Klik tombol berikut ini untuk memesan edisi digital Majalah Stabilitas

Edisi Oktober 2020

64
Dilihat
0
Bagikan
64
Dilihat

Pembaca Yang Budiman

Dalam masa pandemi yang mengarah kepada krisis ini, tidak banyak perusahaan yang memikirkan ekspansi. Pemilik perusahaan kebanyakan akan sibuk untuk menjaga keberlangsungan bisnis dengan memberikan perhatian penuh terhadap masalah likuiditas.

Meski demikian perusahaanperusahaan yang luar biasa, baik secara kekuatan finansial maupun pola pikir, tentu memikirkan yang tidak dipikirkan perusahaan kebanyakan. Salah satunya adalah soal merger dan akuisisi.

BERITA TERKAIT

Tidak seperti di negara-negara ekonomi maju, strategi merger dan akuisisi (M&A) masih belum optimal dimanfaatkan oleh pelaku bisnis di Indonesia. Strategi M&A di Tanah Air lebih banyak didorong oleh otoritas dan pemerintah.

Padahal konsolidasi demi kesinambungan perusahaan sudah menjadi isu sentral terutama di lembaga keuangan dunia dalam beberapa tahun terakhir ini. Dan strategi yang kerap digunakan sebagai best practice untuk mencapai tujuan itu adalah M&A.

Walaupun demikian strategi M&A ini merupakan proses yang rumit karena untuk memperoleh kandidat yang cocok tidak selalu mudah. Berbagai macam isu muncul di sini mulai dari sinergi, valuasi maupun integrasi. Sinergi termasuk bagian yang krusial untuk diidentifikasi.

Selan itu M&A merupakan proses yang kompleks, dan memiliki risiko tersendiri. Penelitian menunjukkan 70 persen M&A berakhir dengan gagal.

Salah satu penyebab kegagalannya adalah kurangnya pengalaman. Oleh karena itu, eksekutif pada perusahaan yang menjalankan proses anorganik perlu memahami secara menyeluruh cara menjalankan proses M&A.

Nah, Majalah Stabilitas akan mengangkat hal itu sebagai tema laporan utama edisi kali ini yang
dapat Anda simak di lembar-lembar berikutnya.

Pada tulisan awal akan kami mengulas mengenai latar belakang M&A dari sisi regulator dan juga langkah M&A yang sudah dilakukan pemerintah, baik di sektor keuangan atau di sektor lain. Pembahasannya tidak terlepas POJK No. 41/POJK.03/2019 tentang penggabungan, peleburan, pengambilalihan, integrasi dan konversi bank, atau POJK 12 tahun 2020.

Pada bagian selanjutnya kami akan mengulas mengenai dua faktor pendorong strategi M&A di Indonesia
yaitu faktor regulator/regulasi dan faktor pasar. Di Indonesia dinilai banyak perusahaan yang ready to sell, meskipun yang jadi pertanyaan adalah apakah factor regulasi bisa mendukung atau tidak mengganggu investor (asing) untuk membeli perusahaan itu.

Akan pula diulas di bagian berikutnya mengenai isu investor asing atau domestik yang akan membeli atau mengakuisisi perusahaan di Indonesia.

Manakah yang lebih dominan dari kedua asal investor itu? Apakah isu tersebut masih penting untuk dipertimbangkan pemilik perusahaan. Juga membahas Isu transfer pricing dan restrukturisasi bisnis.

Selanjutnya akan dibahas mengenai aspek hukum dari M&A yang biasanya menjadi ganjalan investor asing yang ingin masuk atau membeli perusahaan di Indonesia. Selain itu juga membahas ganjalan-ganjalan lainnya, seperti dari pajak, atau peraturan daerah.

Dalam bagian berikutnya akan diulas mengenai peluang dari M&A untuk meningkatkan atau mengembangkan sector perbankan.

Disebut-sebut M&A justru akan menjadi momentum bagi bank BUKU 1 dan 2 untuk naik kelas atau meningkatkan daya saingnya. Serta pengalaman M&A di bank-bank di Indonesia seperti Bukopin, BTPN, Permata, Danamon dan lain-lain.

Seperti biasa kami juga tetap menghadirkan tulisan-tulisan lainnya dalam rubrik-rubrik tetap yang tentunya kami harapkan bisa menginspirasi Anda dalam mengelola perusahaan dalam kerangka manajemen risiko.

Klik tombol berikut ini untuk memesan edisi digital Majalah Stabilitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Solve : *
1 + 30 =


BACA JUGA

Related Posts

TERPOPULER

Terbaru

STABILITAS CHANNEL

TWITTER STABILITAS

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.