JAKARTA, Stabilitas—Penetrasi penggunaan layanan keuangan melalui fintech di Indonesia tergolong masih cukup rendah. Hal ini terbukti melalui penelitian yang dilakukan oleh perusahaan konsultan manajemen bisnis McKinsey & Company dalam laporan terbarunya berjudul Digital Banking in Indonesia: Building Loyalty and Generating Growth. Penelitian itu mengungkapkan penetrasi penggunaan layanan fintech di Indonesia baru menginjak angka 5 persen. Jauh jika dibandingkan dengan negara Asia lain seperti Hongkong yang telah menginjak angka 57 persen.
“Penggunaan layanan digital akan terus berkembang karena Indonesia masih berpotensi besar menjadi arena kolaborasi antara bank dan layanan fintech.”kata Partner Indonesia McKinsey & Company, Guillaume de Gantes dalam media briefing di Jakarta, Senin (11/2/2019).
Guilaume menjelaskan, Indonesia masih terbilang rendah dalam penetrasi fintech dibandingkan negara seperti China yang 50 persen sudah menggunakan fintech. Meskipun demikian, ia menambahkan, saat ini layanan perbankan sedang bergeser ke digital. Bahkan nasabah juga sudah mulai memindahkan saldo mereka hingga 50 persen ke layanan digital yang menunjukkan bahwa adanya persaingan keat antara produk keuangan digital dengan bank konvensioal.
“Misalnya OVO dan GoPay makin banyak digunakan untuk sistem pembayaran jadi menungkinkan untuk berkembang lebih pesat penetrasinya,”jelasnya.
Ia menambahkan, hal ini bisa menjad faktor pendorong penetrasi fintech hingga mencapai 15 persen dan menyaingi Australia yang telah menyentuh angka 17 persen.
“Butuh waktu beberapa tahun lagi untuk Indonesia karen masih banyak yang lebih nyaman menggunakan uang cash,“pungkasnya.

















