OJK mengedukasi mahasiswa mengenai manfaat dan risiko pembiayaan digital di tengah lonjakan outstanding pindar Rp106,94 triliun dan BNPL Rp13,61 triliun.
Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan generasi muda melalui edukasi mengenai manfaat, risiko, serta prospek pembiayaan digital. Langkah ini ditempuh untuk mendorong pemanfaatan layanan keuangan yang bertanggung jawab di tengah pesatnya pertumbuhan industri pinjaman daring (pindar) dan Buy Now Pay Later (BNPL) di Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah proses pembiayaan menjadi semakin cepat, mudah, dan inklusif.
“Pembiayaan digital memungkinkan proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan detik melalui pemanfaatan teknologi, artificial intelligence, dan machine learning dalam analisis kelayakan pembiayaan,” kata Agusman dalam Kuliah Umum OJK Mengajar bertema “Pembiayaan Digital: Manfaat, Risiko dan Prospek” di Indonesia Banking School (IBS), Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
BERITA TERKAIT
Kendati menawarkan kemudahan pencairan dana, Agusman mengingatkan agar pemanfaatan layanan pembiayaan digital selalu dibarengi dengan pengelolaan keuangan yang bijak serta perhitungan kemampuan membayar kewajiban.
“Kemudahan akses pembiayaan digital harus diimbangi dengan literasi yang memadai, pemahaman risiko, serta kemampuan memenuhi kewajiban agar manfaat teknologi keuangan dapat dirasakan secara optimal dan berkelanjutan,” tegas Agusman.
Agusman menambahkan bahwa pembiayaan digital memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan layanan keuangan masyarakat serta mendukung pengembangan sektor produktif dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ketika akses keuangan konvensional sulit menjangkau seluruh lapisan masyarakat, pembiayaan digital hadir untuk memperluas akses keuangan, sepanjang tersedia konektivitas dan infrastruktur digital,” jelasnya.
Seiring pesatnya adopsi teknologi finansial, kinerja industri pembiayaan digital nasional terus mencatatkan tren pertumbuhan signifikan. Hingga Agustus 2026, nilai baki debet layanan BNPL yang disalurkan perusahaan pembiayaan tumbuh 36,57 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp13,61 triliun dengan total 27,71 juta rekening.
Sementara itu, outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) meningkat 22,07 persen YoY menjadi Rp106,94 triliun. Jumlah pengguna pindar tercatat mencapai 189,77 juta akun, yang terdiri atas 3,02 juta pemberi pinjaman (lender) dan 186,75 juta penerima pinjaman (borrower).
Agusman menekankan bahwa ekspansi industri pembiayaan digital tersebut harus disertai tata kelola yang baik serta pelindungan konsumen yang kuat. OJK terus memperkuat kebijakan dan pengawasan guna memitigasi risiko penyalahgunaan data pribadi serta tindak penipuan (fraud).
Ketua Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) Priyanto Budi Nugroho mengapresiasi pelaksanaan kuliah umum yang diikuti oleh 137 mahasiswa dan 15 dosen IBS tersebut. Ia mengajak mahasiswa memastikan kemudahan akses pendanaan tidak berujung pada kesulitan keuangan bagi masyarakat maupun investor.
“Di era digital, pemanfaatan inovasi tidak hanya untuk memperoleh pertumbuhan dan keuntungan, tetapi juga harus diimbangi dengan manajemen risiko dan tanggung jawab. Ketiganya merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan,” ujar Priyanto. ***

















