Ketidakpastian seringkali menjadi jimat keberuntungan bagi pasar modal Indonesia. Ketika dunia masih dibayangi ketidakpastian global terkait kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak dunia, masalah utang Yunani serta pelemahan ekonomi Tiongkok, danadana asing mengalir ke bursa Indonesia.
Apapun alasannya, entah itu kepercayaan investor asing yang masih tinggi atau karena menanamkan portofolio di Indonesia masih menguntungkan, bukan lagi hal penting. Pokoknya begitu, pasar keuangan dunia dilanda ketidakpastian, dana-dana asing pasti mencari tempat yang bias memberikan keuntungan lebih. Dari catatan otoritas bursa, sejak awal Januari hingga 27 Maret yearto date (ytd) terjadi aksi beli bersih (net buy) asing sebesar Rp4,6 triliun.
Bahkan sepanjang 2014 terjadi net buy asing sebesar Rp42,6 triliun. Tak biasdipungkiri, maju-mundurnya kebijakannormalisasi ekonomi AS membuat para hedge fund, tetap memilih Indonesiayang dianggap masih atraktif.Bahkan aksi profit taking investorasing tak mampu membuat dana-danaitu keluar seluruhnya. Berdasarkan datayang sama pada periode 23-27 Maret2015, investor asing asing menjualportofolio sahamnya sebesar Rp2,6triliun karena ingin merealisasikankeuantungan (gain).
BERITA TERKAIT
Analis pasar modal memperkirakan bahwa dana asing tidak akan berhenti masuk ke pasar modal. “Kami perkirakan target net buy tahun 2015 di kisaran Rp45-47 triliun dengan asumsi kondisi global membaik,” ujar Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities. Sementara itu, hingga 26 Maret 2015 dana asing di surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 500,63 triliun (outstanding), atau bertambah Rp 39,35 triliun dari posisi akhir 2014 sebesar Rp 461,35 triliun.
Reza mengatakan, secara umum, investor asing masih melihat positif berinvestasi di pasar modal Indonesia sepanjang kondisi kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak, penyelesaian utang Yunani, dan perlambatan ekonomi Tiongkok, tidak banyak berubah.
Sedangkan dari internal, rupiah yang masih cenderung melemah dilihat oleh pemodal asing akan membebani emiten terutama untuk membayar utang dan membiayai impor. Apalagi banyak emiten yang tidak melakukan lindung nilai (hedging).
Di sisi lain, pemodal asing juga masih wait and see terhadap paket kebijakan pemerintah yang belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Sedangkan kebijakan harga BBM yang mengikuti harga pasar menciptakan ketidakpastian dan memberikan beban tambahan biaya bagi emiten.
Menurut dia, tren investasi sepanjang 2015 ini tidak jauh berbeda dengan 2014. “IHSG tahun ini bias tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu, ke level 5.600- 5.700 pada akhir tahun, dengan asumsi global membaik,” ujar Reza.
Sedangkan menurut Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee, secara fundamental, investor asing optimistis terhadap pasar modal Indonesia. Investor tidak melihat faktor internal ada masalah. Dia menilai keluarnya dana asing pekan lalu dari pasar modal Indonesia karena investor asing cenderung menyeimbangkan portofolio mereka, akibat pengaruh rencana The Fed menaikkan suku bunga. Hans melanjutkan, dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia sebagian besar merupakan pinjaman yang berasal dari perbankan Amerika Serikat (AS), sehingga investor asing langsung menyesuaikan portofolionya sesuai dengan rencana kebijakan The Fed.
Kondisi itu akan tetap berlangsung hingga hingga The Fed memberi kepastian soal tingkat suku bunganya yang baru. Selain soal bunga The Fed, potensi naiknya harga minyak juga bias membuat dana-dana asing itu bergerak kembali mencari tempat baru dan meningkatkan risiko ekonomi Indonesia.
Jika dana asing banyak yang keluar maka, kondisi defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/) yang sedang dialami Indonesia akan makin memburuk. “Langkah pemerintah untuk mengantisipasi keluarnya dana asing sebenarnya sudah tepat. Hal penting yang harus dilakukan pemerintah adalah menenangkan pelaku pasar,” ucap Hans.
Investor Domestik
Sementara itu, Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida menilai, perbaikan ekonomi di dunia berpotensi memicu goncangan di pasar modal domestik. Hal itu lantaran nilai kapitalisasi asing di pasar modal Indonesia masih mayoritas atau mencapai lebih dari 60 persen.
“Kapitalisasi di pasar modal kita, investor asing sudah lebih dari 60 persen. Yang kita butuhkan saat ini adalah keseimbangan (balance) dengan investor domestik,” ujarnya di Jakarta.
Nurhaida menjelaskan, ketangguhan pasar modal akan bergantung pada investor yang paling mendominasi nilai kapitalisasi. Menurutnya, jika perbaikan ekonomi di luar negeri tidak diiringi dengan perbaikan di dalam negeri maka akan menggoncang pasar modal domestik. “Kalau di negara lain ada potensi investasi yang bagus, asing akan keluar maka pasar kita akan goncang,” ujarnya.
Diakui memang, dominasi kepemilikan saham oleh investor asing rentan membuat kinerja pasar modal fluktuatif karena ada potensi penarikan dana setiap saat (capital out flow).
Dominasi investor asing memang masih terjadi dalam hal kepemilikan saham di BEI. Akan tetapi dominasi ini sempat melemah. Pada akhir tahun 2008, total kepemilikan saham oleh investor asing di bursa Indonesia tercatat hampir dua kali lipat dari total kepemilikan saham oleh investor lokal. Namun, gap ini semakin menipis.
Pada tahun 2012, posisi kepemilikan saham antara investor lokal dan asing telah menjadi 41 persen berbanding 59 persen. Sedangkan hingga semester pertama tahun ini, komposisi kepemilikan asset saham oleh investor lokal semakin meningkat menjadi 43 persen atau sebesar Rp1.229,44 triliun.
Lain saham, lain lagi dengan efek berupa obligasi dan sukuk. Jika di saham asing masih mendominasi kepemilikan maka investor domestik justru menguasai kepemilikan efek obligasi dan sukuk jauh meninggalkan kompetitornya tersebut.
Oleh karena itu, otoritas berharap, pasar modal bisa menciptakan pertumbuhan investor domestic untuk mengimbangi investor asing. Saat ini, jumlah investor domestik masih sekitar 1 persen dari jumlah penduduk.
Jumlah itu adalah yang paling kecil dibanding negara-negara di kawasan. OJK terus mencari cara agar makin banyak masyarakat Indonesia yang mau berinvestasi di pasar modal. Menurut Nurhaida, ada tiga building block yang paling penting untuk diperhatikan dalam upaya membangun financial market deepening, yaitu peningkatan sisi supply, demand dan infrastruktur pasar modal. “Selain berupaya menumbuhkan jumlah investor, pendalaman pasar keuangan domestik juga perlu dibarengi dari peningkatan keragaman produk investasi dan pengembangan infrastruktur pasar modal,” tuturnya.

















