Stabilitas.id – Indeks saham utama di bursa Amerika Serikat kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada penutupan perdagangan Kamis (16/4/2026). Optimisme investor terangkat menyusul kabar meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah dan solidnya data ketenagakerjaan AS.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sukses mempertahankan posisi di level tertinggi sepanjang sejarah untuk hari kedua berturut-turut. Nasdaq bahkan mencatatkan reli selama 12 hari beruntun, yang merupakan laju kenaikan terlama sejak tahun 2009.
Berdasarkan data Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 0,24% ke posisi 48.578,72. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,26% ke level 7.041,28 dan Nasdaq melonjak 0,36% ke level 24.102,70.
BERITA TERKAIT
Sentimen Geopolitik dan Energi
Pasar merespons positif kesepakatan gencatan senjata sementara antara Israel dan Lebanon. Selain itu, sinyal dari Presiden AS Donald Trump mengenai potensi dimulainya kembali negosiasi dengan Iran memberikan angin segar bagi pelaku pasar, meskipun proses diplomasi diprediksi memakan waktu hingga enam bulan.
Sektor energi memimpin penguatan di S&P 500 dengan kenaikan 1,6%, terdorong oleh fluktuasi harga minyak yang merespons dinamika di kawasan Teluk. “Selama satu setengah bulan terakhir, pergerakan pasar sangat dipengaruhi oleh eskalasi di Iran,” ujar Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management.
Data Tenaga Kerja dan Kinerja Korporasi
Dari sisi domestik, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim pengangguran turun melampaui ekspektasi. Hal ini mencerminkan pasar tenaga kerja yang tetap stabil meski pelaku usaha mulai berhati-hati dalam melakukan ekspansi rekrutmen di tengah ketidakpastian global.
Di bursa korporasi, pergerakan harga saham cenderung bervariasi:
-
PepsiCo: Menguat setelah merilis laba di atas estimasi analis.
-
Abbott Laboratories: Anjlok signifikan usai memangkas proyeksi laba tahunan.
-
Charles Schwab: Melemah tajam merespons laporan kinerja terbarunya.
-
Netflix: Terkoreksi dalam perdagangan after-hours pasca-rilis laporan keuangan.
Direktur Per Stirling Capital Management, Robert Phipps, menilai pasar kini tengah berupaya kembali ke jalur fundamental setelah sempat tertekan cukup dalam akibat sentimen perang. Investor kini mengalihkan fokus pada musim laporan keuangan kuartal pertama untuk menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya. ***
















