Stabilitas.id – Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil Iran selama dua minggu. Langkah diplomasi ini memberikan sentimen positif bagi pasar global yang sebelumnya dibayangi kekhawatiran eskalasi perang di Teluk Persia.
Berdasarkan laporan Daily Wealth Wire OCBC yang dipublikasi Kamis (8/4/2026), diebutkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) jatuh 15% hingga menyentuh level di bawah US$96 per barel, sementara minyak Brent ditutup pada kisaran US$109 per barel.
Peredaan tensi geopolitik ini menjadi angin segar bagi negara-negara pengimpor minyak bersih di Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan. Melemahnya harga energi dan indeks Dolar AS menciptakan kondisi pasar yang cenderung stabil bagi bursa saham kawasan.
BERITA TERKAIT
Indeks MSCI Asia Pasifik tercatat naik 1%, didorong oleh penguatan saham-saham sektor teknologi seperti TSMC dan SK Hynix. Di sisi lain, harga emas spot justru merangkak naik ke level US$4.770,50 per ons seiring dengan penguatan obligasi pemerintah AS.
IHSG dan Rupiah Tertekan Volatilitas
Berbeda dengan tren regional, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,26% atau turun 18,40 poin ke level 6.971,03 pada perdagangan kemarin. Pelemahan ini beriringan dengan nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi terhadap Dolar AS ke posisi Rp17.105.
Sektor industri dan konsumer non-siklikal menjadi pemberat utama indeks dengan penurunan masing-masing sebesar 1,10% dan 1,06%. Meskipun demikian, IHSG diprediksi berpotensi menguat dalam jangka pendek menyusul adanya ruang negosiasi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran.
Akumulasi Reksa Dana Pendapatan Tetap
Menyikapi volatilitas di pasar obligasi, analis OCBC menyarankan investor untuk mencermati instrumen reksa dana pendapatan tetap dengan durasi menengah-pendek. Hal ini didukung oleh tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang saat ini berada di level 6,7%.
“Akumulasi pada reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi langkah antisipasi yang lebih baik di tengah fluktuasi pasar obligasi saat ini,” tulis laporan OCBC tersebut. ***
















