BERITA TERKAIT
Robert J. Eaton, CEO Chrysler Corporation, Amerika Serikat, pernah mengatakan: “The only we can beat the competition is with people.” Pernyataan ini hendak menegaskan bahwa meskipun persaingan bisnis sangat ketat dengan pesatnya kecanggihan teknologi, namun peran karyawan tetap paling menentukan dalam menjejak keberhasilan perusahaan.
Soal ini disadari benar oleh Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk. Oleh karena itu, ketika ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Mandiri sejak April 2013 lalu ini, pembenahan dan peningkatan sumber daya manusia menjadi poin yang tak bisa ditawar. Tidaklah mengherankan jika strategi pertama yang dilakukannya sebagai komandan bank BUMN terbesar ini adalah menjaga garda terdepan pengelolaan SDM, yakni rekrutmen.
Rekrutmen harus berjalan sesuai dengan tujuan perusahaan, yakni masuk menjadi tiga bank dengan market capitalization terbesar di ASEAN. Karena itu sejak awal memang sudah digariskan bahwa Bank Mandiri harus merekrut orang-orang pilihan. “ Untuk fresh graduate, seleksi termudah ya cari dari universitas yang memang menjadi incaran banyak orang. Ukuran itu jelas karena yang masuk ke sekolah-sekolah itu adalah orang-orang pilihan,” jawab Budi.
Dengan cara demikian, Mandiri memiliki peluang lebih besar untuk memiliki SDM yang unggul yang ke depan bisa membuat bank bersaing dengan bank asing dan bankir asing. Namun, demikian, Budi mengatakan bahwa memilik SDM unggul saja tidak cukup. “Mereka juga harus jujur karena bisnis bank adalah bisnis kepercayaan yang membutuhkan kejujuran.”
Setelah mendapatkan SDM yang unggul lagi jujur, manajemen Mandiri kemudian menerapkan strategi lanjutan untuk menyebarluaskan pengaruh dari orang-orang terbaik yang dimilikinya kepada yang pegawai lain. Salah satunya melalui teori taplak meja. Menurut Budi, ketika taplak meja dijumput di tengah, tentu sisi-sisi lain akan mengikutinya, tidak ada yang tertinggal. “Ketika saya menempatkan pemimpin di divisi tertentu dengan performa baik, maka anak buahnya juga akan mengikuti gaya performa atasannya. Ia akan mengajak anak buahnya untuk bekerja sebagus dia, mengikuti irama dia,” jelas pria kelahiran 1964 ini.
Pengelolaan SDM juga mengharuskan penerapan stick and carrot yang jelas agar karyawan yang berprestasi makin terdorong untuk meningkatkan kinerjanya dan yang melempem harus mengikuti. “Yang terbaik, wajib mendapatkan apresiasi lebih ketimbang yang tidak,” kata Budi.
Untuk memonitor karyawan dan membedakan yang berprestasi dan tidak, Mandiri memiliki sistem pemeringkatan yang mampu melihat performa. Budi mengaku, terlibat langsung dalam hal ini. Karyawan yang terpilih memiliki kesempatan untuk langsung belajar dengan dirinya. “Day by day dalam periode tertentu, mereka mengikuti semua kegiatan Dirut Mandiri yang berhubungan dengan urusan pekerjaan,” lanjut dia.
Dengan cara ini, pimpinan dari yang tertinggi hingga level tertentu memiliki tanggung jawab menjadi mentor bagi generasi selanjutnya agar menjadi yang terbaik.
“Saya juga rutin memantau kader-kader terbaik dari hasil pemeringkatan prestasi karyawan lewat media sosial. Banyak orang yang suka menggambarkan suasana hatinya di media sosial. Ini bisa menjadi cara ampuh memonitor mereka. Jika ada kegundahan tentang pekerjaan, kami bisa langsung mengetahuinya. Intinya, kami harus cepat melakukan pembinaan dan menangkap persoalan,” tuturnya.
Selain itu, Bank Mandiri juga mulai menyediakan sarana pendidikan bagi karyawannya. Dengan 55.000 karyawan yang dimiliki, Mandiri akan membangun 18 fasilitas pendidikan yang bernama Mandiri University Campus. Saat ini, kampus di Medan sudah jadi. Sementara di Jakarta, sedang dibangun kampus seluas 20 hektar di kawasan Pesing.
Bank Beraset Terbesar
Budi G. Sadikin yang menggantikan Zulkifli Zaini sebagai orang nomor satu di Bank Mandiri, mengawali kariernya sebagai Information Technology Officer di IBM Asia Pacific Headquarter, Tokyo, Jepang selepas menyelesaikan kuliahnya di jurusan Fisika Nuklir Institut Teknologi Bandung di tahun 1988. Budi meninggalkan IBM pada tahun 1994 dengan jabatan terakhir sebagai System Integration & Professional Services Manager.
Setelah itu, dia bergabung dengan PT Bank Bali Tbk (kini bernama Bank Permata). Di sini, Budi pernah menjabat sebagai General Manager Electronic Banking, Chief General Manager wilayah Jakarta, dan Chief General Manager Human Resourches hingga tahun 1999.
Selanjutnya, dia bergabung dengan ABN AMRO Bank Indonesia dengan jabatan terakhir sebagai Senior Vice President, Director of Consumer & Commercial Banking ABN AMRO Indonesia & Malaysia hingga tahun 2004. Kariernya kemudian berlanjut di PT Bank Danamon Tbk sebagai Executive Vice President Consumer Banking dan Direktur Adira Quantum Multi Finance.
Pada 2006, pemegang Sertifikasi Chartered Financial Consultant dan Certified Life Underwriter dari Singapore Insurance Institute ini kemudian bergabung dengan Bank Mandiri sebagai Director Micro & Retail Banking. Sejak April 2013, pria yang aktif sebagai Anggota Dewan Pengurus Ikatan Bankir Indonesia (IBI), anggota Acquaring Business Executive Council VISA Asia Pacific, dan anggota SWIFT Asia-Pacific Advisory Group (APAG), serta sebagai Ketua Asosiasi Pembayaran Indonesia (ASPI) ini diangkat menjadi Direktur Utama Bank Mandiri.
Budi menargetkan akan membawa bank beraset terbesar di Indonesia ini menjadi bank yang terbaik di Asia. Dari sisi kapitalisasi pasar, Bank Mandiri masih berada di urutan keenam di Asia dengan nilai Rp225 triliun.
“Target menjadi bank terbaik di Asia sebenarnya sudah dicanangkan perseroan sejak 2010-2014, namun saya ingin kami bekerja lebih keras lagi untuk mencapai target menjadi bank beraset terbesar di Asia.” (agt)

















