Stabilitas.id – Federasi Perusahaan Listrik Jepang (FEPC) memastikan pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) nasional tetap berada pada level aman di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Meskipun jalur logistik global terganggu, Jepang berhasil memitigasi risiko berkat strategi diversifikasi pemasok yang agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Ketua FEPC, Nozomu Mori, mengungkapkan bahwa ketergantungan Jepang terhadap impor LNG dari negara-negara Teluk Persia saat ini hanya menyumbang 6% dari total kebutuhan nasional. Hal ini memberikan bantalan bagi stabilitas pasokan listrik termal di negeri Sakura tersebut.
“Kami tidak melihat dampak langsung terhadap stabilitas pasokan LNG saat ini. Namun, jika konflik berkepanjangan, keseimbangan pasokan dan permintaan global akan semakin ketat dan tarif listrik menjadi sulit diprediksi,” ujar Mori dalam konferensi pers, dikutip Sabtu (21/3/2026).
Meski pasokan LNG terjaga, sektor transportasi Jepang menghadapi tekanan berat. Kementerian Perindustrian Jepang melaporkan harga rata-rata bensin eceran melonjak ke rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni 190,80 yen (sekitar Rp20.365) per liter. Lonjakan ini merupakan kenaikan mingguan tertajam sejak 1990.
Merespons kondisi tersebut, Perdana Menteri Sanae Takaichi bergerak cepat mengaktifkan kembali skema subsidi negara. Pemerintah menargetkan intervensi pasar untuk menekan harga bensin kembali ke kisaran 170 yen per liter guna menjaga daya beli rumah tangga dan menahan laju inflasi.
Sinyal Waspada dari Bank of Japan
Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, memberikan pandangan yang lebih berhati-hati. Dalam laporannya, Ueda menyoroti bahwa pelemahan Yen yang dibarengi lonjakan harga minyak mentah memperburuk biaya impor (imported inflation).
Meskipun BOJ memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 0,75% pada rapat 19 Maret 2026, arah kebijakan moneter ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. “Fluktuasi mata uang saat ini memiliki dampak yang lebih kuat terhadap inflasi dibandingkan sebelumnya,” tegas Ueda.
Imbas ke Sektor Manufaktur
Krisis energi mulai merembet ke rantai pasok industri manufaktur Jepang:
-
Mitsubishi Chemical: Resmi menaikkan harga produk petrokimia untuk bahan baku plastik otomotif dan peralatan rumah tangga.
-
JFE Steel: Terpaksa menghentikan sementara satu dari lima generator tenaga termal di pabrik Hiroshima akibat kekhawatiran kelangkaan bahan bakar, meskipun operasional baja secara umum masih berjalan normal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun Jepang telah melakukan diversifikasi energi, struktur ekonominya tetap rentan terhadap volatilitas harga komoditas global yang dipicu oleh konflik bersenjata di kawasan Teluk. ***
















