EBC Financial Group memperingatkan lonjakan inflasi pangan 5,03 persen dan El Nino berisiko mengerek ekspektasi harga peritel serta menyempitkan ruang BI-Rate.
Stabilitas.id – Tekanan harga komoditas pangan di dalam negeri kian meningkat. Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) melonjak hingga menyentuh level 5,03 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026. Laju tersebut melompat jauh melampaui inflasi umum yang berada di posisi 3,28 persen YoY.
Kenaikan harga pada komoditas pangan pokok seperti cabai, daging ayam, beras, dan telur ini dipicu oleh gangguan cuaca dan naiknya biaya input produksi. Data ini menjadi perhatian pasar menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20–21 Oktober 2026.
EBC Financial Group (EBC) menilai lonjakan harga pangan berisiko mengerek ekspektasi inflasi jika berlangsung berkepanjangan. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran BI periode September, Indeks Ekspektasi Harga (IEH) untuk Februari 2027 naik tajam ke level 177,9 dari 166,0 pada periode sebelumnya. Hal ini menandakan peritel memproyeksikan kenaikan harga barang masih berlanjut.
BERITA TERKAIT
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group Sana Ur Rehman menyatakan bahwa potensi rambatan ekspektasi harga dari tingkat pedagang eceran ke barang dan jasa lainnya perlu diwaspadai secara cermat.
“Inflasi umum naik 3,28% secara tahunan dan masih berada dalam rentang sasaran BI sebesar 1,5%–3,5%. Sementara itu, harga pangan bergejolak melonjak 5,03%,” ujar Sana Ur Rehman. “BI sudah menegaskan kebijakannya tidak merespons lonjakan harga yang bersifat sementara. Namun, jika pelaku usaha dan rumah tangga mulai berekspektasi harga akan terus naik, guncangan pangan yang sifatnya sementara bisa berubah menjadi tekanan yang menetap.”
Di sisi lain, inflasi inti nasional justru menunjukkan tren melandai ke level 2,84 persen pada September dari 2,92 persen pada bulan sebelumnya. Lebarnya jarak antara inflasi pangan dan inflasi inti mengindikasikan bahwa tekanan inflasi saat ini masih terisolasi pada rantai pasok pangan dan belum menjalar ke seluruh sendi perekonomian.
Kendati demikian, tantangan cuaca ekstrem berpotensi memperpanjang disrupsi pasokan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi anomali iklim El Niño berada pada level sangat kuat dan diprakirakan bertahan hingga akhir April 2027, dengan 66,09 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah pada dasarian kedua Oktober ini.
Kondisi tersebut dinilai dapat menyempitkan ruang pelonggaran moneter bank sentral. BI saat ini mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen. Jika ekspektasi inflasi peritel terus merangkak naik, ruang pelonggaran suku bunga berpotensi terhambat, yang pada gilirannya memengaruhi imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta pergerakan nilai tukar rupiah.
“Untuk saat ini, kenaikan harga masih terpusat di pangan, dan BI mengaitkannya dengan faktor cuaca serta biaya input yang lebih tinggi. Inflasi inti justru melandai,” kata Rehman. “Kami mencermati ekspektasi harga di tingkat peritel. Jika terus naik selama El Niño berlangsung, masalah cuaca bisa berubah menjadi masalah harga yang lebih panjang. Jika berhenti naik, ini hanya akan menjadi lonjakan harga pangan jangka pendek.” ***

















