• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Finance

Langkah Medco Kuasai Newmont

by Sandy Romualdus
7 Agustus 2016 - 00:00
19
VIEWS
0
SHARES
19
VIEWS

Di tengah terus melemahnya harga minya dunia, Medco, perusahaan nasional yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi migas mengakuisisi Newmont, perusahaan pengelola tambang di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Rumor yang sudah beredar sejak akhir tahun lalu itu akhirnya menjadi kenyataan setelah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan AP Investment mengungkapkan telah membeli 82,2 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) akhir Juni dengan nilai 2,6 miliar dollar AS (sekitar Rp34 triliun). Tak pelak transaksi ini merupakan salah satu transaksi structured finance terbesar di Asia Tenggara tahun ini.
Menurut Arifin Panigoro, Bos Grup Medco, langkah ini dilakukan sebagai upaya pengembangan perusahaan. Selama ini Medco bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Medco juga mempunyai industri hilir yang memproduksi elpiji, distribusi bahan bakar diesel dan pembangkit tenaga listrik.
“Diversifikasi. Saya kira baik diversifikasi, karena minyak itu baru oke 2-3 tahun lagi. Lama. Kalau kita hanya rely on minyak saja berat menahannya. Kalau 2015 ini (harga minyak) 160 juta dollar AS kita jeblok. Dua tahun lagi begitu ya bubar perusahaan,” kata Arifin dua bulan sebelum kesepakatan terjadi.
Oleh sebab itu, menurut dia, sangat penting bagi perusahaan untuk menambah lini bisnis. Bahkan untuk merealisasikan hal ini, Arifin mengaku tidak segan membangun pabrik pemurnian (smelter) seperti yang telah diatur pemerintah.
Pada November tahun lalu, muncul kabar bahwa MedcoEnergi ingin membeli saham tambang Batu Hijau. Sudah lama perusahaan yang didirikan pengusaha Arifin Panigoro ini mengincar 76 persen saham milik Newmont senilai 2,2 miliar dollar AS. Rencana tersebut pernah disampaikan oleh Arifin kepada Menteri Perekonomian Kemaritiman Rizal Ramli pada 26 November 2015. Salah satu poin pembicaraan keduanya adalah rencana MedcoEnergi yang akan mengembangkan tambang Newmont di Nusa Tenggara Barat (NTB) meskipun sisa umur cadangan pada tambang itu hanya sekitar 5 sampai 6 tahun lagi.
Ngototnya Arifin membeli saham Newmont, boleh jadi muncul setelah pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor konsentrat atau mineral mentah (ore) pada Januari 2014. Pemerintah juga mematok pajak progresif yang cukup mahal untuk ekspor konsentrat. Tambahan lagi, semakin anjloknya harga, sementara biaya operasional terus naik. Itu sebabnya, Newmont menyatakan bakal menjual bisnisnya di Indonesia.
Kabar pembelian tersebut makin santer tatkala kakak adik Arifin dan Hilmi Panigoro bersama Muhammad Lutfi, Presiden Komisaris Medco yang juga mantan Menteri Perdagangan era Presiden SBY, muncul di istana Presiden pada 29 Maret 2016. Kabarnya, kedatangan mereka untuk membahas soal pembelian tambang emas Newmont. Pemerintah telah memberikan lampu hijau kepada pemilik Medco dengan mendukung penuh pembelian saham perusahaan yang masih dikuasai asing tersebut.
Seperti diketahui, pada 2010 lalu pemerintah diberikan penawaran saham sebanyak 7 persen dari pihak Newmont. Proses divestasi ini cukup panjang dan melewati masa jabatan tiga menteri keuangan. Dari Agus Martowardojo, Chatib Basri hingga Bambang Brodjonegoro.
Kini, penyelesaian transaksi akan menunggu persetujuan dari pemerintah dan pemegang saham MedcoEnergi. Namun, pemerintah nampaknya sudah memberi lampu hijau. Bahkan, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyambut baik keputusan yang telah diambil oleh Medco. Bambang memastikan tidak akan memburu lagi saham 7 persen yang sebelumnya pernah ditawarkan Newmont. “Pemerintah sudah nggak ngejar lagi, begitu saja,” ungkap Bambang tak lama setelah deal itu terjadi.
Bagi pemerintah, Medco juga merupakan perusahaan nasional. Sehingga peluang menarik keuntungan sebesar-besarnya untuk bangsa dan negara lebih besar dari sebelumnya. “Kalau Medco mau beli ya tidak masalah,” kata Bambang.

  • Baca juga: BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Peluang Saham Medco

Setelah mencaplok kepemilikan saham PT NNT, Direktur Utama Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro mengaku akuisisi Newmont bakal berdampak positif terhadap kinerja perseroan ke depan. Terlebih harga minyak mentah dunia yang mulai membaik diproyeksi bakal mendukung kinerja perseroan. “Dengan perkiraan penguatan harga minyak sampai akhir tahun, ditambah konsolidasi NNT, kinerja perusahaan akan jauh lebih baik,” kata Hilmi.
Kinerja perseroan per kuartal pertama 2016 berdasarkan laporan yang dirilis awal Juli menunjukkan perolehan laba bersih 10,21 juta dollar AS. Capaian itu berbanding terbalik dengan kerugian yang diderita perseroan pada periode sama tahun lalu 43,60 juta dollar AS.
Pendapatan saham MEDC itu meningkat 13,3 persen menjadi 144,8 juta dollar AS dari 127,7 juta dollar AS. Pendapatan dari sewa tahun ini telah menyumbang 4,05 juta dollar AS dari sebelumnya tidak sama sekali.
Penjualan minyak dan gas bersih tahun ini meningkat 14,03 persen menjadi 130,7 juta dollar AS dari 114,77 juta dollar AS. Pendapatan dari jasa naik 7,72 persen menjadi 6,76 juta dollar AS dan sebaliknya dari batu bara justru ambrol 53,5 persen menjadi 3,09 juta dollar AS.
Jumlah beban pokok penjualan dan biaya langsung memang hanya meningkat 4,6 persen menjadi 87,12 juta dollar AS. Sehingga, laba kotor berhasil melonjak 29,2 persen menjadi 57,6 juta dollar AS.
Sementara itu, saham MEDC di hari terakhir perdagangan menjelang libur lebaran melambung tinggi. Lompatan itu terjadi lantaran pengumuman resmi perseroan yang berhasil mencaplok Newmont.
Mengutip data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada awal Juli, saham Medco pada perdagangan sesi pertama ditutup melesat 300 poin (20,00 persen) ke Rp1.800. Tak lama kemudian saham MEDC langsung naik hingga ditutup di posisi 1.870, atau terbang 24,7 persen hanya dalam sehari.
Bagi pengamat pasar modal Teguh Hidayat, posisi saham MEDC pada harga 1.870 masih mencatat PBV 0,7 kali, jelas masih murah. “Meski juga perlu dicatat bahwa sejak jaman baheula MEDC ini tidak pernah cocok untuk investasi long term karena profitabilitasnya yang amat sangat kecil sebagai perusahaan minyak, bahkan ketika dulu harga minyak sedang tinggi-tingginya di level 100 dolar AS per barel,” papar Teguh.
Menurut Teguh yang juga pemilik Avere Investama, MEDC tidak bisa disebut sebagai perusahaan jelek, sehingga kalau ada berita bagus seperti ini, maka biasanya sahamnya menawarkan peluang untuk trading jangka menengah, terutama karena berita soal akuisisi Newmont ini biasanya bakalan ‘awet’ dalam beberapa bulan kedepan, mengingat MEDC baru sebatas menyatakan setuju untuk mengakuisisi Newmont, sementara penyelesaian akuisisinya masih harus menunggu proses persetujuan Pemerintah dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Medco.
Namun dia mengingatkan, saham MEDC ini kurang cocok untuk long term –kecuali jika nanti laba MEDC melompat karena tambahan laba dari Newmont, tapi bahkan kalaupun itu terjadi, maka terjadinya masih lama–maka investor harus tetap hati-hati, apalagi belakangan ini harga minyak dunia mulai turun lagi.

  • Baca juga: Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Kartu di Tangan Keluarga Jusuf

Newmont Nusa Tenggara dulunya dimiliki oleh tiga pemegang saham yakni Newmont Corp (Amerika Serikat) sebanyak 45 persen, Sumitomo Corp (Jepang) 35 persen, dan perusahaan lokal bernama PT Pukuafu Indah milik pengusaha tambang Jusuf Merukh (kini sudah almarhum) sebanyak 20 persen. Kemudian, berdasarkan peraturan Pemerintah Indonesia, Newmont Corp dan Sumitomo sebagai perusahaan asing harus menjual/divestasi sebagian saham mereka hingga mereka maksimal memegang saham NNT sebanyak total 49 persen saja, alias tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas. Karena Newmont dan Sumitomo totalnya memegang 80 persen saham NNT, maka terdapat 31 persen saham NNT yang akan dilepas. Tadinya 31 persen saham NNT ini akan dibeli oleh Pemerintah, namun Pemerintah menyatakan tidak memiliki dana, sehingga 31 persen saham ini ditawarkan kepada beberapa grup konglomerasi di Tanah Air.
Dan yang sukses masuk adalah Grup Bakrie, dimana mereka bersama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendirikan perusahaan patungan dengan nama PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Grup Bakrie melalui Bumi Resources Minerals (BRMS) memegang 75 persen saham MDB, sementara 25 persen sisanya dipegang oleh Pemprov NTB. MDB kemudian mengakuisisi 24 persen saham NNT senilai 850 juta dollar AS, pada tahun 2009. Dengan demikian, BRMS secara tidak langsung memegang 18 persen saham di NNT.
Menurut analisa pengamat bursa Teguh Hidayat, sejak awal Grup Bakrie sudah berniat untuk menguasai saham NNT 100 persen, atau paling tidak sebanyak 51 persen, sehingga mereka menjadi pemegang saham pengendali perusahaan. “Sama seperti ketika dulu mereka sukses mengakuisisi kepemilikan mayoritas di Arutmin, Kaltim Prima Coal (KPC), dan lainnya,” tulis Teguh di blog pribadinya.
Setelah MDB sukses mengakuisisi 24 persen saham NNT, maka masih terdapat sisa 7 persen saham NNT yang harus dilepas oleh Newmont Corp dan Sumitomo. Namun lagi-lagi Pemerintah Pusat tetap tidak mau mengambil jatah sahamnya. MDB sebenarnya sudah menawarkan untuk juga mengakuisisi sisa saham yang 7 persen tersebut, tapi kali ini Newmont Corp dengan tegas menolak untuk melepas sahamnya ke Bakrie, karena mereka tahu persis bahwa dengan demikian mereka akan kehilangan kontrol atas NNT. Meski Newmont Corp dan Sumitomo memang diharuskan untuk melakukan divestasi sehingga mereka maksimal hanya memegang 49% saham saja di NNT, namun mereka tetap menginginkan kontrol penuh atas perusahaan, dengan cara membuat pemegang saham lain memiliki saham NNT dalam jumlah yang lebih sedikit dari yang mereka miliki.
Jadi kuncinya sekarang terletak di pemegang saham NNT yang tersisa yakni PT Pukuafu Indah milik Jusuf Merukh. Saat itu pihak Jusuf nampaknya tidak memiliki keinginan untuk menjadi pemegang saham pengendali di NNT, namun posisi tawarnya menjadi sangat tinggi setelah Grup Bakrie mendekati dia untuk mengakuisisi 20 persen saham NNT, sementara Newmont Corp juga terus mendekati pihak Jusuf agar jangan sampai menjual sahamnya ke Bakrie.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

 
 
 
 
 
Previous Post

4 Langkah Memperbaiki Engagement

Next Post

Fraud Mengincar Program KUR

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 21:02

BNI menyabet peringkat keempat Top 10 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026 berkat penguatan kanal digital wondr...

Porsi Kredit Produktif Tembus 62 Persen: Bank BPD Bali Salurkan Pembiayaan UMKM Rp14,15 Triliun

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

by Sandy Romualdus
16 Oktober 2026 - 20:36

Bank BPD Bali meraup laba Rp1 triliun dan menyalurkan kredit UMKM Rp14,43 triliun per kuartal III/2026 dengan NPL Gross terjaga...

Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

by Sandy Romualdus
15 Oktober 2026 - 15:56

Wadirut Bank BSN Arga M. Nugraha menyerukan integrasi pasar keuangan syariah ASEAN guna melayani 250 juta umat Muslim di forum...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Lebih dari Sekadar Modal, KUR BRI Dorong Toko Grosir Fitriani Ciptakan Lapangan Kerja di Pesawaran

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 11:48

Berkat pembiayaan KUR BRI, Fitriani berhasil kembangkan kios kecil di Pesawaran jadi toko grosir sembako dan buka lapangan kerja warga...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 09:49

Shifa Celluler di Binjai Utara jadi ujung tombak inklusi dan literasi keuangan BRI, layani 4.500 transaksi bulanan serta dampingi nasabah...

Porsi Kredit Produktif Tembus 62 Persen: Bank BPD Bali Salurkan Pembiayaan UMKM Rp14,15 Triliun

Apresiasi Layanan Pensiun Prima: Dirut Bank BPD Bali Nyoman Sudharma Tegaskan Komitmen Sinergi Digital

by Sandy Romualdus
14 Oktober 2026 - 20:31

Bank BPD Bali meraih predikat Terbaik II Mitra Kerja Pembayaran Pensiun dari PT Taspen dan Ditjen Perbendaharaan atas layanan prima...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Dukung Pariwisata, CIMB Niaga Serahkan Bus Wisata TransJakarta

Dukung Pariwisata, CIMB Niaga Serahkan Bus Wisata TransJakarta

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance