• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Ketika Ekonomi Menabur Risiko

by Sandy Romualdus
20 November 2013 - 00:00
11
VIEWS
Takut Risiko, Tunda IPO
0
SHARES
11
VIEWS

Perhatian pelaku ekonomi saat ini banyak tertuju pada pola arus modal, khususnya aliran dana negara maju ke negara emerging market. Pasalnya, sejak tahun 2009, perekonomian global hidup dengan suntikan stimulus moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve). Kondisi yang terbilang tidak normal itu hingga kini masih berlangsung.

Ketika ada pembalikan dana-dana itu sebentar saja namun dengan jumlah besar, maka negara emerging akan mengalami guncangan. Kejadian sepanjang Mei dan Agustus lalu menjadi buktinya. Arus dana yang bergerak ke luar menekan pula nilai tukar mata uang negara-negara itu, termasuk Indonesia.

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Kondisi itu kemudian membuat proyeksi pertumbuhan nasional dan beberapa indikator lainnya diturunkan. Tidak cukup sampai di situ, efek bola saljunya berlanjut ke sektor keuangan.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Guncangan dan ditambah perkembangan ekonomi global akhir-akhir ini membuat likuiditas di pasar menurun, bahkan cenderung mengering, sehingga persaingan untuk memperoleh dana semakin ketat. Kenaikkan BI Rate juga menyumbang kepada kondisi itu. Langkah jangka pendek yang diambil perbankan kemudian adalah menaikkan suku bunga simpanan yang berlanjut dengan kenaikan suku bunga pinjaman.

Apalagi setelah kenaikan bahan bakar minyak yang diikuti dengan tarif dasar listrik, sudah dapat dipastikan akan ada kenaikan pada harga pokok produksi. Bila perusahaan meminjam dana dari bank, maka dengan biaya bunga yang bertambah dikhawatirkan akan meningkatkan potensi kredit bermasalah. Ini berarti bahwa risiko kredit mulai merambat naik.

Alhasil bank sedikit menurunkan pertumbuhan kredit. Untuk menggantikan pendapatan bunga yang berkurang, mereka mulai melirik bisnis berbasis komisi (fee-based income), yang terutama berasal dari jasa-jasa bank. Saat ini banyak inovasi guna pengembangan produk dan jasa bank berbasis teknologi, seperti internet banking, mobile banking, dan sms banking.

Selain itu bank-bank juga mengincar pendapatan fee dari utilisasi pelayanan payment system, dan cash management. Layanan wealth management pun bisa menjadi alternatif bank untuk mendongkrak pendapatan non-bunga seperti fee yang berasal dari jasa transaksi jual beli reksadana.

Dampak pada Asuransi

Sementara itu, kemajuan asuransi sangat tergantung dari kondisi ekonomi masyarakat. Makin bagus kondisi ekonomi, maka asuransi berkembang lebih baik. Di saat ekonomi melemah atau pertumbuhan ekonomi melambat, terjadilah penurunan pendapatan asuransi yang berasal dari nasabah baru. Hal ini disebabkan karena beban biaya produksi pelaku usaha dan biaya hidup masyarakat yang semakin tinggi, ditambah dengan kesadaran berasuransi yang masih rendah. Akhirnya pelaku usaha dan masyarakat memilih tidak berasuransi.

Pelaku bisnis pun menggunakan jurus baru. Berbagai program asuransi dicanangkan, baik secara individual maupun melalui kerjasama dengan menumpang produk lain, misalnya kartu kredit yang di dalamnya ditawarkan produk asuransi kesehatan, kerugian, kematian, yang intinya asuransi memanfaatkan jaringan kartu kredit guna memburu jumlah nasabah.

Persaingan di pasar asuransi umum di Indonesia semakin ketat. Para pelaku bisnis asuransi menyikapi permasalahan ini dengan menurunkan premi asuransi sehingga menyebabkan turunnya pendapatan premi dan kemudian penurunan keuntungan. Perang tarif menjadi suatu praktik yang umum terjadi. Oleh karena itu Otoritas Jasa keuangan (OJK) diharapkan segera mengendalikan praktik yang tidak sehat ini agar tidak lagi ada perusahaan asuransi yang bangkrut gara-gara tidak mampu beroperasi lagi.

  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

Dampak pada Pasar Modal

Dalam jangka pendek masih banyak investor yang menarik dananya dari pasar modal. Hal ini tidak terlepas dari dampak kondisi ekonomi global yang masih dalam ketidakpastian menyangkut dipertahankannya kebijakan pelonggaran likuiditas (quantitative easing/QE).

Secara nasional, dalam jangka pendek pasar saham akan menunggu dan tergantung dari kinerja emiten pada triwulan II tahun 2013. Dengan kenaikan suku bunga bank memang ada peluang berpindahnya investor pasar modal ke simpanan perbankan. Namun hal ini tidak terlalu mengkhawatirkan mengingat investasi di pasar modal dan di bank memiliki target dan karakteristik yang berbeda.

Mumpung pasar modal baru mulai pulih, ada baiknya rencana Kementerian BUMN yang hendak membeli kembali saham (buy back) perusahaan BUMN blue chips yang masih undervalue direalisasikan, sebelum harga melambung lagi. Semoga masa ini menjadi daya tarik para investor institusi besar seperti Taspen, Jamsostek, dan Dana Pensiun BUMN untuk mulai membeli saham blue chip di pasar modal.

Pasar modal kita masih tergolong dangkal, di mana sedikit goncangan ekonomi akan langsung berdampak. Karenanya pemerintah dan regulator harus memperluas dan memperdalam pasar modal dengan program struktural. Bila ini terjadi, guncangan sentimen global tidak terlalu mengkhawatirkan bagi pasar modal kita, karena ia mampu dan kuat bertahan seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Bila pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diproyeksikan lebih bagus, yang tercermin dari kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia, maka mencapai IHSG 5.000 bukanlah suatu impian.

Penguatan tata kelola OJK

Secara kebetulan akhir tahun ini merupakan masa transisi peralihan pengawasan bank dari Bank Indonesia ke OJK. Banyak pihak mengharapkan transisi ini mulus mengingat tugas-tugas BI dan OJK dalam menghadapi dan mengantisipasi krisis keuangan global sangatlah krusial. Bila peralihan fungsi pengawasan tidak berjalan mulus dikhawatirkan menimbulkan risiko ketidakstabilan sistem keuangan nasional. Dengan transisi pengalihan pengawasan bank yang dilakukan sekaligus yaitu pada tanggal 1 Januari 2014, tantangannya adalah koordinasi dalam pelaksanaan tugas kedua institusi terutama dalam penyusunan dan penerbitan kebijakan di bidang pengawasan makroprudensial dan mikroprudensial di industri keuangan. Demikian pula pertukaran data dan informasi lembaga jasa keuangan dan pengelolaan sistem pelaporan jasa keuangan antara BI dan OJK. Bila tidak dilakukan dengan baik, berpeluang menimbulkan risiko operasional bagi kedua lembaga, yang dampak ikutannya adalah ke perbankan dan industri jasa keuangan non-bank yang diawasi.

Dalam perannya sebagai risk management champion bagi lembaga keuangan, OJK diharapkan menerapkan tata kelola lembaga pengawas yang baik (good governance). Tujuannya adalah menjadi organisasi yang sehat dan profesional, sehingga mampu menjadi contoh para pelaku industri jasa keuangan. Termasuk 1) melakukan standarisasi proses pengawasan yang efektif. 2) membangun early warning signals yang komunikatif dengan pelaku industri keuangan, dengan standar parameter yang disepakati oleh para pelaku industri. 3) menetapkan proses uji tuntas bagi lembaga keuangan yang akan melakukan strategic corporate action, sehingga memudahkan pasar modal melakukan penilaian dan seleksi, ketika lembaga keuangan akan masuk bursa dan menawarkan sahamnya ke publik. 4) menerapkan sistem pemantauan lembaga keuangan dengan berbasis risiko (risk-based monitoring), sehingga lembaga keuangan mampu bertumbuh dan berkembang sesuai harapan para pemangku kepentingan mereka masing-masing.

  • Baca juga: Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Harapannya adalah meminimalisir tindakan represif dari OJK kepada lembaga keuangan yang menyimpang dari aturan dan memiliki profil risiko yang tinggi. Sebaliknya, OJK mampu mendukung lembaga keuangan sebagai mesin pertumbuhan (engines of growth) yang sehat dan berkualitas, serta menjaga kestabilan sistem keuangan dan ekonomi.

Akhirnya, komunikasi aktif dan responsif dengan strategi komunikasi yang tepat dengan para pemangku kepentingan akan melancarkan fungsi OJK yang dikenal dengan super body pengendali risiko keuangan nasional. Kunci dari semuanya adalah sumberdaya manusia yang profesional, berintegritas dan berdedikasi dengan budaya OJK yang kuat mendukung kinerja prima. Dengan demikian publik semakin percaya dengan pilihan pembentukan OJK. Semoga.

 
 
 
 
 
Previous Post

DAJK Tawar Harga Perdana Rp425-Rp550 Per Saham

Next Post

Hanwha Life Hadir di Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
BII Buka Kantor Cabang Pertama Di Mumbai

BII Buka Kantor Cabang Pertama Di Mumbai

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance