Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan arus modal asing masuk kembali (inflow) ke Indonesia sebesar US$ 7,98 miliar pada triwulan II-2026 setelah sempat mencatat outflow pada triwulan pertama.
Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) mencatat angin segar dari pasar keuangan domestik. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa arus modal asing (capital inflow) mulai bergerak masuk kembali ke pasar keuangan Indonesia pada triwulan II-2026 dengan nilai yang fantastis, yakni mencapai US$ 7,98 miliar atau setara Rp 143,34 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.960 per US$).
Kondisi ini menandai titik balik (reversal) yang positif bagi industri keuangan nasional, setelah pada triwulan I-2026 Indonesia terus-menerus didera aksi lepas portofolio oleh investor global (capital outflow).
Perry menjelaskan, kembalinya kepercayaan investor ini tidak lepas dari langkah taktis BI bersama pemerintah yang sepakat untuk mendongkrak tingkat suku bunga pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Strategi ini sengaja ditempuh untuk meningkatkan daya saing imbal hasil investasi di pasar domestik sekaligus memagari stabilitas nilai tukar Rupiah.
BERITA TERKAIT
“Kalau di triwulan satu itu masih terjadi outflow total sebesar US$ 1,47 (Rp 26,4 triliun). Namun di triwulan dua ini sudah kembali dengan total inflow mencapai US$ 7,98 miliar (Rp 143,34 triliun),” papar Perry dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Selasa (7/7).
Pergeseran Peta Aliran Dana Asing: Triwulan I vs Triwulan II 2026
Berdasarkan data kuartalan yang dirilis bank sentral, terjadi pergeseran portofolio investor yang cukup kontras di beberapa instrumen utama keuangan riil:
1. Kondisi Rapor Triwulan I-2026
-
SRBI: Menjadi satu-satunya instrumen penyelamat dengan catatan inflow masuk sebesar US$ 1,78 miliar (Rp 31,97 triliun).
-
Pasar Saham: Mengalami tekanan aksi jual bersih asing (net sell) hingga mencatat outflow sebesar US$ 1,76 miliar (Rp 31,61 triliun).
-
Pasar SBN: Terkoreksi akibat aksi lepas pasang investor eksternal dengan outflow menembus US$ 1,46 miliar (Rp 26,22 triliun).
-
Hasil Akhir: Akumulasi total arus modal asing terjebak di zona negatif (net outflow).
2. Kondisi Rapor Triwulan II-2026
-
SRBI: Kian berkilau menjadi motor utama dengan serapan dana asing melonjak drastis ke angka US$ 8,48 miliar (Rp 152,3 triliun).
-
Pasar SBN: Berhasil membalikkan keadaan menjadi positif dengan catatan inflow sebesar US$ 1,78 miliar (Rp 31,97 triliun).
-
Pasar Saham: Masih menunjukkan tren pengosongan posisi portofolio asing dengan sisa outflow mencapai US$ 2,3 biiar (Rp 41,31 triliun).
-
Hasil Akhir: Secara agregat keseluruhan, posisi neraca modal berbalik surplus tebal (net inflow).
Win-Win Solution Tekan Beban Fiskal Negara
Di sisi lain, kebijakan menaikkan imbal hasil atau yield SBN demi menjaring dana global tentu berdampak pada membengkaknya biaya bunga yang harus dibayarkan oleh kas negara. Guna mengantisipasi hal ini, Perry menegaskan bahwa Bank Indonesia telah menyiapkan bantalan berupa skema kompensasi khusus bagi pemerintah.
Langkah mitigasi ini diwujudkan lewat peningkatan rasio remunerasi (bunga penempatan) atas simpanan dana likuid pemerintah yang diparkir di rekening Bank Indonesia. Jika dalam formula lama kuota remunerasi dipatok mentok di level 80% dari besaran BI Rate, maka ke depan ketetapan tersebut akan diungkit hingga menembus di atas level BI Rate.
“Semua kenaikan beban bunga kami akan tanggung, kami akan tingkatkan remunerasinya Bank Indonesia kepada pemerintah, sehingga win-win solution. Inflow-nya tetap masuk, Rupiahnya stabil, beban bunganya kami akan kembalikan. Kami pastikan sehingga posisi anggaran pemerintah tidak lagi tertekan,” pungkas Perry. ***

















