• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 25, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Hati-Hati Konglomerasi

by Sandy Romualdus
6 Agustus 2015 - 00:00
77
VIEWS
Hati-Hati Konglomerasi
0
SHARES
77
VIEWS

BERITA TERKAIT

Himpun Dana Lebih dari Rp5 Miliar di FinFest 2026, OJK Apresiasi Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

Konglomerasi menjadi model bisnis yang sedang tren. Saat ini kebanyakan perusahaan terafiliasi dengan perusahaan lain. Bila di Indonesia sedang booming, di beberapa negara model konglomerasi perlahan-lahan sudah mulai ditinggalkan, termasuk di Amerika Serikat. Alasannya, konglomerasi sangat rentan dan berpotensi menimbulkan efek berantai (contagion effect). Faktor inilah yang menjadi pemicu runtuhnya perusahaan raksasa dan akhirnya melahirkan krisis pada 2008.
Selain trauma dengan krisis 2008. Tingkat kesadaran terhadap risiko (risk awareness) sepertinya turut menjadi pendorong pengusaha di negara Paman Sam meninggalkan model bisnis yang sarat risiko seperti konglomerasi. Memang memiliki bisnis menggurita berpeluang mendatangkan keuntungan berlipat-lipat. Namun, bila beragam risiko tidak terkelola dengan baik, bukan untung yang didapat malah buntung.
Ada beberapa sebab yang memicu perusahaan memilih model konglomerasi. Pertama, opportunity pasar masih terbuka lebar. Survei OJK yang dilakukan pada 2013 menyatakan, tingkat literasi keuangan di Indonesia baru mencapai 21,8 persen dengan tingkat inklusi sebesar 59,7 persen, sementara untuk masyarakat berpenghasilan rendah baru 18,71 persen.
Data tersebut mengabarkan tantangan sekaligus peluang. Tantangan tersebut dijawab regulator dengan meluncurkan program branchless banking (laku pandai). Sementara bagi industri, sekitar 78,2 persen peluang di depan mata sudah terbuka. Begitu pun yang terjadi di pasar asuransi Menurut data OJK, dari 240 juta
penduduk Indonesia hanya 18 persen yang sudah melek asuransi, atau sekitar 43,2 juta orang. Artinya, 196,8 juta orang yang belum menggunakan asruansi atau sekitar 82 persen. Maka, wajar saja bila beberapa bank ingin ikut mengecap manisnya bisnis asuransi.
Kedua, ketika beberapa perusahan mulai memilih model konglomerasi pada awal 2000-an, belum ada satu pun aturan mengenai konglomerasi yang terbit. Baru November 2104, ketika fungsi pengawasan berada di tangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) peraturan mengenai konglomerasi dikeluarkan. Itupun aturan yang tertuang dalam POJK 17&18 lebih menonjolkan aturan main pengelolaan konglomerasi. Sementara mengenai konglomerasinya itu sendiri belum ada aturan. Artinya, OJK menganggap konglomerasi sebagai keniscayaan. Tidak perlu dilarang, cukup diatur saja pengelolaannya.
Saat ini, sudah ada 50 group konglomerasi keuangan yang menguasai 70,5 persen aset industri jasa keuangan yang senilai Rp 5.142 triliun dari total aset Rp 7.289 triliun. Sekitar 51 persen dari PDB bila diasumsikan PDB saat ini sebesar Rp 10.000 triliun. Padahal studi emprik dalam dua dekade terakhir mengenai konglomerasi hasilnya mencengangkan. Bila selama ini pelaku usaha mayoritas beranggapan model bisnis konglomerasi akan mendatangkan keuntungan berlipatlipat, hasil studi mengungkapkan sebaliknya. Perusahaan yang paling terdiversifikasi dan besar dalam setiap sektor, ternyata kurang menguntungkan dan kurang efisien dibandingkan pesaing mereka yang lebih kecil dan lebih terspesialisasi. Dalam penelitian tersebut juga meruntuhkan anggapan adanya economics of super scale ketika merger perbankan terjadi pada periode 1980-an dan 1990-an di Amerika Serikat. Kenyataan yang ditemukan malah bertolak belakang. Dua per tiga dari merger tersebut gagal menghasilkan sinergi yang diharapkan.
Keuntungan terus merosot, kerugian terjadi berkepanjangan. Beberapa merger terbesar selama 1996-1998 juga menoreh kekecewaan, seperti merger Bank One dan First Chicago NBD dan First USA). Akuisisi First Union terhadap CoreStates dan MoneyStore, NationBank merger dengan Barnett Bank dan Bank of America, Well Fargo mengakuisisi First interstate. Bila regulator sat ini belum kuasa menahan laju pertumbuhan konglomerasi dengan menurunkan aturan pelarangan, tidak ada pilihan lain, industri dan regulator harus saling bahu membahu mengelola risiko yang berpotensi mengundang kejadian buruk yang kemungkinan muncul dari model ini.
Bila entitas utama memegang tanggung jawab paling besar mengelola seluruh risiko perusahaan dari konglomerasinya dari sisi industri. Sementara OJK mempersiapkan perangkat-perangkat pengawasan. Tenaga pengawas akan menjadi kunci. Berintegritas menjadi kriteria pertama, selanjutnya pengawas juga harus menguasai dengan detail mengenai operasional seluruh sektor jasa keuangan (bank, asuransi, pembiayaan, pasar modal). Kemudian yang tidak kalah penting, secara kuantitas juga harus memadai. Jangan sampai nanti terdengar, pengawasan konglomerasi terhambat karena kendala pada jumlah pengawas.
Tidak cukup hanya pengelola industri dan OJK saja yang terlibat. BI juga harus diikutsertakan. Sebagai bank sentral yang mempunyai tugas mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, melalui kestabilan kurs terhadap barang dan jasa (inflasi), serta terhadap mata uang negara lain, BI dapat peran sebagai penahan goncangan yang bersumber dari eksternal. Karena risiko bisa datang dari mana saja. Dari pengelola industri, pengawas, dan dari selain keduanya.
Wallahu’alam

  • Baca juga: Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi
  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan
  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital
 
 
 
 
 
Previous Post

BRISyariah Luncurkan Simpel iB

Next Post

Sekilas Aturan LTV Properti

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

by Sandy Romualdus
20 Oktober 2026 - 17:40

Oleh : Mas’ud Said - Penulis buku BPD Resilient, Competitive and Contributive PELUNCURAN Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Indonesia (RP3I)...

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Himpun Dana Lebih dari Rp5 Miliar di FinFest 2026, OJK Apresiasi Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

Sikapi Dinamika Bursa, BNI Pacu Aksi Buyback Terukur Berlandaskan Aset Rp1.434 Triliun

Di Rakornas TPAKD 2026, Presiden Prabowo Janji Siapkan Pembiayaan Rakyat Rp400 Triliun

OJK Tegaskan Sanksi Denda Rp2,1 Triliun Bukan Akhir, Buka Peluang Jerat Pidana Pasar Modal

Redam Volatilitas Pasar, BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

Perkuat Diplomasi Ekonomi, BRI Dorong Korporasi dan UMKM Lokal Masuk Rantai Pasok Global

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
BUMN Bersihkan dan Hijaukan Kawasan Muara Angke

BUMN Bersihkan dan Hijaukan Kawasan Muara Angke

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance