan revolusi yang lebih mengenaskan. Presiden Libya Khadafi tewas di tangan para pemberontak bersenjata yang dibantu oleh negara barat.

Suriah dan Yaman kondisinya juga tidak bisa disebut tenang meski kedua negara itu berbeda dalam dampaknya bagi pemimpin negara. Sementara Suriah masih terus berjuang menenangkan gejolak dalam negerinya, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang sudah berkuasa selama 33 tahun resmi turun dari jabatannya setelah menandatangani perjanjian transfer kekuasaan di Arab Saudi.

Tak pelak gejolak yang terjadi di semenanjung Arab dan Afrika Utara yang merupakan wilayah penghasil minyak bumi membuat seluruh dunia khawatir. Mesir dan Libya adalah dua negara dengan cadangan minyak yang termasuk 10 terbesar di dunia. Mesir dengan 18,3 miliar barel minyak yang merupakan tingkat tertinggi cadangannya selama 2009-2010 dan Libya sekitar 44 miliar barel yang baru akan habis sekitar 71 tahun lagi.

Maka dari itu banyak pihak yang sangat mengkhawatirkan jika kisruh yang meletup di kawasan itu akhirnya merembet ke Arab Saudi. Apa pasal? Negara dengan sistem pemerintahan monarki absolut itu merupakan negeri dengan cadangan minyak terbesar di kawasan Timur Tengah yaitu mencapai 267 juta barrel.

Tak heran, begitu kawasan tersebut bergolak pada awal 2011, harga minyak pun meningkat. Pada Februari harga minyak mentah mencapai 105 dollar AS per barrel tertinggi sejak 2008. Bahkan pada pertengahan tahun lalu harganya sempat mendekati 120 dollar AS meski pada akhir tahun harganya turun di kisaran110 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga minyak juga terjadi di tengah upaya negara-negara Eropa untuk keluar dari krisis di kawasan tersebut yang mengancam tingkat permintaan minyak. Misalnya keputusan Perdana Menteri Italia Mario Monti yang mengumumkan penghematan anggaran senilai 30 miliar euro atau 40 miliar dollar AS.

Krisis utang Eropa juga telah menjungkalkan beberapa pemimpin di sana. Krisis telah memaksa Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi lengser, menyusul PM Yunani dan membuat tanda bahwa krisis makin memburuk.

Memburuknya perekonomian di kawasan Eropa juga disusul dengan melambatnya pemulihan ekonomi dan meningkatnya pengangguran di AS. Secara global, masalah ini jelas akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi internasional.

  • Baca juga: Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Menurut Kepala Departemen Informasi dan Humas Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) Angela Agoawike ketidakstabilan harga minyak mentah memang diakibatkan oleh situasi geopolitik di dunia Arab yang menurunkan produksi minyak.

Ancaman Ekonomi Dunia

Kondisi itu tentu tidak hanya akan berpengaruh kepada anggota OPEC atau negara-negara di kawasan Timur Tengah saja akan tetapi akan berdampak pada perekonomian dunia. Bahkan ekonomi dunia yang masih di bawah ancaman krisis Eropa akan mendapatkan tantangan baru yaitu krisis politik di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Oleh karena itu wajarlah jika lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) sampai menyiratkan dengan jelas kekhawatirannya akan adanya krisis tersebut.

Direktur Pelaksana (IMF) Christine Lagarde dalam sebuah kesempatan menghimbau kepada para pemimpin politik agar mengelola perubahan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara supaya tidak menimbulkan ketegangan sosial secara global.

Sebab kondisi politik yang tidak stabil di Timur Tengah dan Afrika Utara sejalan dengan perlambatan ekonomi negara-negara pengimpor minyak di Eropa sehingga mendorong tingkat pengangguran yang sudah tinggi dan meningkatkan ketegangan sosial. “Ini secara alami sebuah periode yang berisiko dan tidak pasti,” kata Lagarde.

Kondisi politik dan ekonomi yang tidak pasti terjadi di sejumlah produsen minyak ditambah krisis utang di kawasan Eropa diperkirakan bakal mengganggu pemulihan dunia dan menyimpan potensi pelemahan baru ekonomi dunia.

Ketidakpastian politik dan melemahnya ekonomi di negara-negara maju pun membuat prospek pertumbuhan ekonomi negara di jazirah Arab suram. Dengan begitu, proses pemulihan ekonomi dunia pada 2012 nanti, akan jauh lebih melambat dari yang diperkirakan.

Indonesia diperkirakan juga akan terpengaruh akan kondisi tersebut lantaran produksi minyak masih sangat rendah, hanya sekitar 900.000 barel per hari, padahal pada 1999 masih sekitar 1,5 juta barel per hari. Di sisi lain kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri terus naik. Maka tak ayal kenaikan harga minyak dunia akan memberikan dampak negatif terhadap anggaran negara dan perekonomian nasional.

Akan tetapi Indonesia mungkin akan sedikit beruntung karena berdasarkan prediksi analis, pengamat, pemerintah dan Bank Indonesia, ekonomi nasional akan tetap tumbuh di kisaran 6 persen.

Tidak demikian halnya dengan negara-negara Timur Tengah. Lembaga donor internasional IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di Timur Tengah ini hanya sebesar 1,9 persen tahun ini. Angka ini menurun dari 2,3 persen dan menurun sangat tajam dari 2010 yang mencapai lebih dari 4 persen.

IMF memproyeksikan perekonomian Tunisia akan stagnan tahun ini. Tahun lalu, di bawah kepemimpinan Presiden Tunisa, Zine El Abedine Ben Ali yang kini sudah mundur, ekonomi Tunisa tumbuh 3,1 persen.

Penurunan juga diperkirakan terjadi untuk pertumbuhan ekonomi Mesir. Pasca lengsernya Presiden Hosni Mubarak, perekonomian negara dengan populasi terpadat kawasan Arab itu diproyeksikan tumbuh 1,2 persen. Angka itu jauh di bawah catatan pertumbuhan tahun lalu sebesar 5,1 persen.

Sementara perekonomian Libya, masih belum bisa diprediksikan akan membaik karena proses pemulihan ekonomi di sana hingga saat ini bahkan belum dimulai.

  • Baca juga: Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

Nada pesimistis juga muncul untuk perekonomian Suriah yang diproyeksikan pertumbuhannya akan turun 2,0 persen. Padahal, tahun lalu pertumbuhan ekonomi Suriah dianggap cukup kuat. Perekonomian Yaman juga diperkirakan terkontraksi 2,5 persen menyusul aksi protes menuntut penggulingan Presiden Ali Abdullah Saleh.

Jadi apakah musim semi tahun ini akan memberikan pertanda yang lebih baik dari tahun sebelumnya atau hanya tanda-tanda yang biasanya terjadi? SP
 

 
 
 
 
 
Previous Post

Standard Chartered: Ekonomi 2012 Melambat

Next Post

Bank OCBC NISP Raih Investment Grade

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

by Stella Gracia
8 Oktober 2026 - 11:49

Korea Selatan menyelidiki pembobolan data 68.000 nasabah di tujuh bank terkemuka akibat serangan siber otomatis berbasis Artex AI. Stabilitas.id - Pemerintah...

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 14:11

Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen pada kuartal III/2026 ditopang ekspor dan investasi, memicu ADB merevisi proyeksi pertumbuhan tahunan menjadi 7,8...

Setahun Berjalan, Bullion Bank Pegadaian dan BSI Himpun 153 Ton Emas

Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

by Stella Gracia
23 September 2026 - 10:36

Tiongkok membukukan rekor impor emas melampaui 1.000 ton senilai Rp2.811 triliun. Manuver ini menjadi langkah mitigasi risiko seiring kolapsnya properti...

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

by Stella Gracia
22 September 2026 - 10:49

IMF membunyikan alarm terkait rasio utang publik global yang akan melampaui 100% PDB pada 2029. Investor mulai rekalibrasi portofolio menjauhi...

Inflasi di Atas Target, The Fed Didesak Tunda Akselerasi Pemangkasan Suku Bunga

Lawan Intervensi Trump, The Fed Kerek Suku Bunga Acuan ke Level 4 Persen

by Stella Gracia
18 September 2026 - 18:14

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75-4,00 persen demi menekan inflasi, mengabaikan kritik dan desakan Presiden Donald...

Deeskalasi Timur Tengah: Trump Tangguhkan Serangan, Iran Ajukan Proposal 10 Poin

Ambisi Trump di Ladang Emas Hitam: Bayang-Bayang Skenario Venezuela di Tanah Persia

by Stella Gracia
14 September 2026 - 14:48

Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil alih kendali minyak Iran mengadopsi skenario kesepakatan Venezuela, di tengah memanasnya konflik Selat...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Bank akan Fokus Konsolidasi Internal

Bank akan Fokus Konsolidasi Internal

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance