Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil alih kendali minyak Iran mengadopsi skenario kesepakatan Venezuela, di tengah memanasnya konflik Selat Hormuz yang mendongkrak harga minyak Brent menembus US$107 per barel.
Stabilitas.id – Di sela-sela hamparan hijau padang golf Irish Open di Irlandia, Minggu lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan sebuah ancaman yang memantik guncangan geopolitik baru. Dengan nada penuh percaya diri, ia secara terbuka menyatakan bahwa Washington bisa saja memperpanjang kampanye militernya terhadap Iran dan berujung pada pengambilalihan kendali atas cadangan minyak negara tersebut.
Bagi Trump, skenario ini bukanlah sebuah angan-angan kosong. Ia merujuk pada “kesuksesan” manuver serupa yang diterapkan di Venezuela pada awal tahun ini. Dalam kesepakatan Agustus lalu, Washington berhasil mencaplok kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela—angka yang melampaui dua kali lipat total cadangan milik AS sendiri. Sebagai kompensasi, kas negara Venezuela diguyur dana senilai US$209 miliar (sekitar Rp3.678,4 triliun).
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan sesumbar bahwa kesepakatan tersebut akan menarik investasi swasta hingga US$100 miliar (Rp1.760 triliun) guna membangkitkan kembali ekonomi negara Amerika Selatan itu. Menurut klaim Trump, pendapatan dari akses seperlima cadangan minyak Venezuela ini telah sukses menutup biaya perang berkali-kali lipat.
BERITA TERKAIT
“Kita pada akhirnya akan keluar, kecuali kita memutuskan untuk tinggal dan menyimpan minyak seperti Venezuela,” tegas Trump, merujuk pada kemungkinan nasib Teheran.
Ambisi ini disuarakan tepat ketika perang Iran telah memasuki bulan ketujuh. Trump memproyeksikan konflik ini akan usai akhir tahun nanti, persis setelah pemilihan paruh waktu di AS pada bulan November. Ia pun menebar janji manis bahwa harga bensin akan “jatuh seperti batu” begitu pelatuk senjata tak lagi ditarik. Menambah bumbu provokasi, sang presiden mengeklaim Teheran terus-menerus menghubunginya untuk merundingkan perdamaian—sebuah pernyataan yang langsung dibantah mentah-mentah oleh otoritas Iran.
Di lapangan, situasi justru jauh dari kata damai. Jalur diplomasi di Selat Hormuz sedang menemui jalan buntu. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengumumkan melalui platform X bahwa pertemuan antara negara-negara Teluk dan Iran—yang sedianya dijadwalkan Senin lalu untuk membahas rute pelayaran—terpaksa ditunda karena belum tercapainya konsensus. Padahal, urat nadi ekonomi global itu telah menjadi sasaran blokade angkatan laut Iran dan AS sejak konflik pecah pada Februari lalu.
Kekacauan ini semakin meruncing. Kapal-kapal kargo rutin menjadi sasaran gempuran Iran, sementara pasukan AS terus membombardir garis pantai Republik Islam tersebut demi mematahkan dominasi Teheran di Selat Hormuz. Situasi kian pelik ketika milisi Houthi di Yaman melancarkan serangan dahsyat yang memberikan proksi Teheran itu pengaruh strategis di jalur air krusial lainnya, Bab el-Mandeb.
Rangkaian krisis ini langsung menghantam pasar komoditas. Harga minyak dunia meledak menembus batas psikologis US$100 per barel, rekor tertinggi sejak Mei. Kenaikan tajam ini kembali dipicu pada perdagangan Senin, sesaat setelah Arab Saudi terpaksa mematikan pipa energi Timur-Barat utamanya akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan drone dari Irak. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup menguat 2,3% menjadi US$102,39 per barel, sementara patokan internasional minyak mentah Brent naik 2,4% dan bertengger kokoh di level US$107,11 per barel. ***

















