BERITA TERKAIT
“A person’s success in innovating depends on the idea and the execution. Success is a great idea and great execution”. Kalimat tersebut begitu melekat pada diri Batara Sianturi. Bagi CEO Citi Indonesia yang baru ditunjuk di penghujung tahun lalu itu, sebagai seorang pemimpin yang mengelola perusahaan, dibutuhkan banyak kerja keras dan semangat. “Tak perlu banyak bicara, langsung kepada eksekusinya saja, seperti kata pepatah, sikaplah yang menentukan jabatan Anda,” kata Batara dalam sebuah acara bincang-bincang dengan mahasiswa sekolah bisnis di Jakarta, beberapa waktu lalu. Katanya, untuk menjadi seorang bankir, hal pertama yang wajib diprioritaskan adalah masyarakat. Seorang pemimpin tidak bisa melakukan pekerjaan sendirian jika tak ada karyawan, klien, pemegang saham, dan tentunya masyarakat. Dengan kata lain, a leader is not everything. “Pada dasarnya kami bekerja dengan berbagai macam orang, dari semua lapisan dan tidak mungkin sendirian,” terang pria kelahiran Jakarta, 26 Juni 1960 ini.
Menurut Batara, sebagai pemimpin, salah satu tugas yang harus dijalankan dengan baik adalah menyiapkan pemimpin baru. Batara sendiri mengaku bangga apabila melihat anak buahnya maju, apalagi bisa menggantikan posisinya.
“Saya pikir kesuksesan seseorang tergantung dari dirinya dan timnya, serta dukungan keluarga dan orangtua,” kata suami Debbie Tampubolon ini. Tak hanya itu, sambungnya, ada banyak senior di Citibank yang membimbing dia sampai sekarang. meski demikian, tetap dibutuhkan kapasitas dan kemampuan pribadi untuk mendongkrak karier.
Batara adalah satu dari segelintir bankir nasional yang sukses di lembaga keuangan asing itu. Semua eksekutif di Indonesia tentu tahu perusahaan macam apa Citibank. Bahkan begitu terkemukanya, orang-orang yang menjadi bagian dari Citibank disebut sebagai Citibankers.
Menurut Batara, kalau sudah masuk di Citibank, maka karakter orang-orang yang ada di sana pun menjadi khas. Mereka direkrut lewat sebuah proses yang sangat selektif dan kompetitif. Setelah berada di dalam Citibank, mereka mengalami proses pembentukan yang tiada henti. Kinerja mereka dipacu, dan mereka bekerja dengan sistem yang selalu diperbaharui. Singkatnya mereka punya pemimpin kelas Citibank, anak-anak buah kelas Citibank, kultur Citibank, teknologi Citibank dan insentif sekelas Citibank.
Cara kerja mereka yang mengagumkan membuat mereka selalu menjadi rebutan. Beberapa di antara mereka terbukti sukses menjadi CEO bank atau CEO perusahaan ternama lainnya. Sebut saja nama Robby Djohan ataupun Rini Soemarno. Tapi nampaknya, Batara masih setia dengan Citibank. Tahun 2016 ini menjadi tahun ke 28 dirinya mengabdi di Citibank.
Global Banker
Batara merintis karier sejak tahun 1988 di Citi Group New York sebagai karyawan magang. Kala itu, ia baru saja menyelesaikan program MBA Finance St John’s University, New York. Sebelum mengambil program finance di St John’s University, Batara sebenarnya telah menyabet tiga gelar kesarjanaan. Namun, ketiga gelar itu semuanya di bidang ilmu pasti. Antara lain Bachelor of Science di bidang Teknik Kimia dan Polimer (Macromolecul Science) dari Case Western Reserve University serta gelar Master Teknik Kimia dari Steven Institute of Technology.
Ia memilih Citibank bukan tanpa alasan. Menurutnya, perusahaan ini banyak mencetak dan mengembangkan bankir profesional. Alasan ini tak salah lantaran bagi banyak bankir, Citibank ibarat sekolah. “Sejak awal saya sudah memiliki keinginan menjadi bankir,” ujar bapak tiga anak ini.
Pilihan itu memang tak salah, karena selama berkarier di Citibank, Batara banyak diberi kesempatan untuk belajar sebagai bankir profesional. Setelah beberapa tahun merintis karier di Citi Group, New York, Batara lalu di tempatkan di Citibank Indonesia. Di Indonesia, karier Barata terus melesat. Tahun 1992, ia meraih posisi strategis pertamanya sebagai Direktur Keuangan Citi Indonesia.
Selanjutnya selama kurun waktu 1995-1996, ia sempat ditugaskan di Citibank Australia. Lewat program itu, Citibank Group ingin memberi kesempatan kepada pejabat Citibank Indonesia untuk memiliki pengalaman bekerja di luar negeri. Batara pun terpilih untuk bertugas di Negeri Kanguru tersebut. Di Citibank Australia ia menjabat General Cross Border Mortgage. Dengan jabatan tersebut, ia fokus menangani kredit kepemilikan properti. Saat itu, banyak orang-orang Asia, khususnya Indonesia yang berminat memiliki properti di Australia.
Sepulangnya dari Australia, Batara kembali menapaki karier di Citibank Indonesia selama hampir 10 tahun. Dalam masa itu, beberapa jabatan pernah diembannya, mulai dari Retail Branch Director pada 1997 hingga Marketing Director pada 2005. Seorang Citibanker biasanya memang dididik untuk menjadi bankir dengan orientasi global. Dan kesempatan itu pun datang kembali pada diri Batara. Awalnya Batara ingin mencoba kawasan Asia, tapi pada tahun itu belum ada posisi yang cocok. “Saya kemudian minta izin untuk nyebrang ke region lain,” ujar alumnus SMA Kanisius, Jakarta ini.
Citibank Hungaria menjadi tempat berlabuh Batara di tahun 2005, dan dua tahun kemudian Batara ditunjuk sebagai Citi Country Officer & Country Head. “It’s my first Country Head position,” tegasnya.
Tak hanya membawahi Hungaria, Batara juga meng-handle kantor Citibank di 12 negara lain yang masih di kawasan Eropa Timur, yakni Serbia, Montenegro, Bosnia, Makedonia, Albania, Kroasia, Slovenia, Estonia, Lituania, Latvia, Belarus, dan Moldova.
Setelah delapan tahun di Citibank Hungaria, pada 2013, Batara hijrah ke Citibank Filipina. Meski hanya meng-handle satu negara, secara skala ekonomi, jumlah nasabah, dan tanggung jawab lebih besar. “Seingat saya, di Hungaria PDB/GDP-nya 130 miliar dolar AS, Filipina 275 dolar AS miliar. Lebih besar di Filipina dan lebih kompleks bisnisnya,” ungkapnya.
Pada pertengahan 2015 Batara mendapat kepercayaan untuk mengendalikan Citibank Indonesia, persis pada pengujung tahun dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menurut dia, ini merupakan kepercayaan besar dari shareholder Citibank pada dirinya. Sebab, dengan kesepakatan MEA, Indonesia akan menjadi pasar utama dengan besarnya potensi market yang ada.
“Challenge lebih besar karena Indonesia is a big country and one the biggest countries in ASEAN. Tentu pergulatannya akan lebih seru. After ten years working abroad, now it’s time for me to contribute back to my country and I’ll do my very best to give the most impact in Indonesia”.
Pengalamannya sebagai global banker dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan kemajuan industri perbankan tanah air. “Hal-hal yang bagus dari luar Indonesia bisa di-adopt di sini, sebaliknya apa yang baik di Indonesia juga banyak yang bisa diekspor untuk kolega saya di Eropa Timur,” papar pria bertubuh atletis yang menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin berolahraga lari ini.

















