DAI dan AAJI menggelar puncak Hari Asuransi 2026 untuk memacu literasi publik dan UMKM di tengah pertumbuhan aset industri yang menembus Rp1.200,55 triliun.
Stabilitas.id – Dewan Asuransi Indonesia (DAI) bersama asosiasi industri asuransi menggelar acara puncak peringatan Hari Asuransi 2026 di Grha AAJI, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Memasuki perayaan ke-20, momentum ini difokuskan untuk memperkecil kesenjangan literasi sekaligus memperluas inklusi perlindungan asuransi bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Mengusung tema “Literasi Asuransi Untuk Negeri” dan subtema “Pahami – Miliki – Lindungi”, seluruh asosiasi perasuransian di bawah naungan DAI berkomitmen memperkuat edukasi publik agar masyarakat memahami manfaat produk proteksi secara utuh.
Berdasarkan Laporan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat inklusi sektor perasuransian tercatat meningkat menjadi 29,55 persen dibandingkan posisi SNLIK 2025 sebesar 28,50 persen. Sementara itu, tingkat literasi perasuransian tercatat sebesar 42,84 persen, mengalami penyesuaian dari tahun sebelumnya di level 45,45 persen.
BERITA TERKAIT
Dari sisi fundamental industri, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Agustus 2026 mencatat total aset industri asuransi nasional mencapai Rp1.200,55 triliun, tumbuh 2,56 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pada segmen asuransi komersial, total aset tercatat sebesar Rp982,18 triliun atau naik 3,59 persen YoY, dengan akumulasi pendapatan premi tumbuh 2,66 persen YoY menjadi Rp255,40 triliun.
Pendapatan premi asuransi jiwa tercatat menopang kinerja industri dengan capaian Rp125,75 triliun atau meningkat 7,01 persen YoY, sedangkan premi asuransi umum dan reasuransi mencapai Rp99,61 triliun atau mengalami kontraksi 2,35 persen YoY. Adapun pertumbuhan kontribusi asuransi syariah hingga Agustus 2026 berada di level minus 0,12 persen YoY, membaik dibandingkan bulan sebelumnya.
Dari sisi permodalan, industri tetap berada dalam kondisi solid dengan tingkat Risk Based Capital (RBC) asuransi jiwa sebesar 471,57 persen serta asuransi umum dan reasuransi sebesar 331,52 persen, jauh di atas ambang batas minimum 120 persen. OJK memproyeksikan pertumbuhan program asuransi hingga akhir 2026 berada pada kisaran 2 persen hingga 4 persen.
Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara menyampaikan bahwa memasyarakatkan pentingnya berasuransi masih menjadi tantangan, sehingga panitia menempatkan literasi dan edukasi sebagai agenda utama setiap tahun.
“Melalui berbagai kegiatan literasi di beberapa kota, konferensi pers, hingga pemanfaatan media cetak, online, dan media sosial, kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengetahui, tetapi juga memiliki produk asuransi dan merasakan langsung manfaatnya. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap asuransi sebagai instrumen proteksi dapat terus tumbuh, sehingga semakin banyak keluarga dan pelaku usaha yang terlindungi dari risiko di masa depan,” kata Yulius.
Senada, Ketua Bidang Kanal Distribusi AAJI Hengky Djojosantoso menegaskan bahwa asuransi kini telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat dalam menghadapi berbagai risiko tak terduga.
“Peningkatan literasi dan inklusi asuransi adalah langkah strategis dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan dari berbagai risiko kehidupan. Asuransi bukan lagi sekadar produk keuangan, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat untuk menghadapi risiko yang dapat terjadi kapan saja, seperti bencana alam maupun kecelakaan,” tegas Hengky.
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Asuransi 2026 Cicilia Nina Triana menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan tahun ini turut menyasar literasi dan inklusi asuransi bagi pelaku UMKM melalui kerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Kegiatan edukasi dilaksanakan di tujuh titik penyelenggaraan, meliputi Semarang (dua titik), Jakarta, Surabaya, Makassar, Manado, dan Denpasar.
“Melalui kerja bersama seluruh asosiasi dan pelaku industri perasuransian untuk melakukan literasi, kami berharap kepercayaan masyarakat terhadap asuransi dapat terus tumbuh. Edukasi dan literasi asuransi perlu dilakukan secara masif dan berkesinambungan, agar asuransi lebih mudah dipahami dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, masyarakat akan semakin menyadari pentingnya perencanaan keuangan untuk perlindungan, sehingga mampu memberikan rasa aman dan nyaman di masa depan, sekaligus menjadikan asuransi sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga ketahanan perekonomian nasional,” pungkas Cicilia Nina. ***

















