Jakarta – PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat pertumbuhan sebesar 4 persen terhadap periode yang sama tahun sebelumnya, dengan membukukan pendapatan usaha terkonsolidasi sebesar Rp10,05 triliun. Apabila tidak diperhitungkannya beban bersih Voluntary Separation Scheme (VSS) sebesar Rp425,6 miliar, EBITDA meningkat sebesar 7,2 persen menjadi Rp4.925,2 miliar, dengan marjin EBITDA sebesar 49,0 persen.
Dengan memperhitungkan beban VSS, Perusahaan mencatat penurunan EBITDA sebesar 2,1 persen menjadi Rp4.499,6 miliar [SMT1 2010: Rp4.594,6 miliar], dengan penurunan marjin EBITDA sebesar 2,8 persen menjadi 44,8 persen. Beban usaha meningkat sebesar 8,1 persen dalam periode ini, utamanya disebabkan oleh adanya VSS program. Pendapatan seluler, data tetap (MIDI) dan telepon tetap masing – masing memberikan kontribusi sebesar 82 persen, 12 persen dan 6 persen terhadap pendapatan usaha terkonsolidasi Perusahaan.
Laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan pada SMT1 2011 meningkat sebesar 137,5 persen menjadi Rp125,5 [SMT1 2010: Rp52,8] sebagai akibat meningkatnya laba atas selisih kurs dan turunnya jumlah beban pendanaan, walaupun terjadi peningkatan dalam beban penyusutan dan amortisasi.
BERITA TERKAIT
Penurunan marjin EBITDA sebesar 2,8 persen menjadi 44,8 persen akibat dari one-off charge berkenaan dengan program VSS. Marjin EBITDA tanpa adanya one-off charge adalah sebesar 49,0 persen.
Indosat mengurangi total jumlah hutangnya setelah membayar hutang jatuh tempo: obligasi Indosat IV sebesar Rp815 miliar, obligasi syariah sebesar Rp285 miliar, pinjaman sindikasi sebesar 112,5 juta dollar AS, cicilan pinjaman SEK Tranche A, B dan C sebesar 22,5 juta dollar AS, HSBC Coface dan Sinosure sebesar 10,1 juta dollar AS, pinjaman komersial 9 tahun dari HSBC sebesar 1,4 juta dollar AS, dan pinjaman kredit ekspor sebesar 3,8 juta dollar AS.
Pendapatan usaha selular tumbuh 6,3 persen dibandingkan tahun lalu, didukung oleh berlanjutnya pertumbuhan jumlah pelanggan selular yang mencapai 47,3 juta pelanggan pada akhir periode SMT1 2011.
ARPU selular turun sebesar 15,6 persen terhadap tahun lalu utamanya disebabkan peningkatan sebesar 25,1 persen jumlah pelanggan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Indosat menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman revolving dengan Mandiri dengan jumlah maksimum sebesar Rp 1 triliun dengan tingkat bunga mengambang JIBOR + 1,4 persen per tahun, dan melakukan penarikan fasilitas pinjaman revolving BCA sebesar Rp500 miliar (jumlah maksimum Rp 1 triliun dengan tingkat bunga mengambang JIBOR + 1,4 persen per tahun).
“Pada enam bulan pertama tahun ini merupakan pengalaman yang sangat menantang. Kami dengan senang hati mempersembahkan kuartal terbaik kami dengan pertumbuhan laba sebesar 137,5 persen, walaupun terdapat peningkatan dalam beban penyusutan dan adanya dampak program VSS,” ungkap Harry Sasongko, President Director and CEO Indosat .
Pendapatan konsolidasi kami juga mengalami peningkatan sebesar 4 persen yang terutama dikontribusi oleh pertumbuhan pendapatan selular sebesar 6,3 persen. “Walaupun dalam suasana kompetisi yang tetap penuh tantangan, skala, kekuatan dan kepemimpinan pasar kami, memungkinkan kami untuk dengan cepat dan tegas menerapkan sejumlah langkah operasional dan keuangan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan,” katanya.
Dengan berakhirnya program VSS secara sukses, transformasi bisnis kami untuk menjadi penyedia layanan informasi dan komunikasi pilihan pelanggan di Indonesia telah memasuki tahap yang baru, tambah Harry.

















