• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, Agustus 13, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Intermediasi Sejati untuk Negeri

oleh Sandy Romualdus
1 Agustus 2012 - 00:00
22
Dilihat
Intermediasi Sejati untuk Negeri
0
Bagikan
22
Dilihat

Industri perbankan merupakan urat nadi perekonomian. Layaknya sistem peredaran darah, bank berperan sebagai darah yang akan mendistribusikan berbagai nutrisi dan oksigen yang diperlukan tubuh untuk bergerak. Nutrisi dan oksigen tersebut akan membuat organ-organ bekerja dalam metabolismenya. Tak cuma itu, darah juga akan membawa kembali sisa yang dihasilkan dari proses metabolisme untuk diproses kembali dalam jantung.

Bank pun seperti itu. Dalam menjalankan fungsinya, bank menghimpun dana dari pihak yang kelebihan dana untuk kemudian menyalurkannya pada pihak-pihak yang membutuhkan. Itulah yang disebut fungsi intermediasi bagi perbankan.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Keberadaan bank seharusnya membuat aliran dana dalam masyarakat menjadi begitu mudah ke arah sektor riil yang membutuhkan. Dengan begitu sektor riil pun menggeliat dan menggerakan perekonomian.

BERITA TERKAIT

Ekspansi Global BUMN: K&K Advocates dan Bird & Bird Bedah Mitigasi Risiko Hukum Lintas Negara

Pacu Semen Hijau dan Bahan Bakar Alternatif, SIG Buktikan Competitive Advantage Berbasis ESG

Dominasi Sektor Pertanian 42,6%, Penyaluran KUR BRI Tembus Rp103,81 Triliun per Juni 2026

Dari Den Haag hingga Amsterdam, BNI Dampingi Waroeng Padang Lapek Bawa Cita Rasa Minang ke Eropa

Namun apa yang terjadi di Indonesia tidak semulus cerita peredaran darah di atas. Di sini, pertumbuhan penyaluran kredit bank seperti juga profitnya memang selalu fantastis dari tahun ke tahun. Namun ketika dihadapkan pada pertanyaan apakah kredit itu memberi dorongan maksimal pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, jawabannya tidak begitu menggembirakan.

Rasio antara kredit dan produk domestik bruto (PDB), salah satu parameter yang menggambarkan kontribusi kredit bank terhadap pembangunan ekonomi, sampai saat ini angkanya tidak pernah tembus 30 persen. Padahal di negara-negara tetangga rasio itu sudah melewati 100 persen.

Apa yang menjadi penyebabnya? Salah satu yang paling dominan dan sering disebut oleh para ekonom adalah peran kredit bank terhadap pembiayaan perusahaan-perusahaan yang masih minim. Sebaliknya, perbankan masih lebih senang menyalurkan kredit ke sektorsektor konsumtif yang daya dorongnya terhadap pertumbuhan ekonomi minim.

Penyaluran kredit perbankan yang selalu tumbuh rata-rata di atas 20 persen dalam lima tahun terakhir dirasa belum optimal karena pertumbuhan ekonomi hanya naik berkisar di angka 6 persen. Berdasarkan riset dari Pusat Data dan Analisis Stabilitas (PDAS), terdapat tiga sektor yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Sektor-sektor itu yakni sektor industri pengolahan; sektor perdagangan, hotel, & restoran; dan sektor Pengangkutan & komunikasi.

Kontribusi sektor-sektor tersebut masing-masing sebesar 1,23 persen, 1,18 persen, dan 1,10 persen pertahun. Namun sektor yang menerima kredit terbanyak dalam lima tahun terakhir adalah sektor perdagangan, restoran, dan hotel dengan porsi rata-rata 20,02 persen dari total kredit pertahun. Selanjutnya adalah sektor industri pengolahan (15,84 persen) dan sektor jasa dunia usaha (10,55 persen). Sementara sektor yang mengalami akselerasi tertinggi adalah sektor listrik, gas, dan air bersih dengan pertahun, disusul sektor pertambangan (45,65 persen), dan sektor jasa sosial/ masyarakat (45,52 persen).

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

PDAS juga menemukan berdasarkan penyaluran kredit pada sektor-sektor usaha, Bank Mandiri menjadi bank dengan sumbangan ke pertumbuhan ekonomi yang terbesar di banding bank lainnya yang menjadi obyek dalam riset (tabel 1). Namun khusus untuk penyaluran kredit sepanjang tahun 2011, BTN menjadi bank penyalur kredit terbesar untuk sektor yang terbesar menyumbang kepada pertumbuhan yaitu sektor Pengangkutan dan Komunikasi.  

Peran BI

Bank Indonesia tentu juga sangat sadar bahwa potensi kredit Tanah Air masih bisa ditingkatkan lagi. Oleh karena itu, dalam enam tahun terakhir, BI terlihat sangat rajin melahirkan berbagai kebijakan yang bertujuan membangkitkan sektor riil dengan mendorong intermediasi perbankan. Di antaranya adalah relaksasi atau pelonggaran batas minimum pemberian kredit (BMPK) terutama dilakukan terhadap batasan-batasan pihak terkait dalam satu konglomerasi.

Aturan berikutnya adalah regulasi BI yang menetapkan Giro Wajib Minimum (GWM) berbasis kinerja kredit dibanding dana simpanan atau LDR. GWM primer perbankan dinaikan dari 3 persen menjadi 8 persen, dengan tingkat LDR ideal di kisaran 78 persen hingga 100 persen. Dengana aturan ini, perbankan dituntut meningkatkan ekspansi pemberian kredit kendati di sisi lain, akan menambah beban dengan setoran giro. Sementara itu bank-bank yang mempunyai LDR di bawah kisaran itu akan dikenakan penalti penambahan GWM 0,1 persen dari kekurangan setiap 1 persen. Sebulan kemudian, BI kembali merilis aturan yang mewajibkan perbankan mengumumkan tingkat suku bunga dasar kredit (SBDK). Berlaku efektif mulai 1 April 2011 lalu, bank-bank dengan total aset di atas Rp10 triliun (sebanyak 44 bank) diwajibkan mengumumkan besaran SBDK atau prime lending rate melalui laman resminya, media cetak dan papan pengumuman di setiap bank.

Bahkan tahun ini, BI menggulir inklusi
keuangan (financial inclusion) untuk
makin memperluas akses masyarakat pada
perbankan. “Melalui financial inclusion ini
bisa memperbaiki akses kredit ke lembaga
keuangan,” kata Deputi Gubernur BI
Muliaman D. Hadad.

Menurut data Bank Dunia pada 2010,
rasio kredit terhadap GDP Indonesia
masih sebesar 26,9 persen, jauh di bawah
negara-negara sekawasan macam Malaysia
dan Singapura yang sebesar 113,2 persen
dan 213,4 persen. “Dengan rasio kredit
terhadap GDP kita yang masih rendah
berkisar 26-30 persen, ini peluang tumbuh
masih sangat besar. Di malaysia sudah
lebih dari 100 persen, jadi peranan kredit
sangat besar,” ujar Muliaman.

Bank sentral mendorong pembukaan
akses keuangan terhadap masyarakat
yang belum menerima akses perbankan,
khususnya dalam pembiayaan. Sehingga
bisa meningkatkan kapasitas ekonominya.

Hal pertama yang dilakukan BI adalah
dengan berupaya mendorong penetrasi
jumlah tabungan, untuk mendekatkan
masyarakat dengan lembaga keuangan.
“Nah, dengan PDB perkapita kita yang
masih akan meningkat ini, potensinya
masih akan besar,” ucap Muliaman.

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

Masih dari data Bank Dunia, rasio
simpanan terhadap PDB Indonesia masih
sebesar 36,9 persen, sementara di Malaysia
dan Singapura tercatat sebesar 105,5
persen dan 280,9 persen. Dari sisi jumlah
rekening simpanan per 1.000 penduduk
dewasa, di Indonesia tercatat baru
sebanyak 504,7 rekening, sementara di
Malaysia dan Singapura sebanyak 2.063,3
rekening dan 2.236,3 rekening.

“Jadi, kredit lebih terbuka kalau
akses dan eligibilitas semakin baik, nah
ini bisa menaikkan rasio kredit to GDP.
Ini makanya perlu ada perluasan ak ses
terhadap masyarakat yang belum menerima
akses kredit,” terang Muliaman.SP
 

 
 
 
 
 
Sebelumnya

CIMB Niaga dan Hachijuni Bank Luncurkan Aliansi Strategis

Selanjutnya

Makin Besar, Makin Dilirik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

oleh Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

oleh Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Apresiasi Nasabah Milenial, BNI Syariah Gelar Customer Online Gathering

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

oleh Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

oleh Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

oleh Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

oleh Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Keras Dan Menghantam

    Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kemenkeu Monitor 490 Daerah Tertekan Fiskal, Siapkan Suntikan Dana Belanja Pegawai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Ekspansi Global BUMN: K&K Advocates dan Bird & Bird Bedah Mitigasi Risiko Hukum Lintas Negara

Pacu Semen Hijau dan Bahan Bakar Alternatif, SIG Buktikan Competitive Advantage Berbasis ESG

Dominasi Sektor Pertanian 42,6%, Penyaluran KUR BRI Tembus Rp103,81 Triliun per Juni 2026

Dari Den Haag hingga Amsterdam, BNI Dampingi Waroeng Padang Lapek Bawa Cita Rasa Minang ke Eropa

Pacu Ekonomi Syariah di Kawasan FTZ, CIMB Niaga Syariah Resmikan Syariah Digital Branch di Batam

Momentum Hari UMKM Nasional, Bank Mandiri Dorong 56 Ribu Debitur KUR Naik Kelas

BNI Perkuat Tata Kelola SDM lewat LSP dan Sertifikasi ISO

Kesenjangan Tembus 24,04 Poin: Phi Institute Peringatkan Risiko Inklusi Keuangan Semu

Tembus Rp1.211 Triliun, BRI Bersama Danantara Perkuat Ekosistem Pembiayaan UMKM Nasional

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
BTN yang Keluar dari Cangkang

BTN yang Keluar dari Cangkang

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance