• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Minggu, Februari 22, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Laporan Utama

Was-was Risiko Likuiditas

oleh Sandy Romualdus
31 Maret 2022 - 09:00
11
Dilihat
Utang LN Indonesia Triwulan II 2020 Membengkak 5 Persen

Ilustrasi Utang Luar Negeri Indonesia.

0
Bagikan
11
Dilihat

Risiko likuiditas diperkirakan akan menjadi ancaman yang paling dominan tahun 2022 ini setelah rencana normalisasi kebijakan moneter terkuak. Apakah pelaku di sektor perbankan perlu was-was?

Oleh Syarif Fadilah

Semua akan kembali normal. Sejatinya dalam kondisi wajar, pernyataan itu merupakan ungkapan yang menggembirakan. Tetapi kali ini situasi tersebut justru memberi sinyal ketidaknyamanan pada sektor keuangan. Ya, setelah beberapa tahun kebijakan moneter dunia dipengaruhi oleh langkah ‘tidak normal’ The Federal Reserve dalam menangkal pandemi, ketika hal itu akan berakhir tentu membikin semua was-was.

Kebijakan pembelian aset besar-besaran atau quantitative easing yang dibarengi oleh pengenaan bunga acuan super rendah oleh bank sentral AS itu, tahun ini diperkirakan akan berbalik arah. Langkah back to normal yang didorong pemulihan ekonomi AS yang mulai terlihat justru berpotensi membuat pemulihan di negara lainnya terganjal

BERITA TERKAIT

BI Perkuat Struktur Industri Sistem Pembayaran, Transaksi Digital Tembus 147,3 Miliar pada 2030

IMF: Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Kuat Di Tengah Ketidakpastian Global

Inflasi Desember 2025 Naik, BI Pastikan Stabilitas Harga Tetap Terjaga

Utang Luar Negeri Indonesia Turun Jadi US$423,9 Miliar pada Oktober 2025

Indonesia, tentu saja, tidak bisa dikecualikan, terutama dari sisi likuiditas. Nantinya ketika suku bunga utama AS dinaikkan, hampir bisa dipastikan aset-aset non dollar AS akan kehilangan pamornya, dan investor akan mengalihkan dananya ke aset dollar AS. “Terpantau, The Fed berencana menaikkan  suku bunganya pada pertengahan tahun 2022.Suku bunga global mungkin akan naik tahun ini tapi secara perlahan,” ujar Mirza Adityaswara, Direktur Utama LPPI.

Langkah normalisasi kebijakan dari otoritas moneter AS itu tentu akan mempengaruhi likuiditas dunia dan juga Indonesia. Meski begitu, Mirza menilai kondisi likuiditas dalam negeri masih dalam zona aman kendati sebelumnya Bank Indonesia menyesuaikan kebijakan giro wajib minimum (GWM) untuk perbankan.

Di sisi lain, Bank Indonesia pun memang tengah bersiap untuk melakukan normalisasi kebijakan moneternya juga. Setelah dua tahun ikut menangkal dampak pandemi pada perekonomian bersama dengan pemerintah, BI berencana akan kembali megembalikan kebijakan pada jalur normal. Yang sudah terlihat adalah dari sisi GWM yang akan dikerek.

Saat ini  untuk simpanan wajib bank umum konvensional di BI masih sebesar 3,5 persen dari dana kelolaannya. Mulai 1 Maret 2022, rasionya dinaikkan 1,5 persen, sehingga menjadi 5,0 persen dengan pemenuhan seluruhnya secara rata-rata.

Kemudian mulai 1 Juni, angkanya akan kembali dinaikkan 1 persen, sehingga menjadi 6,0 persen dengan pemenuhan seluruhnya secara rata-rata. Dan akhirnya pada 1 September nanti, rasionya dinaikkan kembali 0,5 persen, sehingga menjadi 6,5 persen dengan pemenuhan seluruhnya secara rata-rata.

Sementara untuk kelompok bank syariah, kenaikan GWM sebesar 50 bps diterapkan mulai 1 Maret 2022. Lalu 50 bps mulai 1 Juni 2022, dan 50 bps mulai 1 September 2022, sehingga total besaran GWM yang harus dijaga menjadi 5,0%.

BI mengaku sudah punya hitungan dampak dari rencana kenaikan GWM 350 basis poin (bps) bagi bank umum konvensional dengan rincian 150 bps di Maret, 100 bps di Juni, dan 50 bps di September 2022.  “Likuiditas perbankan sangat besar, sekarang itu Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) 35 persen. Sebelum Covid-19, itu paling besar hanya 21 persen. Bila GWM diterapkan, maka AL/DPK akan turun menjadi 30 persen di akhir 2022. Jadi masih jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum Covid-19,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.

Pengurangan likuiditas secara bertahap sempat dikemukakan BI pada Oktober 2021, alih-alih berencana menaikkan suku bunga acuan dalam waktu cepat. Perry saat itu menyatakan suku bunga akan tetap rendah hingga 2022 untuk menyokong pertumbuhan ekonomi. Kendati begitu, BI menilai likuiditas masih tetap longgar tahun meski ada pengurangan secara bertahap. BI diperkirakan baru akan memikirkan kembali tentang kenaikan suku bunga pada kuartal keempat tahun ini.

BI memutuskan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) bulan ini tetap 3,5 persen, seiring dengan penyebaran varian omicron yang meluas, yang dapat menarik mundur pemulihan ekonomi. Bank sentral lebih concern pada pengendalian inflasi ketimbang potensi tekanan pada mata uang rupiah dari rencana kenaikan suku bunga The Fed.

Sedot Likuiditas

Namun tidak bisa dipungkiri lagi, pilihan kebijakan bank sentral ini tetap saja akan mengikis likuiditas milik perbankan. Diperkirakan tapering off versi BI ini akan menyedot kurang lebih Rp200 triliun likuiditas. Meski begitu, kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, kebijakan bank sentral tersebut tidak akan menganggu ketersediaan likuiditas perbankan.

Likuiditas perbankan dinilai masih cukup tebal. Kondisi itu tidak lepas dari kebijakan quantitative easing otoritas Kebon Sirih, yang mana pada 2020 dan 2021 telah diinjeksi masing-masing Rp 726,57 triliun dan Rp 147,83 triliun. Longgarnya likuiditas perbankan juga diakibatkan rendahnya penyaluran kredit di tengah perolehan DPK yang terus saja tumbuh tinggi.

Di sisi lain, selama 2020 pertumbuhan kredit terkontraksi 2,41 persen secara tahunan, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,11 persen. Begitu pula pada 2021, pertumbuhan kredit tumbuh 5,2 persen namun DPK tumbuh lebih tinggi yaitu 12,2 persen.

Sementara itu, Ekonom MNC Sekuritas Tirta Widi Gilang Citradi menilai, instrumen GWM yang dipilih oleh BI merupakan hal yang wajar digunakan bank sentral negara berkembang untuk menyesuaikan likuiditas.

Pada saat pandemi Covid-19, BI sudah jor-joran dalam menambah likuiditas. Saat ini proses pemulihan sudah terlihat dan BI tidak ingin kehilangan momentum itu. Diharapkan kondisi permintaan kredit membaik sehingga ketersediaan likuiditas ini juga kemudian berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Hanya saja, kata Tirta, saat likuiditas meluber dan di saat yang sama ada perbaikan pandemi, maka ini akan menyebabkan pola pemulihan yang sangat signifikan atau V-Shaped dan memberi konsekuensi pada tekanan inflasi.

Perbaikan di Indonesia ini sudah mulai tercermin dari pertumbuhan kredit yang mulai sejalan dengan perkiraan BI yang sebesar 4 persen hingga 6 persen, yaitu tepatnya di 5,2 persen. Dan sejalan dengan hal itu, inflasi pada tahun 2021 juga menaglami peningkatan. “Nah, kalau likuiditas ini kemudian tidak disesuaikan secara gradual dan hati-hati, tekanan inflasi akan semakin kuat. Untuk itu BI pilih instrumen GWM untuk menormalisasi likuiditas,” kata Tirta.

Kendati GWM menjadi bagian dari biaya dana bank (cost of fund), namun porsinya tergolong sangat kecil dibandingkan dengan biaya DPK, terutama deposito. Kenaikan GWM juga tidak akan mendorong kenaikan bunga deposito karena kondisi likuiditas perbankan yang berlimpah.

Berdasarkan prediksi likuiditas yang masih berlebih  ini, bank tentu diharapkan tetap menyalurkan kredit atau pembiayaan kepada masyarakat. Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan menyatakan sudah mengantisipasi dan siap terhadap pengetatan kebijakan ini. Sebab, normalisasi kebijakan likuiditas ini juga dilakukan secara bertahap. “Secara angka, 3,5 persen dari total DPK rupiah Bank Mandiri senilai Rp 793,72 triliun maka awal 2022, (setoran) GWM kami hanya  Rp27,78 triliun. Pada Maret naik Rp12 triliun, begitu juga pada Juni naik Rp9 triliun dan September naik lagi Rp 6 triliun,” jelas Panji.

Secara keseluruhan Bank Mandiri membutuhkan konversi likuiditas sebanyak Rp 24 triliun hingga Rp 26 triliun ke dalam GWM. Ia melihat, sepanjang 2020 hingga saat ini, likuiditas masih mencukupi. “Dengan proyeksi pertumbuhan DPK dan kredit di tahun ini, maka akses likuiditas Bank Mandiri masih memadai guna memenuhi likuiditas baik kenaikan GWM secara bertahap maupun keperluan bisnis lainnya,” papar Panji.

Bank Mandiri memproyeksikan kredit bisa tumbuh di atas 8 persen sepanjang 2022. Panji menyatakan juga masih ada ruang untuk terbitkan global bond bila dibutuhkan likuiditas.  Bank Mandiri akan merilis surat utang itu dalam bentuk Euro Medium Term Notes (EMTN) sebesar 450 juta dollar AS. Atau dengan melakukan pendanaan dengan tipe lain dalam valuta rupiah atau asing baik secara bilateral atau eksekusi dengan pertimbangan aspek seperti waktu tepat seperti waktu dan kondisi pasar.***

Tags: BIBI7DRRGWMquantitative easingrisiko likuiditasthe fed
 
 
 
 
Sebelumnya

Tak (Lagi) Andalkan Bunga Acuan

Selanjutnya

Masih Kental Ancaman Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Gadai Emas Syariah

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

oleh Sandy Romualdus
20 Februari 2026 - 16:03

Stabilitas.id – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri mulai membongkar jaringan pencucian uang terkait aktivitas penambangan emas tanpa...

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:20

Stabilitas.id — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar pelatihan Finance for Non Finance bagi 21 pekerja lintas unit kerja pada...

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 11:31

Stabilitas.id — Bank Syariah Nasional (BSN) menegaskan penguatan peran developer sebagai mitra utama dalam ekosistem pembiayaan perumahan syariah melalui penyelenggaraan...

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

oleh Stella Gracia
3 Februari 2026 - 09:48

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan langkah tindak lanjut konkret setelah menggelar pertemuan dengan tim Morgan Stanley Capital International...

Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

oleh Stella Gracia
2 Februari 2026 - 10:09

Stabilitas.id — Divisi Hubungan Internasional Polri mengumumkan Mohammad Riza Chalid (MRC) resmi berstatus buronan internasional setelah Interpol menerbitkan red notice...

Kasus Penipuan Mengatasnamakan TASPEN Berujung Vonis, Perseroan Tegaskan Keamanan Data Peserta

Kasus Penipuan Mengatasnamakan TASPEN Berujung Vonis, Perseroan Tegaskan Keamanan Data Peserta

oleh Stella Gracia
28 Januari 2026 - 09:32

Stabilitas.id — PT TASPEN (Persero) menegaskan komitmennya dalam melindungi hak dan keamanan peserta setelah pelaku penipuan yang mengatasnamakan TASPEN dijatuhi...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

HPSN 2026: BNI Perkuat Aksi Lingkungan, 423 Kg Sampah Berhasil Diangkut dari Pantai Mertasari

BNI Rayakan Imlek 2577 Kongzili Bersama Nasabah, Perkuat Komitmen Tumbuh Berkelanjutan

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Editorial 182: Data dan Pemimpin

Masih Kental Ancaman Digital

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance