Stabilitas.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026). Sentimen positif dari bursa global (Wall Street) dan indikasi stabilisasi nilai tukar rupiah diproyeksikan menjadi penopang utama, kendati aksi jual bersih (net sell) investor asing masih membayangi.
Pada penutupan perdagangan awal pekan, indeks komposit sukses parkir di zona hijau dengan apresiasi sebesar 1,11% ke level 6.195,43.
Tim riset Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa secara teknikal, IHSG menunjukkan indikasi pembalikan arah (reversal) yang cukup solid setelah mampu bertahan di atas garis Moving Average 5 hari (MA5). Penguatan ini dikonfirmasi oleh penyempitan histogram negatif pada indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) serta pergerakan Stochastic RSI yang mulai mengarah ke area pivot.
BERITA TERKAIT
“Melihat indikator tersebut, IHSG berpotensi melanjutkan penguatannya dengan menguji level psikologis baru di rentang 6.220–6.280 pada hari ini,” tulis Phintraco Sekuritas dalam catatan risetnya, Rabu (3/6/2026).
Menanti Aliran Modal Pasca-MSCI Rebalancing
Senada, riset BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laju IHSG akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat terbatas. Pelaku pasar dinilai mulai mencermati sejumlah katalis strategis, termasuk persiapan penyesuaian bobot (rebalancing) indeks FTSE Russell yang dijadwalkan pada akhir Juni 2026.
Analis menilai, berakhirnya tekanan jual dari proses rebalancing indeks MSCI pada periode sebelumnya membuka peluang bagi kembalinya arus modal asing (foreign inflow) ke pasar ekuitas domestik. Kendati demikian, volatilitas geopolitik global tetap menjadi faktor risiko yang diwaspadai investor.
“Di sisi lain, upaya stabilisasi nilai tukar rupiah berpotensi besar menjadi katalis positif tambahan bagi pergerakan indeks dalam jangka pendek,” sebut tim riset BRI Danareksa Sekuritas.
Berdasarkan data pasar, mata uang rupiah ditutup menguat tipis 0,19% ke posisi Rp17.839 per dolar AS pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Meski mulai stabil, posisi mata uang garuda tercatat masih terdepresiasi sebesar 6,95% sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Komoditas dan Wall Street Jadi Booster
Sementara itu, tim analis CGS International Sekuritas Indonesia menggarisbawahi bahwa pelemahan akumulatif rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan masih menjadi sentimen negatif yang dapat membatasi agresivitas penguatan IHSG.
Namun, daya dorong eksternal berupa reli kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan dan performa impresif indeks saham di bursa Wall Street Amerika Serikat dinilai cukup kuat untuk menjaga momentum bullish indeks komposit.
“IHSG hari ini diprediksi akan bergerak mixed cenderung menguat. Kami memetakan area support indeks berada di level 6.140 dan 6.085, sementara target resisten terdekat berada di kisaran 6.250 hingga 6.305,” papar analis CGS International Sekuritas.***






.jpg)









