Memasuki tahun ke-14, SCG Sharing the Dream 2026 anugerahkan 412 beasiswa bagi pelajar SMA & S1. SCG perkuat komitmen tekan angka NEET menuju Indonesia Emas 2045.
Stabilitas.id – Di sebuah sudut desa di kawasan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, senyum anak-anak muda berkumpul mengelilingi Lulita Sauman. Lewat inisiatif bertajuk Wanoja Green Academy, alumni penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2025 itu tak sekadar mengajar. Ia sedang meretas jalan, mengajak lebih dari 60 pemuda di desanya keluar dari bayang-bayang keterbatasan ekonomi, ancaman pernikahan dini, dan minimnya akses pendidikan.
Lulita mengubah kepedulian menjadi kerja nyata melalui pengembangan ekowisata berbasis komunitas. Dari Ciwidey, sebuah lentera kecil dinyalakan: bahwa kesempatan belajar mampu mengubah takdir sebuah ekosistem lokal.
Kisah Lulita adalah satu dari ribuan benih yang disemaikan dalam perjalanan 14 tahun program beasiswa SCG Sharing the Dream. Di tengah riuk-pikuk pembangunan fisik, investasi pada manusia—khususnya pada benih-benih muda di tapak-tapak komunitas—membutuhkan kesabaran dan empati yang panjang.
BERITA TERKAIT
Pada Penganugerahan Beasiswa SCG Sharing the Dream 2026 di Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Selasa (11/8/2026), sebanyak 412 anak muda kembali menerima estafet asa tersebut. Sebanyak 400 siswa SMA/sederajat dan 12 mahasiswa jenjang sarjana menerima dukungan untuk merawat mimpi pendidikan mereka. Sejak digulirkan pertama kali pada 2012 bersama Ancora Foundation, tak kurang dari 5.200 anak bangsa telah tersentuh oleh ruang pemberdayaan ini.
Menjangkau yang Rentan
Pendidikan sejatinya adalah hak paling mendasar bagi setiap anak manusia. Namun, realitas sosial kerap menyisakan celah yang sunyi. Data Badan Pusat Statistik mencatat, sebanyak 19,44 persen penduduk usia muda Indonesia masuk dalam kategori Not in Education, Employment, or Training (NEET)—mereka yang berada di luar ruang sekolah, pekerjaan, maupun pelatihan. Kesenjangan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan tentang potensi-potensi manusia yang terancam layu sebelum berkembang.
Menyadari tantangan tersebut, sejak 2024 SCG secara khusus membuka kuota beasiswa bagi anak-anak pekerja bangunan—mereka yang peluh orang tuanya menegakkan dinding-dinding beton pembangunan—serta anak-anak penyandang disabilitas.
Presiden Direktur PT SCG Indonesia, Pattaraphon Charttongkum, menegaskan bahwa keyakinan mendasar perusahaan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.
“Di SCG, kami percaya bahwa kekuatan terbesar suatu bangsa terletak pada sumber daya manusianya. Seiring dunia terus berkembang, mempersiapkan generasi muda untuk masa depan tidak lagi hanya tentang memberikan akses terhadap pendidikan. Hal ini juga berarti membangun pola pikir, kemampuan, dan kepercayaan diri agar mereka mampu memimpin, berinnovasi, dan berkontribusi kepada masyarakat,” ujar Pattaraphon.
Ia menambahkan, dampak yang bermakna lahir dari investasi penuh pada manusia. “Selama bertahun-tahun, kami belajar bahwa dampak yang bermakna dan berkelanjutan lahir dari investasi bukan hanya pada pendidikan, tetapi juga pada manusia. Karena itu, SCG Sharing the Dream terus berkembang melampaui program beasiswa menjadi sebuah platform jangka panjang yang memberdayakan generasi muda untuk mengembangkan potensi dan menciptakan dampak positif di komunitas mereka,” tuturnya.
Menyemai Karakter dan Empati Lingkungan
Mengusung tema “Green Active Generation: Empowered to Act, Driven to Change”, anak-anak muda penerima beasiswa tidak hanya diajak mengejar prestasi akademis di dalam ruang kelas. Mereka didorong untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya. Lewat program Community Project, ilmu yang didapat di bangku sekolah diproyeksikan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Dampak dari proses ini dirasakan langsung oleh Lulita Sauman saat merefleksikan perjalanannya membangun Wanoja Green Academy.
“Community Project menjadi ruang bagi saya untuk mengubah kepedulian menjadi aksi nyata. Program ini mengajarkan saya bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, dan memahami kebutuhan nyata masyarakat. Yang lebih penting, pengalaman ini memberi saya kepercayaan diri untuk meyakini bahwa tindakan kecil sekalipun dapat menciptakan perubahan yang berarti. Kini, saya berharap dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk menyadari bahwa mereka juga mampu membuat perubahan positif di komunitas masing-masing,” ungkap Lulita.
Keberhasilan Lulita sejalan dengan temuan survei internal SCG terhadap 151 alumni program (berusia 18–22 tahun). Sebanyak 75 persen responden mengaku program ini meningkatkan kepedulian mereka terhadap lingkungan, sementara 55 persen mengaku semakin percaya diri untuk memimpin perubahan di komunitasnya.
Penguatan daya juang dan empati inilah yang diapresiasi oleh pemerintah. Kepala Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen, Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, S.E., M.Si., menekankan pentingnya mengasah potensi bawaan anak-anak Indonesia.
“Kita perlu mendorong anak-anak Indonesia dari sisi kemampuan beradaptasi serta kemampuan berpikir kritis. Anak-anak Indonesia memiliki resiliensi atau daya juang dan kemampuan belajar yang tinggi. Resiliensi dan kemampuan belajar ini akan didukung dengan penyiapan dari SCG untuk menjadikan mereka lebih adaptif melalui pengembangan Green Active Generation. Tentunya, mereka akan menjadi talenta-talenta unggul dari Indonesia. Jadi, anak-anak ini perlu terus dikembangkan prestasinya,” tutur Irene.
Merajut Persaudaraan di Kawasan ASEAN
Semangat merawat generasi muda ini tidak berhenti di batas wilayah Indonesia. SCG membawa inisiatif ini ke panggung regional melalui program serupa di Vietnam, Kamboja, Laos, hingga Filipina. Lewat ruang jumpa seperti ASEAN Camp dan ESG Experience Trip, pemuda-pemuda di kawasan ASEAN dipertemukan untuk saling bertukar gagasan dan memperkuat kepemimpinan berbasis keberlanjutan.
Vice President of Corporate Administration SCG, Paramate Nisnagornsen, melihat bahwa keterhubungan antarnegara di kawasan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan masa depan bersama.
“Meskipun pembahasan hari ini berfokus pada generasi muda Indonesia, kami melihat aspirasi dan tantangan yang serupa di berbagai negara ASEAN. Seiring kawasan kita semakin terhubung, mempersiapkan generasi muda untuk masa depan bukan lagi menjadi tanggung jawab satu negara saja. Melalui inisiatif seperti SCG Sharing the Dream, kami menciptakan kesempatan bagi generasi muda untuk memperluas perspektif, belajar lintas budaya, serta mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk berkembang di dunia yang berubah dengan cepat,” jelas Paramate.
Paramate juga menekankan keselarasan langkah ini dengan arah besar kawasan. “Aspirasi ini sejalan dengan ASEAN Community Vision 2045. Pada akhirnya, ambisi kami bukan hanya mendukung keberhasilan individu, tetapi juga membentuk generasi pemimpin masa depan yang mampu berkolaborasi lintas budaya, mengedepankan keberlanjutan, serta berkontribusi terhadap ASEAN yang lebih kuat dan tangguh,” tegasnya.
Menyongsong Visi Indonesia Emas 2045, ikhtiar jangka panjang melalui pendekatan Inclusive Green Growth ini menjadi bukti nyata. Bahwa membangun bangsa bukan semata-mata soal seberapa megah infrastruktur yang didirikan, melainkan tentang bagaimana kita memastikan setiap anak bangsa memiliki kesempatan untuk tumbuh, berdiri tegak, dan memberi arti bagi sesamanya. ***

















