JAKARTA, Stabilitas– PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal hingga 27 Desember 2019 mencapai 2,4 juta orang. Angka ini meningkat 53,04 persen dari periode akhir Desember 2018 sebesar 1,6 juta investor.
Direktur Utama KSEI, Uriep Budhi Prasetyo menyampaikan, sepanjang tahun 2019 terdapat 55 Perusahaan Tercatat saham baru, dan merupakan aktivitas pencatatan saham baru (IPO saham) tertinggi di antara bursa-bursa di kawasan Asia Tenggara dan peringkat 7di dunia.
“Atas pencapaian tersebut, total jumlah Perusahaan Tercatat saham di BEI di penghujung tahun 2019 mencapai 668 perusahaan,”ujarnya.
Selanjutnya, aktivitas pencatatan efek di BEI di tahun 2019 juga diikuti oleh 14 pencatatan Exchange Traded Fund (ETF) baru, 2 Efek Beragun Aset (EBA), 2 Obligasi Korporasi Baru (diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat yang baru pertama kali mencatatkan efeknya di bursa), 2 Dana Investasi Real Estate Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DIRE-KIK) dan 1 Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA). Dengan demikian, terdapat 76 pencatatan efek baru di BEI sepanjang tahun 2019, atau melebihi dari target 75 pencatatan efek baru yang direncanakan.
Aktivitas perdagangan BEI di tahun 2019 juga mengalami peningkatan yang tercermin dari kenaikan rata-rata frekuensi perdagangan yang tumbuh 21 persen menjadi 469 ribu kali per hari dan menjadikan likuiditas perdagangan saham BEI lebih tinggi diantara Bursa-bursa lainnya di kawasan Asia Tenggara.
“Pada periode yang sama, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) turut meningkat 7 persen menjadi Rp9,1 triliun dibandingkan tahun 2018 yang sebesar Rp8,5 triliun,”bebernya.
Sampai dengan November 2019, terdapat 66.247 investor syariah atau tumbuh 49 persen dibandingkan tahun 2018, serta terdapat 429 saham kategori syariah dengan kapitalisasi saham syariah mencapai Rp3.767 triliun pada 27 Desember 2019 atau 52 persen dari total kapitalisasi pasar saham BEI sebesar Rp7.299 triliun.

















