Di tengah ancaman krisis global dan tren turunnya suku bunga di dalam negeri, instrumen reksa dana dinilai sebagai salah satu pilihan tepat bagi investor. Mengapa?
Oleh : Lila Intana
BERITA TERKAIT
Bagi para pemilik dana, akhir tahun selalu menjadi momentum untuk menghitung kembali investasi yang sudah dilakukan. Momen tersebut sekaligus juga digunakan untuk merencanakan investasi di tahun yang baru. Lalu dimanakah keranjang investasi yang paling potensial memberikan keuntungan di Tahun Naga Air ini atau minimal agar “telur” investasi bisa menetas dengan aman tahun ini?
Tahun ini, investor tampaknya akan berhitung lebih hati-hati sebelum menempatkan dananya di saat kisruh sektor keuangan di dua kutub perekonomian, Eropa dan Amerika Serikat, belum mereda. Di samping tentunya faktor-faktor makroekonomi dalam negeri, seperti inflasi, tingkat bunga serta pertumbuhan ekonomi.
Bagi para risk taker, makin besar potensi keuntungan makin baik meskipun searah dengan besarnya risiko. Meski dana yang dimiliki terbatas, pilihan menaruh uang di bank menjadi opsi ke sekian karena suku bunga deposito yang rendah. Sebaliknya kondisi pasar modal yang belum stabil bisa jadi malah membuat investor lebih tertarik karena potensi keuntungan yang besar.
Namun berinvestasi di saham memerlukan keahlian khusus dan modal yang tidak sedikit. Tapi jangan takut, investor yang modalnya terbatas dan belum berpengalaman bisa memilih berinvestasi di reksa dana saham (RDS). Investasi ini menempatkan hampir 80 persen dana pada instrumen saham.
Memang secara total, tahun lalu instrumen RDS kalah kinclong dari tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang Januari- November kemarin, rata-rata return RDS, baik konvensional maupun syariah minus 4,35 persen. Meskipun demikian jika ditilik lebih dalam lagi, angka total itu tidak sepenuhnya menggambarkan RDS yang lesu karena terdapat 15 RDS yang sukses membukukan return di atas pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2011.
Di antara yang untung itu adalah RDS Makinta Mantap milik PT Makinta Securities yang mampu membukukan pertumbuhan return sebesar 16,04 persen. Pertumbuhan return tertinggi kedua dibukukan RDS Panin Dana Maksima milik PT Panin Asset Management sebesar 6,92 persen. RDS Millenium Equity milik PT Millenium Danatama Indonesia mencatatkan return 6,47 persen, menduduki peringkat ketiga terbesar.
Setidaknya begitulah berdasarkan data PT Infovesta Utama, perusahaan penyedia jasa informasi dan riset independen untuk reksa dana dan obligasi. Menurut sumber yang sama pada 2010, return RDS mampu mencapai 30,63 persen, yang terutama ditunjang oleh kenaikan IHSG yang mencapai 46,13 persen. Imbal hasil tertinggi sempat terjadi pada 2009 tatkala return RDS mencapai 80 persen. Bahkan, beberapa RDS sekuritas mencetak return di atas 150 persen setahun!
Bagaimana peluang RDS di 2012? Infovesta Utama memproyeksikan pertumbuhan return-nya akan mampu menyentuh level 18-20 persen meski krisis Eropa masih menghantui. Proyeksi itu sejalan dengan prediksi IHSG yang akan terapresiasi hingga ke level 4.600-4.700.
“Rata-rata return RDS itu dengan asumsi indeks 4.600. Memang saat ini semua juga berdasar asumsi. Cuma memang mesti hati-hati ngomong, kami melihat dari berbagai sisi,” kata analis riset Infovesta Utama, Edbert Suryajaya.
Bahkan dengan laporan dari lembaga pemeringkat Fitch yang menaikkan peringkat Indonesia ke level investment grade, membuat peluang naiknya indeks saham makin terbuka.
Fitch Ratings menaikkan peringkat utang menjadi BBB- dari BB+ dengan outlook atas kedua peringkat tersebut Stabil. Country Ceiling juga dinaikkan menjadi ‘BBB”, dan Short-Term Foreign-Currency dinaikkan menjadi F3 yang membuat Indonesia sejajar dengan beberapa negara maju.
Dengan kondisi itu pula maka banyak pelaku yang optimistis kinerja RDS juga akan meningkat seiring dengan kenaikan indeks saham, meski kondisi Eropa tetap menjadi perhatian. “Dari sisi valuasi mestinya lebih murah dari awal tahun. Kalau dibandingkan dengan deposito itu earning yield-nya 8 persen, obligasi 6 persen, RDS ke depan kami rasa cukup baik,” kata Direktur Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Putut Andanawarih.
Jangka Panjang
Tetapi bukan berarti tidak ada peluang instrumen investasi itu tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan terutama dalam waktu singkat. Meski begitu Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abipriyadi Riyanto tetap merekomendasikan investor untuk tetap berinvestasi di reksa dana karena dalam jangka panjang tetap menguntungkan.
“Untuk berinvestasi di reksa dana itu tidak cukup hanya setahun. Tapi setidaknya butuh waktu lima tahun hingga 10 tahun,” kata dia.
Dia mengibaratkan berinvestasi dalam reksa dana tersebut harus dibangun sedikit demi sedikit seperti menyusun bata. “Jadi investor jangka panjang sebaiknya investasi terus per bulannya. Nah, nanti lihat hasilnya di 2017 ke atas seperti apa,” paparnya.
Abi menambahkan, krisis di Eropa memang akan berpengaruh, namun dalam kurun waktu jangka pendek, bukan pada kurun waktu jangka panjang.
Sekedar informasi, dana kelolaan reksa dana per akhir Oktober tahun lalu mencapai Rp27,91 triliun. Total dana kelolaan tersebut berasal dari reksa dana sebesar Rp10,5 triliun, lalu Rp2,5 triliun dari bisnis penasihat keuangan dan sisanya berasal dari kontrak pengelolaan dana (KPD). SP





.jpg)










