Bagi SCG, melepaskan sebagian jangkar di satu sisi (Chandra Asri) ternyata bukan untuk berlayar pergi, melainkan untuk kembali membanjiri pasar domestik dengan cara yang jauh lebih efisien.
Stabilitas.id – Ketika eskalasi konflik geopolitik merambat ke jalur-jalur urat nadi perdagangan dunia, banyak korporasi multinasional memilih mode wait and see. Selat Hormuz, salah satu titik transit paling krusial bagi pasokan energi dan bahan baku petrokimia global, terus dibayangi ketidakpastian. Namun, bagi SCG, turbulensi ini justru dijawab dengan restrukturisasi bisnis yang agresif dan manuver rantai pasok yang taktis.
Langkah korporasi paling berani yang dieksekusi SCG pada paruh pertama 2026 adalah perombakan portofolio investasinya di sektor petrokimia Indonesia. SCG Chemicals (SCGC) secara resmi mendivestasikan 14,86 persen kepemilikan sahamnya di PT Chandra Asri Pacific Tbk. Transaksi pelepasan saham tersebut bernilai fantastis, mencapai sekitar Rp14,04 triliun (776 juta USD).
Bagi panggung pasar modal dan industri petrokimia, divestasi ini bukanlah sebuah sinyal mundurnya SCG dari pasar Indonesia. Sebaliknya, ini adalah realokasi modal (capital reallocation) yang sangat terukur. Manajemen SCG memutuskan bahwa dana segar belasan triliun rupiah tersebut akan dialirkan untuk merampingkan struktur utang perusahaan. Lebih jauh lagi, suntikan likuiditas ini dikonsentrasikan untuk membiayai proyek strategis raksasa mereka di negara tetangga: proyek peningkatan penggunaan bahan baku etana di kompleks Long Son Petrochemicals (LSP) di Vietnam, yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027.
BERITA TERKAIT
Fokus SCG pada fasilitas LSP di Vietnam ini sejalan dengan strategi mitigasi risiko rantai pasok mereka. Di saat banyak produsen petrokimia terpukul oleh volatilitas harga akibat krisis di Timur Tengah, SCGC berhasil menjaga margin keuntungannya dengan mengamankan pengadaan bahan baku secara tepat waktu dari sumber-sumber alternatif yang berada di luar jalur rawan Selat Hormuz.
Selain perombakan portofolio, SCG juga menjalankan strategi jangka menengah yang sangat disiplin di seluruh jaringannya. Perusahaan mempercepat transisi menuju pengembangan produk bernilai tambah tinggi atau High Value-Added Products (HVA). Untuk menekan kebocoran biaya produksi, SCG mengadopsi pemanfaatan teknologi robotik, machine learning, dan kecerdasan buatan (AI) secara masif guna meningkatkan efisiensi dan daya saing jaringan manufakturnya di kawasan ASEAN.
Pertumbuhan Tertinggi di ASEAN
Keputusan menata ulang fondasi bisnis dan rantai pasok tersebut terbukti tidak mengkhianati hasil. Manuver tingkat tinggi ini langsung terefleksi pada lonjakan kinerja keuangan SCG secara konsolidasi. Sepanjang semester pertama 2026, EBITDA yang disesuaikan (adjusted EBITDA) perusahaan menanjak signifikan sebesar 35 persen secara tahunan, menyentuh angka Rp24,1 triliun (1.337 juta USD).
Secara keseluruhan, perusahaan membukukan pendapatan dari penjualan sebesar Rp146,3 triliun (8.086 juta USD) dengan laba bersih mencapai Rp10 triliun (553 juta USD) pada paruh pertama tahun ini.
“Di tengah dinamika global yang penuh tantangan, SCG terus memperkuat fondasi bisnis, meningkatkan ketangkasan operasional, dan menjaga daya saing perusahaan. Keberhasilan penerapan strategi jangka pendek dan menengah turut mendorong perbaikan kinerja di seluruh unit bisnis,” papar President and CEO SCG, Thammasak Sethaudom, mengevaluasi pencapaian perusahaannya.
Ironi yang menguntungkan terjadi di pasar Indonesia. Meskipun SCG mengurangi porsi kepemilikannya di Chandra Asri, Indonesia justru tampil sebagai bintang utama penyumbang pendapatan. Pada kuartal kedua 2026, SCG membukukan pertumbuhan penjualan tertinggi di seluruh pasar ASEAN yang berasal dari Indonesia. Penjualannya meroket 39 persen secara tahunan menjadi Rp6,51 triliun (360 juta USD).
Menariknya, rekor pertumbuhan di Indonesia ini ditopang kuat oleh penetrasi produk petrokimia yang justru diproduksi dan dipasok dari fasilitas Long Son Petrochemicals (LSP) di Vietnam. Hal ini membuktikan bahwa strategi integrasi pasar ASEAN yang dijalankan SCG berjalan sempurna: memproduksi di Vietnam dengan efisiensi tinggi, lalu menyerap hasil produksinya di pasar Indonesia yang memiliki permintaan raksasa.
Kebangkitan Sektor Riil dan Infrastruktur
Efek domino dari perbaikan strategi ini tidak hanya berhenti di sektor petrokimia, melainkan merambat ke sektor riil lainnya, khususnya bisnis pengemasan dan material konstruksi di Tanah Air.
Setelah sempat tertekan oleh dinamika pasar, bisnis pengemasan SCG (SCGP) di Indonesia akhirnya menunjukkan tajinya dengan kembali mencatatkan laba. Thammasak menjelaskan bahwa pemulihan bisnis kemasan domestik ini adalah buah dari integrasi bisnis yang lebih kokoh, pengelolaan biaya energi yang efektif, penyesuaian harga jual, serta peningkatan volume penjualan. Inovasi penggunaan robot kolaboratif dan AI di lantai pabrik terbukti manjur meningkatkan produktivitas dan pengendalian mutu.
Di lini infrastruktur dan material bangunan (SCG CBM), agresivitas perusahaan tak kalah kentara. Melalui Jayamix by SCG, perusahaan merilis inovasi Jayamix Advanced Waterproof Concrete, sebuah solusi beton yang dirancang khusus dengan durabilitas tinggi terhadap air. Mereka juga memperkuat rantai pasok beton siap pakai dengan membangun batching plant baru di kawasan Marunda untuk melayani pesatnya pembangunan di Jakarta Utara dan Bekasi.
Sementara itu, untuk memperlancar arus barang, SCG melalui SCG Barito Logistics langsung merangkul PT Krakatau Bandar Samudera. Kolaborasi ini diwujudkan lewat penyediaan layanan penyimpanan ISO tank dan dry container serta fasilitas lift-on/lift-off di Krakatau International Port.
Memasuki semester kedua 2026, ketidakpastian geopolitik, inflasi, dan volatilitas biaya energi diproyeksikan masih akan menghantui ekonomi global. Namun, bagi para pengambil keputusan di korporasi, SCG telah memberikan sebuah studi kasus berharga. Ketahanan sebuah bisnis tidak diukur dari seberapa besar mereka menumpuk aset, melainkan dari seberapa tangkas mereka merelokasi modal, mencari celah pasokan, dan mengintegrasikan pasarnya melintasi batas-batas negara. ***

















