Di tengah terus melemahnya harga minya dunia, Medco, perusahaan nasional yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi migas mengakuisisi Newmont, perusahaan pengelola tambang di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Rumor yang sudah beredar sejak akhir tahun lalu itu akhirnya menjadi kenyataan setelah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan AP Investment mengungkapkan telah membeli 82,2 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) akhir Juni dengan nilai 2,6 miliar dollar AS (sekitar Rp34 triliun). Tak pelak transaksi ini merupakan salah satu transaksi structured finance terbesar di Asia Tenggara tahun ini.
Menurut Arifin Panigoro, Bos Grup Medco, langkah ini dilakukan sebagai upaya pengembangan perusahaan. Selama ini Medco bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Medco juga mempunyai industri hilir yang memproduksi elpiji, distribusi bahan bakar diesel dan pembangkit tenaga listrik.
“Diversifikasi. Saya kira baik diversifikasi, karena minyak itu baru oke 2-3 tahun lagi. Lama. Kalau kita hanya rely on minyak saja berat menahannya. Kalau 2015 ini (harga minyak) 160 juta dollar AS kita jeblok. Dua tahun lagi begitu ya bubar perusahaan,” kata Arifin dua bulan sebelum kesepakatan terjadi.
Oleh sebab itu, menurut dia, sangat penting bagi perusahaan untuk menambah lini bisnis. Bahkan untuk merealisasikan hal ini, Arifin mengaku tidak segan membangun pabrik pemurnian (smelter) seperti yang telah diatur pemerintah.
Pada November tahun lalu, muncul kabar bahwa MedcoEnergi ingin membeli saham tambang Batu Hijau. Sudah lama perusahaan yang didirikan pengusaha Arifin Panigoro ini mengincar 76 persen saham milik Newmont senilai 2,2 miliar dollar AS. Rencana tersebut pernah disampaikan oleh Arifin kepada Menteri Perekonomian Kemaritiman Rizal Ramli pada 26 November 2015. Salah satu poin pembicaraan keduanya adalah rencana MedcoEnergi yang akan mengembangkan tambang Newmont di Nusa Tenggara Barat (NTB) meskipun sisa umur cadangan pada tambang itu hanya sekitar 5 sampai 6 tahun lagi.
Ngototnya Arifin membeli saham Newmont, boleh jadi muncul setelah pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor konsentrat atau mineral mentah (ore) pada Januari 2014. Pemerintah juga mematok pajak progresif yang cukup mahal untuk ekspor konsentrat. Tambahan lagi, semakin anjloknya harga, sementara biaya operasional terus naik. Itu sebabnya, Newmont menyatakan bakal menjual bisnisnya di Indonesia.
Kabar pembelian tersebut makin santer tatkala kakak adik Arifin dan Hilmi Panigoro bersama Muhammad Lutfi, Presiden Komisaris Medco yang juga mantan Menteri Perdagangan era Presiden SBY, muncul di istana Presiden pada 29 Maret 2016. Kabarnya, kedatangan mereka untuk membahas soal pembelian tambang emas Newmont. Pemerintah telah memberikan lampu hijau kepada pemilik Medco dengan mendukung penuh pembelian saham perusahaan yang masih dikuasai asing tersebut.
Seperti diketahui, pada 2010 lalu pemerintah diberikan penawaran saham sebanyak 7 persen dari pihak Newmont. Proses divestasi ini cukup panjang dan melewati masa jabatan tiga menteri keuangan. Dari Agus Martowardojo, Chatib Basri hingga Bambang Brodjonegoro.
Kini, penyelesaian transaksi akan menunggu persetujuan dari pemerintah dan pemegang saham MedcoEnergi. Namun, pemerintah nampaknya sudah memberi lampu hijau. Bahkan, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyambut baik keputusan yang telah diambil oleh Medco. Bambang memastikan tidak akan memburu lagi saham 7 persen yang sebelumnya pernah ditawarkan Newmont. “Pemerintah sudah nggak ngejar lagi, begitu saja,” ungkap Bambang tak lama setelah deal itu terjadi.
Bagi pemerintah, Medco juga merupakan perusahaan nasional. Sehingga peluang menarik keuntungan sebesar-besarnya untuk bangsa dan negara lebih besar dari sebelumnya. “Kalau Medco mau beli ya tidak masalah,” kata Bambang.
Peluang Saham Medco
Setelah mencaplok kepemilikan saham PT NNT, Direktur Utama Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro mengaku akuisisi Newmont bakal berdampak positif terhadap kinerja perseroan ke depan. Terlebih harga minyak mentah dunia yang mulai membaik diproyeksi bakal mendukung kinerja perseroan. “Dengan perkiraan penguatan harga minyak sampai akhir tahun, ditambah konsolidasi NNT, kinerja perusahaan akan jauh lebih baik,” kata Hilmi.
Kinerja perseroan per kuartal pertama 2016 berdasarkan laporan yang dirilis awal Juli menunjukkan perolehan laba bersih 10,21 juta dollar AS. Capaian itu berbanding terbalik dengan kerugian yang diderita perseroan pada periode sama tahun lalu 43,60 juta dollar AS.
Pendapatan saham MEDC itu meningkat 13,3 persen menjadi 144,8 juta dollar AS dari 127,7 juta dollar AS. Pendapatan dari sewa tahun ini telah menyumbang 4,05 juta dollar AS dari sebelumnya tidak sama sekali.
Penjualan minyak dan gas bersih tahun ini meningkat 14,03 persen menjadi 130,7 juta dollar AS dari 114,77 juta dollar AS. Pendapatan dari jasa naik 7,72 persen menjadi 6,76 juta dollar AS dan sebaliknya dari batu bara justru ambrol 53,5 persen menjadi 3,09 juta dollar AS.
Jumlah beban pokok penjualan dan biaya langsung memang hanya meningkat 4,6 persen menjadi 87,12 juta dollar AS. Sehingga, laba kotor berhasil melonjak 29,2 persen menjadi 57,6 juta dollar AS.
Sementara itu, saham MEDC di hari terakhir perdagangan menjelang libur lebaran melambung tinggi. Lompatan itu terjadi lantaran pengumuman resmi perseroan yang berhasil mencaplok Newmont.
Mengutip data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada awal Juli, saham Medco pada perdagangan sesi pertama ditutup melesat 300 poin (20,00 persen) ke Rp1.800. Tak lama kemudian saham MEDC langsung naik hingga ditutup di posisi 1.870, atau terbang 24,7 persen hanya dalam sehari.
Bagi pengamat pasar modal Teguh Hidayat, posisi saham MEDC pada harga 1.870 masih mencatat PBV 0,7 kali, jelas masih murah. “Meski juga perlu dicatat bahwa sejak jaman baheula MEDC ini tidak pernah cocok untuk investasi long term karena profitabilitasnya yang amat sangat kecil sebagai perusahaan minyak, bahkan ketika dulu harga minyak sedang tinggi-tingginya di level 100 dolar AS per barel,” papar Teguh.
Menurut Teguh yang juga pemilik Avere Investama, MEDC tidak bisa disebut sebagai perusahaan jelek, sehingga kalau ada berita bagus seperti ini, maka biasanya sahamnya menawarkan peluang untuk trading jangka menengah, terutama karena berita soal akuisisi Newmont ini biasanya bakalan ‘awet’ dalam beberapa bulan kedepan, mengingat MEDC baru sebatas menyatakan setuju untuk mengakuisisi Newmont, sementara penyelesaian akuisisinya masih harus menunggu proses persetujuan Pemerintah dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Medco.
Namun dia mengingatkan, saham MEDC ini kurang cocok untuk long term –kecuali jika nanti laba MEDC melompat karena tambahan laba dari Newmont, tapi bahkan kalaupun itu terjadi, maka terjadinya masih lama–maka investor harus tetap hati-hati, apalagi belakangan ini harga minyak dunia mulai turun lagi.
Kartu di Tangan Keluarga Jusuf
Newmont Nusa Tenggara dulunya dimiliki oleh tiga pemegang saham yakni Newmont Corp (Amerika Serikat) sebanyak 45 persen, Sumitomo Corp (Jepang) 35 persen, dan perusahaan lokal bernama PT Pukuafu Indah milik pengusaha tambang Jusuf Merukh (kini sudah almarhum) sebanyak 20 persen. Kemudian, berdasarkan peraturan Pemerintah Indonesia, Newmont Corp dan Sumitomo sebagai perusahaan asing harus menjual/divestasi sebagian saham mereka hingga mereka maksimal memegang saham NNT sebanyak total 49 persen saja, alias tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas. Karena Newmont dan Sumitomo totalnya memegang 80 persen saham NNT, maka terdapat 31 persen saham NNT yang akan dilepas. Tadinya 31 persen saham NNT ini akan dibeli oleh Pemerintah, namun Pemerintah menyatakan tidak memiliki dana, sehingga 31 persen saham ini ditawarkan kepada beberapa grup konglomerasi di Tanah Air.
Dan yang sukses masuk adalah Grup Bakrie, dimana mereka bersama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendirikan perusahaan patungan dengan nama PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Grup Bakrie melalui Bumi Resources Minerals (BRMS) memegang 75 persen saham MDB, sementara 25 persen sisanya dipegang oleh Pemprov NTB. MDB kemudian mengakuisisi 24 persen saham NNT senilai 850 juta dollar AS, pada tahun 2009. Dengan demikian, BRMS secara tidak langsung memegang 18 persen saham di NNT.
Menurut analisa pengamat bursa Teguh Hidayat, sejak awal Grup Bakrie sudah berniat untuk menguasai saham NNT 100 persen, atau paling tidak sebanyak 51 persen, sehingga mereka menjadi pemegang saham pengendali perusahaan. “Sama seperti ketika dulu mereka sukses mengakuisisi kepemilikan mayoritas di Arutmin, Kaltim Prima Coal (KPC), dan lainnya,” tulis Teguh di blog pribadinya.
Setelah MDB sukses mengakuisisi 24 persen saham NNT, maka masih terdapat sisa 7 persen saham NNT yang harus dilepas oleh Newmont Corp dan Sumitomo. Namun lagi-lagi Pemerintah Pusat tetap tidak mau mengambil jatah sahamnya. MDB sebenarnya sudah menawarkan untuk juga mengakuisisi sisa saham yang 7 persen tersebut, tapi kali ini Newmont Corp dengan tegas menolak untuk melepas sahamnya ke Bakrie, karena mereka tahu persis bahwa dengan demikian mereka akan kehilangan kontrol atas NNT. Meski Newmont Corp dan Sumitomo memang diharuskan untuk melakukan divestasi sehingga mereka maksimal hanya memegang 49% saham saja di NNT, namun mereka tetap menginginkan kontrol penuh atas perusahaan, dengan cara membuat pemegang saham lain memiliki saham NNT dalam jumlah yang lebih sedikit dari yang mereka miliki.
Jadi kuncinya sekarang terletak di pemegang saham NNT yang tersisa yakni PT Pukuafu Indah milik Jusuf Merukh. Saat itu pihak Jusuf nampaknya tidak memiliki keinginan untuk menjadi pemegang saham pengendali di NNT, namun posisi tawarnya menjadi sangat tinggi setelah Grup Bakrie mendekati dia untuk mengakuisisi 20 persen saham NNT, sementara Newmont Corp juga terus mendekati pihak Jusuf agar jangan sampai menjual sahamnya ke Bakrie.
















