Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim tingginya kepercayaan global terhadap ekonomi Indonesia, didorong oleh masuknya modal asing Rp141,6 triliun, defisit APBN yang terkendali, dan kuatnya fundamental makroekonomi domestik.
Stabilitas.id – Arus modal asing mengalir deras masuk ke pasar keuangan domestik, seolah menembus tebalnya kabut ketidakpastian ekonomi global. Hingga 11 September 2026, catatan pemerintah menunjukkan masuknya dana asing (capital inflow) mencapai angka Rp141,6 triliun. Ratusan triliun yang membanjiri bursa dan pasar obligasi ini bukanlah kebetulan semata, melainkan wujud nyata dari bertahannya kepercayaan dunia terhadap daya tahan ekonomi Indonesia.
Klaim tersebut disuarakan langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri rapat kerja dengan Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2026). Di hadapan para senator, sang bendahara negara menegaskan bahwa fondasi makroekonomi yang kokoh menjadi magnet utama bagi para investor di tengah pusaran krisis.
“Solidnya kinerja perekonomian domestik berimplikasi pada terjaganya kepercayaan dunia,” ujar Purbaya dengan nada optimis.
BERITA TERKAIT
Kepercayaan para pemodal global ini memiliki pijakan yang kuat pada rapor mentereng dari sejumlah lembaga pemeringkat kredit internasional. S&P Global, misalnya, mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level ‘BBB’ dengan prospek (outlook) stabil. Senada dengan itu, Lianhe Ratings Global bahkan menyematkan peringkat ‘AAA’ yang juga diiringi prospek stabil. Peringkat ini seolah menjadi stempel garansi bahwa Indonesia adalah destinasi investasi yang aman dan jauh dari risiko gagal bayar.
Di balik derasnya aliran modal tersebut, Purbaya menunjuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai pahlawan tak kasat mata. Di tengah turbulensi ekonomi dunia, instrumen fiskal ini dipaksa bekerja ekstra keras untuk menjalankan tiga peran sekaligus: sebagai peredam kejut (shock absorber), agen pembangunan, hingga tameng pelindung keberlanjutan fiskal negara.
Kekhawatiran publik mengenai pelebaran defisit APBN pun berupaya ditepis dengan paparan angka. Berdasarkan pembukuan pemerintah, defisit hingga akhir Juli 2026 masih terparkir rapi di zona aman, yakni 0,91 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi ini terbukti persisten dan terkendali, terindikasi dari catatan akhir Agustus yang juga masih bertahan di kisaran 0,9 persen dari PDB. Terjaganya defisit ini tak lepas dari kinerja pendapatan negara yang melesat tumbuh 21,3 persen pada Juli lalu, mampu mengimbangi laju belanja negara yang dipatok tumbuh kuat.
Kredibilitas fiskal dan gemerlapnya arus modal ini sejatinya disokong penuh oleh napas panjang sektor riil. Mesin perekonomian nasional pada paruh pertama atau semester I-2026 masih mampu melaju dengan pertumbuhan sebesar 5,45 persen. Di saat yang sama, daya beli masyarakat dijaga lewat laju inflasi yang terbilang jinak, yakni bertengger di level 3,19 persen secara tahunan (year-on-year) pada Agustus.
Tak hanya urusan dalam negeri, kinerja perdagangan internasional turut menyumbang pasokan energi positif. Neraca perdagangan periode Januari hingga Juli mencatat surplus sebesar US$3,7 miliar. Derasnya ekspor ini akhirnya bermuara pada menebalnya cadangan devisa, yang sukses menyentuh angka US$146,5 miliar pada akhir Agustus lalu. Rangkaian indikator ini seakan menjadi manifesto pemerintah: di saat banyak negara lain terengah-engah, mesin ekonomi Indonesia masih menyimpan tenaga penuh. ***

















