Stabilitas.id – Pemerintah Indonesia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) di seluruh SPBU (Pertamina, Shell, bp, dan Vivo) tetap stabil memasuki masa arus balik Lebaran 2026. Ketahanan harga domestik ini menjadi anomali di kawasan Asia Tenggara, mengingat pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah memicu lonjakan harga energi di pasar global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa stok BBM, LPG, dan batu bara dalam kondisi aman sesuai standar nasional. Namun, pemerintah mulai mengkaji langkah preventif untuk menekan konsumsi energi, termasuk opsi bekerja dari rumah (Work From Home/WFH).
“Sedang dikaji apakah kita membutuhkan WFH. Semua kemungkinan bisa terjadi, yang penting adalah penghematan terhadap BBM,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, dikutip Senin (23/3/2026).
BERITA TERKAIT
Kontras dengan Indonesia, negara tetangga telah melakukan penyesuaian harga secara agresif. Di Singapura, harga bensin dan solar di SPBU Shell naik 7 sen hanya dalam waktu tiga hari pasca-konflik, melampaui rekor krisis Ukraina 2022.
Sementara itu, Filipina melalui Departemen Energinyamemperkirakan kenaikan harga minyak domestik hingga PHP 23,9 atau sekitar Rp6.805 per liter yang akan diterapkan secara bertahap mulai pekan ini.
Manajemen Arus Balik dan Strategi WFA
Di sisi transportasi, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengimbau pemudik untuk menghindari puncak arus balik yang diprediksi jatuh pada 24, 28, dan 29 Maret 2026. Data Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) memproyeksikan volume kendaraan pada 24 Maret mencapai lebih dari 285.000 unit, lebih tinggi dibandingkan puncak arus mudik.
Sebagai solusi pengurai kemacetan dan penekan konsumsi BBM, pemerintah menyarankan masyarakat memanfaatkan masa Work From Anywhere (WFA). “Kami imbau masyarakat kembali ke Jabodetabek pada 23 Maret atau memanfaatkan periode 25-27 Maret dengan skema WFA yang diimbau pemerintah,” kata Menhub Dudy.
Kakorlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho, menambahkan bahwa meski terjadi peningkatan mobilitas di wilayah aglomerasi seperti Semarang Raya dan Jabodetabek, situasi lalu lintas hingga H+2 Lebaran masih terkendali.
“Pergerakan aglomerasi dan destinasi wisata seperti Bali serta Jawa Barat terpantau padat, namun masih dapat dikelola dengan baik melalui Operasi Ketupat,” pungkas Agus. ***
















