Penjualan semen domestik pada Agustus 2026 tumbuh 4,4% menjadi 6,2 juta ton. Pertumbuhan ditopang masifnya proyek hilirisasi nikel di Maluku dan Sulawesi.
Stabilitas.id – Laju penjualan semen domestik menunjukkan resiliensi yang kokoh di tengah dinamika ekonomi nasional. Volume penjualan pada Agustus 2026 sukses mencatatkan pertumbuhan 4,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan menyentuh level 6,2 juta ton. Akselerasi aktivitas konstruksi infrastruktur tampil sebagai motor utama penggerak permintaan bahan baku tersebut.
Laporan riset terbaru dari Office of Chief Economist Bank Mandiri membedah detail pertumbuhan yang jauh lebih baik ketimbang periode Agustus 2025 lalu. Penjualan semen curah sukses meroket hingga 7 persen yoy pada bulan kedelapan tahun ini. Permintaan semen kantong untuk kebutuhan konstruksi properti turut mengekor dengan pertumbuhan moderat sebesar 3,3 persen yoy.
Fenomena menarik justru muncul dari pergeseran peta konsumsi antarwilayah yang dipicu oleh agenda hilirisasi mineral. Kawasan Maluku-Papua memimpin lonjakan permintaan tertinggi hingga 22,4 persen yoy. Pertumbuhan fantastis di wilayah ini murni digerakkan oleh meledaknya penjualan semen di Maluku Utara sebesar 98,1 persen yoy imbas masifnya konstruksi fasilitas pemurnian (smelter) nikel.
BERITA TERKAIT
Pulau Sulawesi tidak mau ketinggalan dengan membukukan pertumbuhan serapan semen sebesar 7,8 persen yoy. Proyek hilirisasi nikel di Sulawesi Tengah menjadi penyumbang utama dengan lonjakan permintaan mencapai 28,4 persen yoy. Kawasan Sumatra turut mencetak tren positif sebesar 6,9 persen yoy yang mayoritas tertopang oleh proyek rehabilitasi pascabencana di Aceh.
Kinerja moncer di pasar domestik sayangnya gagal menular ke segmen ekspor. Total volume pengiriman semen dan klinker ke pasar global justru mengalami kontraksi 4,7 persen yoy menjadi hanya 1,0 juta ton. Penurunan ekspor klinker yang merosot tajam hingga 13,1 persen yoy menjadi biang kerok utama terkoreksinya performa pasar luar negeri.
Analis memproyeksikan total serapan semen sepanjang 2026 bakal menembus 66,5 juta ton atau tumbuh stabil 4,6 persen yoy. Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk properti dan berlanjutnya proyek hilirisasi masih menjadi katalis positif terkuat. Program prioritas negara seperti pembangunan Gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan perumahan subsidi juga diyakini akan terus mendongkrak utilitas pabrik semen.
Pelaku industri dan regulator mutlak harus merumuskan tata kelola mitigasi terhadap sejumlah faktor risiko yang membayangi prospek cerah tersebut. Kenaikan beban biaya energi pabrikan semen menjadi ancaman nyata bagi margin keuntungan (profitability margin) korporasi. Kebijakan efisiensi APBN 2026 yang berpotensi memangkas alokasi belanja infrastruktur juga harus dimitigasi sejak dini agar tidak mengerem laju ekspansi sektor riil. ***

















