Bank, mungkin adalah makhluk hidup dari jenis yang lain. Ia berkembang dan beradaptasi dengan segala perubahan di alam ekonomi dan bisnis. Dalam situasi kekinian, bank yang dihadapkan oleh lingkungan ekonomi dan bisnis yang serba digital dengan Internet sebagai penggerak utama, ditantang sekali lagi untuk menyesuaikan diri.
Era Internet yang gelombang besarnya dimulai sejak tahun 2000 telah mengubah wajah perbankan. Bahkan beberapa tahun belakangan bank makin bergegas membuat penyesuaian layanan ketika melihat perubahan yang terjadi pada dunia bisnis.
Saat Internet mulai merambah dunia beberapa belas tahun lalu, bank-bank di Indonesia mungkin masih bisa menunda perubahan layanannya. Saat perdagangan elektronik (e-commerce) mulai merebak di Indonesia beberapa tahun lalu, bank-bank yang tidak meresponsnya secara cepat, tidak mengalami kemunduran kinerja yang signifikan.
BERITA TERKAIT
Namun kini ketika hampir semua sendi kehidupan mulai menggunakan Internet dan menjadi serba digital maka tidak ada waktu lagi bagi bank untuk menunda menyesuaikan diri jika tidak ingin tertinggal dalam persaingan. “Praktik perbankan konvensional adalah masa lalu. Saat ini adalah era dimana digital banking adalah masa depan perbankan. Maka bila ada bank yang masih pelit berinvestasi di digital banking, sesungguhnya ia sedang menggali kuburannya sendiri,” kata Sis Apik Wijayanto, Direktur BRI.
Era digital memang seperti epidemi teknologi yang tak bisa dielakkan. Bahkan jelmaannya yang sering disebut financial technology (fintech) yang merujuk pada jasa keuangan berbasis aplikasi sudah menghantam perbankan. Mengacu riset Sharing Vision, sebuah lembaga riset bidang teknologi informasi asal Indonesia, telah terjadi penurunan jumlah kantor cabang pada perbankab global. Di Inggris, jumlah total kantor cabang perbankan tahun 1999 masih 17 ribu namun turun 47 persen menjadi 9 ribu pada tahun ini. Bank of America, salah satu perbankan besar Amerika Serikat, dari 5.328 kantor cabangnya tahun 2014, turun 10 persen jadi 4.786 pada tahun ini.
Gelombang ini akan terus berlanjut dan diprediksi akan membuat industri fintech makin membesar. Tahun ini, Sharing Vision berani memprediksi pangsa pasar fintech mencapai 1,1 persen atau senilai 1,6 triliun dollar AS dari total nilai bisnis perbankan global. “Angkanya akan terus naik hingga mencapai porsi 10 persen pada tahun 2020 nanti,” kata Dr. Dimitri Mahayana, Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision.
Di Indonesia fenomena tersebut juga tengah berdenyut kencang. Seiring dengan meningkatnya pengguna mobile banking dan Internet banking praktik fintech pun makin bergairah. Saat ini sudah ada beberapa perusahaan jasa keuangan berbasis aplikasi seperti Gandengtangan.org, uangteman.com, taralite.com, kliring.co.id, hingga cekaja.com dan kreditgogo.com. (lihat: Para Pemain Fintech Indonesia).
Apa yang tengah berlangsung itu tak pelak akan membuat industri keuangan bergerak ke arah less physical dan more digital. Hal itu, menurut Dimitri dibuktikan dengan melorotnya jumlah cabang bank di beberapa negara di dunia, dan layanan ATM yang mulai memasuki fase saturasi. Di sisi lain, layanan berbasis daring bank konvensional dan atau layanan fintech terus berkembang pesat dengan laju pertumbuhan mencengangkan.
Sehingga, lanjut Dimitri, pada dasarnya, industri keuangan harus bersiap menghadapi turbulensi bahkan goncangan perubahan besar yang dibawakan gelombang pergeseran ke industri finansial online, termasuk fintech yang faktanya sudah mulai beroperasi di Indonesia.
Pada titik ini, sebagaimana sudah terjadi pada layanan finansial dari operator seluler Indonesia, tidak akan ada yang tergerus selama kedua pihak saling terbuka — bukan saling resisten sehingga terjadi friksi seperti pada bisnis transportasi online.
Artinya, menurut Dimitri, baik industri finansial konvesional maupun daring, keduanya saling membutuhkan. Bank membutuhkan fintech khususnya dalam hal kemampuan penguasaan emerging technology yang lebih unggul dan kekinian. Sementara fintech membutuhkan pengalaman-pengalaman bank dalam hal macam-macam layanan finansial, manajemen risiko, dan keselarasan aturan.
“Detailnya, perbankan perlu belajar fintech dari sisi legacy software/system, data integration, improve current products, user experience, pengembangan bisnis dan inovasi, serta teknologi dalam pengembangan aplikasi. Sebaliknya secara rinci, fintech perlu belajar dari perbankan dalam hal leadership experience, sistem regulasi, menjaga reputasi, customer base, risk management experience, serta deep financial pockets,” ungkap Dimitri.
Di sisi lain, titik persamaan lain yang saling menguatkan keduanya adalah bahwa tren e-commerce, merupakan sumbu yang baik bagi kedua jenis layanan. Baik fintech maupun bank konvensional memiliki pangsa dan peluang sama besarnya dari perdagangan daring tersebut.
Keduanya harus mau duduk sama rendah, bersinergi seperti terjadi di negara maju dilakukan Ping An & Lufax, EverBank & Klarna, Barclays Bank & Safello, Alibaba+Ant Financial & Alipay, Ebay & Paypal, serta Metro Bank & Zopa.
Respons Bank
Bank pun mau tidak mau harus segera meresponsnya. Salah satunya dengan merangkul fintech dan menyesuaikan semua lini bisnisnya dengan fenomena itu. Salah satu bank yang sudah memulainya adalah Bank Mandiri, dengan memperkenalkan Mandiri Capital (PT Mandiri Capital Indonesia) yang akan berfokus dalam pendanaan dan pengembangan bisnis fintech.
Di bawah kepemimpinan Eddi Danusaputro sebagai nakhoda, Mandiri Capital memiliki modal awal senilai Rp 500 miliar diperuntukan bagi pihak manapun yang memiliki solusi layanan keuangan inovatif serta memiliki relevansi dengan e-commerce. Keputusan bank mendirikan anak usaha bidang fintech tentu didasarkan perhitungan bisnis yang matang.“Kami akan mendidik inkubator, bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan pemodal ventura lainnya serta memfasilitasi alur kesepakatan (untuk para start up),” kata Eddi.
Ekspansi dalam fintech ditengarai akan menjadi langkah bank tersebut mendongkrak bisnis intinya. Saat ini Bank Mandiri melayani dua juta merchant yang menerima pembayaran secara tunai, dan tiga ratus ribu merchant yang menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture).
Memang, dampak teknologi yang ‘mengganggu’ mulai terasa dalam sektor perbankan. Hal ini diakui Bank Mandiri bahwa bisnis dari sebuah bank adalah tabungan, pinjaman, dan pergerakan modal. Sementara fintech startup berada di bisnis pergerakan uang yang serupa. Maka dari itu Bank Mandiri memasuki ruang ini dengan berfokus pada fintech.
Bank Mandiri memprediksi pasar e-commerce nasional akan mencapai Rp 25 triliun tahun ini, meningkat dari total Rp 18 triliun pada 2015. Adapun transaksi e-commerce yang akan difasilitasi bank tersebut saat ini mencapai Rp 45 triliun, di mana pertumbuhannya dalam tiga tahun terakhir mencapai dua hingga tiga kali lipat. Sementara pendapatannya, diramalkan akan naik dari angka Rp 132 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 172 triliun di tahun 2016 ini.
Meski begitu, bank tetap harus fokus pada bisnis selain fungsi utamanya sebagai lembaga intermediasi yaitu pada jasa pembayaran, terutama bagaimana memastikan adanya transaksi perpindahan uang atau transfer dari populasi yang belum memiliki akun bank (unbanked population). Saat ini ada 22 izin uang elektronik, tetapi beberapa di antara penyedia layanan tersebut membangun landasan dan sarananya sendiri, tanpa melalui perbankan.
“Landasan yang dibangun secara sendiri-sendiri oleh beberapa penyedia layanan ini akan menimbulkan in-efisiensi yang besar. Kami menganjurkan tersedianya sebuah sistem yang terintegrasi dengan baik, sehingga seluruh pemain e-money di Indonesia bisa terhubung dan berperan di dalamnya,” ujar EVP & Head of Digital Channel Business Commonwealth Bank Indonesia, Donny Prasetya.
Memang tidak semua bank terancam ‘punah’, tapi bukan rahasia jika industri tidak melakukan sesuatu, hanya beberapa bank besar saja yang mampu bertahan. “Sekali lagi, digital bukan hanya sekedar teknologi, tapi lebih besar dari itu, digital juga menyangkut pengalaman dan mengubah pola pikir, dan inilah yang hal yang paling sulit untuk dilakukan,” kata Donny.
















