Jakarta – Mencatatkan saham perdanya di papan Bursa Efek Indonesia, pada Rabu (3/7) pukul 09.00, saham PT Electronic City Indonesia Tbk, (ECII) dibuka stagnan di harga Rp 4.050 sama seperti harga penawaran saham perdana. Bahkan, saham emiten berkode ECII ini sempat menyentuh level terendah di level Rp 4.000 dan level tertingginya di angka Rp 4.100 per saham.
Namun demikian, Direktur Utama Electronic City, Inggrid Pribadi, menegaskan bahwa perusahaan yang dipimpinnya ini telah terbangun sejak 12 tahun lalu dan merupakan pelopor elektronik di Indonesia. "Dengan fundamental yang kuat kami percaya inilah momen untuk investor baik lokal maupun asing untuk berkembang bersama kami," kata Ingrid di Jakarta, Rabu (3/7).
Iman Hilmansyah, Direktur Danareksa Securitas menjelaskan, saat ini memang kondisi pasar secara regional sedang menurun. Kendati ada kekhawatiran akan kondisi tersebut, Iman meyakini fundamental emiten yang didampinginya ini sangat kuat sehingga akan memberikan prospek yang cerah bagi investor.
BERITA TERKAIT
Hal itu, lanjut Iman, terbukti dari penawaran saham yang mengalami kelebihan permintaan selama masa bookbuilding. "Kita alami oversubscribe. Ada permintaan yang tinggi dari investor asing hingga 70%. Itu didominasi institusi. Jadi Emiten yang kita bawa dan investor yang ada kita optimis membawa prospek yang bagus, karen brand yang kuat dan mempunyai domestic base yang kuat," kata Iman.
Untuk diketahui, Electronic City melepas sebanyak-banyaknya 333,33 juta lembar saham atau sekitar 25% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan itu, perseroan bakal meraup dana segar sebesar Rp 1,34 triliun. Perseroan juga akan melaksanakan program employee stock allocation (ESA), dengan mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya 2% dari jumlah saham yang ditawar dan 1% untuk program MSOP.
Sementara dana hasil IPO ini sebesar 10% akan digunakan untuk pembayaran utang Perseroan di Bank Victoria senilai Rp 15 miliar dan Bank CIMB Niaga senilai Rp 10 miliar. Kemudian, dari sisa dana IPO yang sebesar 90%, sebesar 85% untuk Capital Expenditure (Capex) yakni biaya pembangunan gerai baru (stand alone) dan beberapa akuisisi lahan. Sementara sisanya 15% bakal ditempatkan ke dalam pos modal kerja, termasuk didalamnya upgrade IT perseroan.
Adapun total capex yang dianggarkan Perseroan untuk tahun ini sebesar Rp 800 miliar, naik signifikan dari posisi capex 2012 yang hanya sebesar Rp 80 miliar.





.jpg)










