Stabilitas.id – Laju profitabilitas PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mulai menunjukkan tren mendatar menjelang penutupan kuartal II/2026. Tekanan pada margin bunga bersih akibat merangkaknya beban bunga menjadi pemicu utama tertahannya agresivitas pertumbuhan laba raksasa perbankan swasta terbesar di tanah air ini.
Berdasarkan laporan keuangan bulanan per Mei 2026, bank hanya mencatatkan pertumbuhan laba bersih (bank only) sebesar 2,07% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp25,68 triliun. Realisasi ini merefleksikan perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang masih mampu bertengger di level 3% yoy.
Perlambatan ini selaras dengan posisi pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA yang terkoreksi tipis 0,5% yoy menjadi Rp32,95 triliun. Kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan beban bunga yang melaju lebih cepat ketimbang pendapatan bunga bank.
BERITA TERKAIT
Sepanjang 5 bulan pertama tahun ini, pendapatan bunga BCA tercatat hanya mengencang tipis 0,3% yoy menjadi Rp38,4 triliun. Sebaliknya, pos beban bunga justru membengkak hingga 5.41% yoy menjadi Rp5,45 triliun akibat tren suku bunga tinggi yang masih membayangi industri perbankan.
Kendati pendapatan dari fungsi intermediasi tertekan, emiten bersandi saham BBCA ini beruntung karena berhasil mengompensasi beban melalui langkah efisiensi biaya pencadangan. BCA memangkas beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) sebesar 13,62% yoy menjadi Rp1,21 triliun.
Aksi mitigasi risiko ini sukses mendorong penurunan total beban operasional lainnya hingga merosot 39,41% yoy ke posisi Rp1,55 triliun.
Di sisi lain, pendapatan non-bunga dari lini komisi, provisi, fee, dan administrasi (fee-based income) terpantau tetap tumbuh solid sebesar 9,2% yoy menjadi Rp8,44 triliun. Sayangnya, lonjakan fee tersebut belum cukup kuat mengandaskan penurunan pos operasional lain, termasuk amblesnya pendapatan dividen sebesar 11,65% yoy menjadi Rp1,93 triliun. Alhasil, laba operasional bank hanya terkerek naik 2,76% yoy menjadi Rp31,4 triliun.
Kredit Tumbuh Terbatas, Struktur DPK Makin Murah
Dari fungsi neraca intermediasi, penyaluran kredit BCA hingga Mei 2026 dilaporkan tumbuh lebih moderat di level 4,85% yoy dengan total nilai mencapai Rp969,09 triliun. Secara akumulatif, total aset bank masih terkerek naik 8,57% yoy menjadi Rp1.592,98 triliun.
Struktur Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA per Mei 2026
| Komponen Pendanaan DPK | Nilai Nominal | Pertumbuhan (YoY) | Karakteristik Likuiditas |
| Giro (Demand Deposits) | Rp444,32 Triliun | Melesat +16,78% | Dana murah pendukung transaksional korporasi. |
| Tabungan (Savings) | Rp625,37 Triliun | Tumbuh +7,81% | Tulang punggung utama likuiditas ritel. |
| Deposito (Time Deposits) | Rp187,13 Triliun | Menyusut -3,85% | Penurunan porsi dana mahal demi efisiensi bunga. |
| Total DPK | Rp1.256,84 Triliun | Tumbuh +8,80% | Didominasi oleh Rasio CASA yang Kuat |
Dari tabel di atas, total DPK BCA kokoh ditopang oleh pertumbuhan dana murah (Current Account Savings Account/CASA). Strategi pelepasan porsi deposito (turun 3,85% yoy) mengonfirmasi langkah taktis manajemen BCA untuk meredam pembengkakan biaya dana (cost of fund) di tengah era bunga tinggi perbankan nasional. ***

















