• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Sabtu, Oktober 17, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Masa Depan Direbut dengan Satelit

by Sandy Romualdus
30 Juni 2016 - 00:00
27
VIEWS
Masa Depan Direbut dengan Satelit
0
SHARES
27
VIEWS

Seharusnya 9 Juni lalu menjadi hari yang bersejarah bagi industri perbankan Indonesia jika saja roket peluncur VA 230 yang membawa satelit BRIsat milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Bank BRI) melesat meninggalkan bumi. Namun peluncuran yang akhirnya dilakukan 19 Juni waktu Indonesia, tetaplah menjadi sejarah.

Tidak hanya sejarah menjadi bank yang pertama memiliki dan meluncurkan serta mengoperasikan satelit, namun juga menjadi bank yang pertama yang memiliki kemampuan meng-cover seluruh 13 ribu pulau di Indonesia, bahkan Asia Tenggara hingga Australia Barat.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Ini bukan sekedar inovasi, tetapi ini adalah revolusi dalam strategi layanan bank. Bagi kita mungkin tidak terbayang apa yang bisa dilakukan oleh Bank BRI dengan kepemilikan satelit itu, tetapi tidak bagi manajemen BRI.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

“Dengan satelit, BRI juga ingin memperluas digitalisasi di kantor-kantor BRI, termasuk kantor pusat. Dengan demikian, BRI dapat melakukan video conference dengan seluruh kepala unit dan kepala cabang yang ada,” kata Direktur Utama BRI Asmawi Syam pada konferensi pers akhir bulan lalu.

Selain itu kepemilikan dan pengelolaan BRIsat akan membuat layanan BRI di seluruh wilayah Indonesia hingga ke pelosok sama baik, cepat, dan akuratnya dengan layanan di kota besar seperti Jakarta. Bank yang memiliki kantor layanan sampai ke desa-desa itu juga akan terbantu dengan adanya satelit terutama saat memberikan pelayanan daring kepada nasabah. “Kami ingin memberikan layanan sama baiknya, cepatnya, dan akuratnya baik di desa maupun kota. Yang di gunung-gunung, di sungai-sungai, layanannya akan sama cepatnya dengan Jakarta setelah ada satelit,” kata Asmawi.

Lebih lanjut, Asmawi menjelaskan, BRI memasang dua target setelah memiliiki satelit sendiri, yakni BRI ingin menjangkau wilayah yang selama ini tidak terjangkau dan memperluas layanan mereka hingga ke ujung wilayah Tanah Air.

BRI, saat ini merupakan bank yang memiliki agen Laku Pandai terbanyak di Indonesia. Hingga akhir tahun ini BRI menargetkan memiliki 75.000 agen Laku Pandai, sementara hingga saat ini BRI telah memiliki 59.000 agen Laku Pandai. Dengan adanya satelit, maka layanan Laku Pandai dapat lebih optimal.

Di samping itu, BRI juga ingin mengoptimalkan layanan digital Teras BRI, di mana perseroan menjangkau nasabah di pulau-pulau kecil dan terluar menggunakan kapal. Pun BRI juga ingin mengoptimalkan digitalisasi perbankan di pasar-pasar tradisional melalui Teras Pasar. “Teras Pasar akan kita digitalkan, karena digitalisasi perbankan hari ini sudah merambah sampai ke desa-desa dan pasar-pasar tradisional. Dengan adanya satelit ini komitmen BRI untuk selalu eksis dan bertahan ke depan,” jelas Asmawi.

Akan tetapi, semua manfaat tidak bisa langsung dirasakan oleh BRI begitu satelit yang diluncurkan itu mengorbit di angkasa. Setidaknya baru setahun setelah peluncuran, bank tersebut bisa mulai menuai manfaat dari satelit yang dibeli seharga 250 juta dollar atau sekitar Rp3,37 triliun itu.

Waktu setahun, menurut SEVP IT Strategy and Satelite BRI Hexana Tri Sasongko, diperlukan untuk mengintegrasikan seluruh teknologi dan koneksi yang dimiliki serta ujicoba pada sistem yang ada pada BRI. “Kegembiraan pertama BRIsat meluncur, kegembiraan berikutnya 20 menit kemudian pisah satelit, 10 menit kemudian BRIsat lepas itu kegembiraan ketiga dan sudah sampai titik tertinggi orbit. Setelah itu testing dan total tiga bulan itu baru connect, baru terasa satu tahun kemudian,” ujar dia beberapa bulan lalu.

Meski demikian hal itu tidak bisa menutupi fakta bahwa BRI menjadi satu-satunya bank di Indonesia dan dunia yang memiliki satelit sendiri. Bank pelat merah ini menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat, Space System Loral LLC (SSL) untuk membangun satelit dan perusahan peluncur roket asal Prancis, Arianespace.

Sejatinya, ide membeli dan 

Terus Mengembangkan IT

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menargetkan realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp4,56 triliun atau meningkat 45,57 persen dari belanja modal 2015. Belanja modal tersebut terdiri dari belanja modal non-IT sebesar Rp2,37 triliun dan belanja modal IT sebesar Rp2,19 triliun.
Corporate Secretary Bank BRI Hari Siaga Amijarso mengatakan, untuk belanja modal non-IT, rencana digunakan untuk up grade jaringan kerja yang sudah ada dan sebagian kecil untuk pembukaan unit kerja bisnis mikro baru. Sementara, belanja modal IT untuk pemenuhan hardware dan software penunjang operasional dan bisnis perusahaan.

“Hingga akhir Maret 2016, perseroan telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp511 miliar, atau sebesar 11,20 persen dari total anggaran capex 2016,” kata dia di Jakarta, Kamis.

Realisasi belanja tersebut mayoritas digunakan untuk pengembangan IT. Sementara secara nominal, total belanja untuk pengembangan IT yang sudah terealisir sebesar Rp356 miliar, dan untuk non-IT baru tercapai Rp155 miliar.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Menurut Hari, minimnya penyerapan belanja modal di kuartal I tersebut lebih dikarenakan kebutuhan belanja di awal tahun yang memang belum begitu besar. “Realisasi capex belum maksimal karena proyek-proyek masih on process, dan diprediksi sebagian besar penggunaannya bakal terealisir di akhir kuartal tiga dan empat,” kata dia.

Dia menuturkan, untuk menjadi bank terbesar di bidang transaksi perbankan serta untuk mencapai dominasi di bidang microbanking, tahun ini Bank BRI berencana untuk menambah serta mengembangkan jaringan e-channel dan jaringan kerja bisnis mikro.

Untuk jaringan e-channel, perseroan berencana menambah 1.500 unit ATM, EDC 70 ribu unit dan mesin CDM 1.000 unit. “Sedangkan untuk jaringan kerja bisnis mikro, BRI akan melakukan up grade fisik dan pembukaan unit kerja baru di bidang mikro, seperti penambahan unit kerja Teras BRI, Teras BRI mobile dan teras BRI kapal,” kata Hari. 

memiliki satelit muncul lantaran bank dengan laba terbesar di Indonesia ini pernah mengalami gangguan jaringan komunikasi. Delapan provider telekomunikasi yang dipakainya sudah tidak mampu menampung aktivitas transaksi di 22 ribu ATM BRI.

Dengan memiliki satelit itu, manajemen BRI menilai bahwa perseroan menghemat biaya operasional mencapai Rp500 miliar sampai Rp600 miliar per tahun. Sedangkan harga satelit tersebut Rp3,35 triliun dengan masa aktif 17 tahun. Selain itu yang tak kalah pentingnya, bisa meminimalisasi gangguan jaringan di sekitar 11 ribu kantor, 22 ribu ATM, dan 180 ribu Electronic Data Capture (EDC) BRI.

Selain efisiensi bisnis, kepemilikan satelit ini juga bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah, mengembangkan agen branchless banking atau BRIlink. “Jadi, kami tak perlu membangun kantor cabang, cukup meng-online-kan agen-agen,” kata Asmasi Syam, Direktur Utama Bank BRI saat ini.
BRI, juga bakal menambah branchless banking di seluruh pelosok Indonesia, seperti pedalaman Papua, Kalimantan serta mengembangkan elektronic banking.

Asmawi menjelaskan, saat ini BRI sudah membangun ground station atau stasiun pengendali di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. “Pengoperasian satelit dilakukan oleh putra-putri terbaik bangsa. Ada 53 orang yang akan mengoperasikan satelit, mengelola 45 transponder yang ada,” terang Asmawi.

Sementara itu, Randi Anto, Direktur Manajemen Aset dan Kredit BRI menambahkan, “BRI berupaya memperkuat posisi sebagai market leader di sektor Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM).” Dengan pembelian satelit, Randi berharap BRI bisa “mengunci” penetrasi bank-bank asing yang hendak masuk ke daerah.

Menangkan Masa Depan

Kepemilikan satelit plus kepemimpinan di pasar kredit mikro membuat BRI tidak akan memiliki kendala berarti dalam mempertahankan dan memperluas jaringan bisnis. Ditambah dengan wilayah Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan juga perkembangan digital banking saat ini, membuat potensi bank tersebut di masa depan sangat cerah.

Menurut Guru Besar Ekonomi UI Rhenald Kasali, dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan terpanjang di dunia mengontrol ekonomi, disparitas, cost structure,leadership, infrastruktur dan aneka selalu akan menimbulkan kesulitan tersendiri.

“Mengelola ekonomi kepulauan (archipelago), dapat diibaratkan seperti Amerika Serikat mengawal dunia memakai kapal individu dengan pulau-pulau yang beragam potensi ekonomi dan disparitasnya,” kata dia dalam tulisannya.

Selain masalah banyaknya pulau-pulau, saat ini Indonesia tengah berada dalam era disruption, seperti halnya dunia global. Disruption sendiri dapat diartikan sebagai inovasi yang bisa membuat segala sesuatu yang dilakukan incumbents bakal usang, ketinggalam zaman.

Selain itu, disruption biasanya dilakukan dengan bisnis model baru yang berbeda dengan yang lama. Yang akibatnya, mereka akan merusak pasar dengan posisi low cost dan menawarkan pasar dengan biaya jauh lebih murah.

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

“Ambil contoh saja taxi online vs taxi konvensional lah. Sedangkan perbankan kini sedang menghadapi ancaman serius dari fintech, termasuk peer to peer lending dan crowdfunding. Wajar kalau BRI harus mendalami strategi disruption. Di nusantara ini, asal Anda tahu saja, di pulau-pulau terpencil yang potensinya besar, sering kali hanya BRI yang hadir,” kata Kasali di blog rumahperubahan.

Meski terbilang mahal, langkah BRI membeli dan memiliki satelit terbilang tepat untuk memastikan pihaknya bisa bersaing dan memenangkan bisnis di masa depan. Masa di mana penguasaan sistem informasi dan komunikasi akan menjadi senjata ampuh nan mematikan untuk memenangkan persaingan.

 
 
 
 
 
Previous Post

Less Physical, More Digital

Next Post

Aturan Mengejar Zaman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

by Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Jamkrindo Gandeng Bank Mantap

Ulang Tahun, Jamkrindo Bagikan Sembako

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance