• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Menjawab Tantangan Perbankan Abad ke – 21

by Sandy Romualdus
2 Maret 2012 - 00:00
1k
VIEWS
Menjawab Tantangan Perbankan Abad ke – 21
0
SHARES
1k
VIEWS

Oleh : Dr. Subarjo Joyosumarto

Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI)

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

 

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Pengalaman adalah guru yang baik. Bahkan, saat pengalaman itu menyakitkan, ia tetap bisa dipelajari. Nampaknya, itulah yang dilakukan para pemangku kepentingan negeri ini maupun perbankan Indonesia. Belajar dari pengalaman tak menyenangkan pada saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997/1998, yang memaksa Pemerintah dan Bank Indonesia merekapitalisasi belasan bank dengan dana sekitar Rp400 triliun, berbagai upaya penguatan sistem perekonomian dan perbankan nasional terus dilakukan.

Sejak tahun 1999, misalnya, otoritas dan pelaku industri perbankan bahu- membahu untuk memperkokoh pondasi urat nadi perekonomian ini. Sejumlah langkah penguatan itu, antara lain, pemenuhan atas 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision, penerapan blanket guarantee untuk melindungi simpanan nasabah serta pembentukan LPS, pengetatan pengaturan pengawasan bank, dan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API).

Sementara di tahun 2011, kebijakan penguatan perbankan nasional difokuskan pada tiga elemen. Pertama, meningkatkan kualitas industri perbankan nasional. Langkah ini meliputi, antara lain, pemenuhan jumlah dan kualitas SDM, pemberian insentif yang tepat, serta penguatan inovasi produk dan infrastruktur industri.

Kedua, meningkatkan intermediasi perbankan. Kebijakan ini diimplementasikan, antara lain, melalui sekutirisasi KPR, transparansi suku bunga dasar kredit (basic lending rate), kelonggaran bobot risiko kredit ritel dan KMK, pendirian biro kredit swasta, BPD sebagai penggerak ekonomi daerah (regional champion), serta perluasan akses perbankan (financial inclusion).

Ketiga, meningkatkan ketahanan bank. Kebijakannya meliputi, antara lain, ketentuan fit and proper test, fungsi kepatuhan bank umum, manajemen risiko terkait bancassurance, dan bank dalam pengawasan khusus maksimal tiga tahun.

Hasil usaha keras itu pun tidak sia-sia. Hal ini terbukti dari kondisi perekonomian dan perbankan Indonesia yang mampu bertahan meski krisis keuangan kembali menghantam dunia pada tahun 2008 – 2009, maupun ancaman krisis keuangan baru yang bersumber dari Eropa.

Sejalan dengan indikator makro, berbagai indikator perbankan juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Likuiditas perbankan tergolong aman bahkan berlebih, ditunjukkan oleh penyaluran kredit tahun 2011 yang mencapai angka Rp1.706 triliun. Sementara NPL tetap terjaga di level 3,06 persen, BOPO tetap tinggi pada level 81 persen, NIM 5,8 persen, CAR 16,9 persen, dan LDR 76,7 persen.

 

Lima Tantangan Abad 21

Bagi perbankan, abad 21 sangat berbeda dengan abad 20. Meski telah menunjukkan ketahanan yang cukup menggembirakan, namun bank tidak boleh terlena. Ke depan paling tidak ada lima tantangan yang perlu menjadi perhatian ekstra para pelaku industri perbankan nasional.

Pertama, bankir perlu ekstra hati-hati mengelola bisnis yang penuh risiko. Bisnis bank memang menjanjikan tingkat keuntungan tinggi, namun profitabilitas ini juga dibarengi dengan risiko tinggi. Kegagalan dalam mengelola aktiva, khususnya dalam menyalurkan kredit, akan membuat bank seperti menderita sakit kanker, kolaps secara perlahan-lahan.

Tingginya risiko bank ini semakin besar, mengingat bank wajib menjaga kepercayaan nasabah. Jika kegagalan mengelola aktiva membuat bank ibarat menderita kanker, maka kegagalan mengelola sumber dana, bank seperti terkena serangan jantung. Yang pertama akan menggerogoti kondisi bank, yang kedua akan langsung mematikan bank karena kepercayaan nasabah runtuh dan mereka menarik dananya bersama-sama (rush). Mengingat sebagian besar dana bank berasal dari nasabah dan hanya sebagian kecil yang berasal dari pemilik (owner), penarikan secara besar-besaran itu tentu saja membuat bank seketika kekeringan likuiditas hingga bangkrut. Inilah yang sempat dialami oleh bank-bank nasional pada 1997/1998.

Pengelolaan risiko dilakukan dengan cara mengindentifikasi, mengukur, dan memperkirakan konsekuensi dari suatu risiko. Salah satu metode yang sering digunakan adalah dengan memakai analisis Value at Risk (VAR), yaitu suatu kajian akademis yang memprediksi risiko bank dengan data historis melalui pendekatan statistik.

  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

Namun, penilaian risiko dengan VAR, juga oleh agen peringkat, ternyata belum memadai. Hal ini terbukti dari bangkrutnya lembaga keuangan ternama seperti Lehman Brothers, Bear Stearns dan Merril Lynch yang memiliki VAR sangat bagus. Sementara Enron, WorldCom dan General Motor yang dinilai sebagai perusahaan dengan rating tinggi juga kolaps.

Kedua, bankir perlu bekerja ekstra untuk melaksanakan good corporate governance (GCG). Untuk dapat menangkap peluang perubahan eksternal yang cepat, sekaligus mengakomodasi manajemen risiko, bank butuh melaksanakan GCG. GCG didefinisikan sebagai suatu sistem, proses dan seperangkat peraturan mengenai hubungan antara beberapa pihak (stake holder), yaitu pemegang saham, direksi, dan komisaris. GCG bertujuan untuk mencegah terjadinya kesalahan fatal dan memastikan jika terjadi kesalahan dapat diperbaiki dengan segera.

Ketiga, bankir perlu mengantisipasi pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Implementasi ASEAN Economic Community 2015 (AEC) akan mengakibatkan terjadinya free flow barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja (skilled labor) di antara 10 negara ASEAN.

Guna mengantisipasi AEC, pelatihan yang komprehensif bagi SDM perbankan perlu terus-menerus dilakukan dalam rangka menyiapkan bankir yang handal dan kompetitif, agar nantinya dapat bersaing dengan bankir-bankir dari negara ASEAN lain ketika AEC terbentuk. 

Keempat, bankir perlu menangkap peluang berbisnis dalam dual banking system. Seperti diketahui, perbankan Indonesia berjalan dengan dua sistem, yaitu konvensional dan syariah. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, peluang pengembangan keuangan syariah di Tanah Air sangat terbuka, bahkan menjadi pusat ekonomi syariah di Asia dan Dunia.

Ada beberapa alasannya, yaitu: citra keuangan syariah di dunia yang semakin meningkat, terutama semenjak krisis keuangan tahun 1997 dan 2008; perundang-undangan di Indonesia yang mendukung, seperti telah adanya UU Perbankan Syariah, UU Sukuk, dan pajak ganda untuk pembiayaan murabahah;  serta adanya kepercayaan yang tinggi dari masyarakat terhadap pelaksanaan sistem keuangan syariah di Indonesia karena dianggap dapat dipecaya (un-doubtful) dan aplikatif.

Namun, potensi besar perbankan syariah nasional menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sebab, seiring dengan perkembangan pesat perbankan syariah, dibutuhkan pasokan Sumber Daya Insani (SDI) yang sebanding. Hingga tahun 2015, dengan asumsi pertumbuhan perbankan syariah 25 persen per tahun, diperkirakan kebutuhan SDI perbankan syariah adalah 60 ribu orang. Artinya, dibandingkan jumlah SDI yang ada saat sekarang, sekitar 20 ribu orang (2010), ada gap sekitar 40 ribu orang lagi.

Untuk memenuhi kebutuhan SDI tersebut, pendidikan dan pelatihan yang memadai bagi bankir syariah sangat penting, sebab bank syariah tidak bisa mengandalkan SDM hasil konversi bank konvensional karena sebagian keterampilan bankir syariah tidak dimiliki oleh bankir konvensional.

Kelima, bankir perlu memahami sistem pengawasan bank. Secara umum kebijakan pengawasan bank dapat dibagi dua, yaitu micro prudential dan macro prudential. Micro prudential merupakan penilaian atas tingkat kesehatan dari sebuah individu bank, yang dinilai berdasarkan CAMEL. Dalam hal ini, kondisi kesehatan individu bank menjadi tanggung jawab manajemen bank yang bersangkutan. Kita lihat bahwa setiap kali terjadi krisis, Bank for International Settlements akan mengubah metode pengawasan, sehingga diciptakan Basel 1, 2, 3, dan seterusnya.  Ini membutuhkan pemahaman yang komprehensif dari para bankir. Sementara macro prudential merupakan penilaian atas tingkat kesehatan dari sistem perbankan secara keseluruhan, yang dinilai berdasarkan dampak sistemik. Dalam hal ini, konsidi kesehatan makro perbankan menjadi tanggung jawab Bank Indonesia.

 

Learning Organization

Dunia bisnis senantiasa berkembang, begitupun dengan perbankan. Perubahan lanskap bisnis di industri perbankan di abad ke 21 menjadi pekerjaan rumah bagi bankir untuk menjawab tantangan yang semakin berat ke depan. Guna menjawab perubahan dan menghadapi tantangan perbankan di abad ke 21 serta mengubahnya menjadi peluang (opportunity), hanya mungkin jika bank memiliki para bankir yang senantiasa meng-update diri atau bankir pembelajar (learning).

Secara persamaan ekologi (ecological equation), hubungan antara tingkat pembelajaran bankir dengan perubahan yang terjadi di industri, dapat dirumuskan sebagai L > = C

Di mana L adalah learning atau kuantitas pembelajaran; dan C adalah changes atau perubahan yang terjadi dilingkungannya.

Berdasarkan adagium di atas, maka hanya bank-bank yang memiliki para bankir dengan porsi pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi minimal sama atau lebih besar dari perubahan yang terjadi yang dapat menjawab tantangan di Abad 21.

  • Baca juga: Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Untuk memiliki bankir-bankir pembelajar yang selalu meng-update diri tentu, institusi bank wajib membangun learning organization pada setiap kantornya. Learning organization adalah organisasi yang senantiasa memberi kesempatan kepada pegawainya untuk meng-update dirinya dengan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi baru.

Bank yang telah menjadi learning organization, secara otomatis akan mendorong para bankirnya untuk merancang jenjang karir mereka dari sejak dini, melalui pendidikan, kursus, workshop, dan sebagainya. Serta mengambil sertifikasi kompetensi sesuai minatnya, seperti sertifikasi di bidang treasury, audit intern, general banking, manajemen risiko, kredit, funding & services, operation, dan wealth management. *****

 
 
 
 
 
Previous Post

Bank Emas

Next Post

One Stop Service Danamon di Tanjung Perak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
One Stop Service Danamon di Tanjung Perak

One Stop Service Danamon di Tanjung Perak

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance