Stabilitas.id – Harga emas domestik terus merangkak naik di tengah kombinasi panasnya tensi geopolitik global dan peningkatan permintaan musiman menjelang Ramadan. Per 10 Maret 2026, harga emas HRTA Gold tercatat menyentuh angka Rp2.893.000 per gram, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa.
Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal Maret. Peristiwa tersebut mendorong harga emas global ke level USD 5.278 per ounce, naik 17% secara tahunan (YoY). Selain faktor global, pelemahan nilai tukar Rupiah yang berstatus undervalued turut mengerek harga emas di pasar lokal.
Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), Thendra Crisnanda, menjelaskan bahwa emas kembali membuktikan perannya sebagai aset aman (safe haven). “Masyarakat cenderung beralih ke emas sebagai penyimpan nilai yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan inflasi global,” ujarnya, dikutip Kamis (12/3/2026)
BERITA TERKAIT
Dari sisi domestik, momentum Ramadan dan Idul Fitri menjadi pendorong utama volume penjualan. HRTA juga mencatat adanya sentimen positif dari kebijakan pemerintah, seperti pemangkasan tarif PPh 22 transaksi emas batangan menjadi 0,25%, yang meringankan beban konsumen ritel.
Menyambut tren positif ini, HRTA menggelar Festival Emas Terbesar pada 2–29 Maret 2026 dengan menawarkan potongan harga emas batangan hingga Rp22.000 per gram guna memfasilitasi kebutuhan investasi masyarakat.
Analisis Strategis
Kilau Emas 2026: Mengapa Target USD 6.000 Bukan Sekadar Angka?
Melihat data dari HRTA Gold Insight, ada tiga pilar utama yang mendasari mengapa tren bullish emas saat ini memiliki fundamental yang sangat kuat:
1. Pergeseran Paradigma Bank Sentral
Langkah Bank Indonesia menambah cadangan emas sebesar 7 ton pada 2025 dan berlanjut di awal 2026 bukan sekadar diversifikasi rutin. Ini adalah sinyal de-dollarisasi terselubung. Ketika institusi sekelas JP Morgan memproyeksikan harga emas menuju USD 6.000, mereka melihat adanya kekhawatiran sistemik terhadap penurunan nilai mata uang kertas global (fiat currency). Emas kini bukan lagi sekadar perhiasan, melainkan instrumen kedaulatan moneter.
2. Efek Ganda: Inflasi Energi & Geopolitik
Serangan di Timur Tengah awal Maret tidak hanya menaikkan harga emas, tapi juga memicu lonjakan harga minyak. Secara historis, kenaikan harga energi adalah bahan bakar utama inflasi. Dalam kondisi ini, emas berfungsi sebagai Double Protection:
- Protection 1: Lindung nilai terhadap risiko perang (geopolitik).
-
Protection 2: Lindung nilai terhadap penurunan daya beli (inflasi akibat energi).
3. Ekosistem Domestik yang Lebih “Ramah”
Kebijakan pemerintah Indonesia melalui penurunan PPh 22 menjadi 0,25% adalah langkah cerdas untuk menghidupkan pasar fisik. Meskipun ada bea ekspor untuk menjaga pasokan dalam negeri, insentif pajak di sisi hilir (konsumen) justru merangsang masyarakat untuk beralih dari tabungan konvensional ke tabungan emas. Bagi HRTA, ini adalah sweet spot untuk meningkatkan penetrasi pasar melalui aplikasi digital dan toko fisik.
Proyeksi
Dengan target Goldman Sachs di angka USD 5.400, harga emas domestik berpotensi terus mengalami penyesuaian naik (re-rating) sepanjang 2026. Momentum Ramadan akan menjadi peak season pertama, namun sentimen geopolitik akan menjadi “mesin permanen” yang menjaga harga emas tetap di level tinggi.
Bagi investor, koreksi harga jangka pendek di tengah tren kenaikan ini merupakan peluang buy on weakness sebelum proyeksi jangka panjang USD 6.000 terealisasi.***
















