• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Internasional

IMF Peringatkan Beban Utang Tinggi dan Defisit Fiskal Batasi Ruang Gerak Ekonomi Global

by Stella Gracia
20 Oktober 2026 - 11:55
10
VIEWS
IMF: 2015 Ekonomi RI Tumbuh 5,25%, Inflasi 3-5%
0
SHARES
10
VIEWS

IMF memperingatkan tingginya utang pemerintah dan defisit anggaran membatasi ruang fiskal negara di tengah tekanan harga energi, suku bunga, dan ekspansi AI.

Stabilitas.id – Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menilai tingginya utang pemerintah dan defisit anggaran kian membatasi kemampuan negara dalam meredam guncangan ekonomi global. Di tengah tekanan harga energi, ketidakpastian geopolitik, dan pesatnya investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pemerintah didesak memperkuat disiplin fiskal guna menjaga stabilitas makroekonomi.

  • Baca juga: Suku Bunga Bertahan Tinggi, Citi Soroti Ketatnya Perebutan Modal Pemerintah dan Swasta

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan bahwa perekonomian dunia sejauh ini masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai gejolak. Kendati demikian, membengkaknya beban utang publik membuat ruang gerak kebijakan pemerintah untuk bermanuver semakin sempit.

“Sejauh ini, perahu kita terbukti tangguh, tetapi untuk mempertahankannya, diperlukan upaya yang cukup besar,” kata Georgieva dalam pidato pada Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, Jumat (16/10/2026).

BERITA TERKAIT

Suku Bunga Bertahan Tinggi, Citi Soroti Ketatnya Perebutan Modal Pemerintah dan Swasta

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

S&P Afirmasi Rating Indonesia BBB, Menkeu Purbaya: Arah Kebijakan Kita Kredibel

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

IMF mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 bertahan di level 3,1 persen, sama dengan estimasi yang dirilis pada Oktober 2025. Georgieva menilai ketahanan pertumbuhan tersebut merupakan hasil bersih dari dua kekuatan besar yang bergerak berlawanan.

“Pertumbuhan yang stabil ini merupakan hasil bersih dari dua kekuatan besar yang saling berlawanan: guncangan energi yang merugikan pertumbuhan dan lonjakan AI yang mendorongnya,” ujarnya.

Meski proyeksi global tidak berubah, kinerja ekonomi antarnegara mencatatkan perbedaan tajam. Negara-negara yang terdampak konflik mengalami pemangkasan proyeksi pertumbuhan yang signifikan. Sebaliknya, negara yang terlibat aktif dalam rantai nilai AI—seperti Amerika Serikat (AS), China, India, serta sejumlah negara di Asia—memperoleh revisi pertumbuhan ke atas.

Dalam pidatonya, Georgieva menguraikan tiga tekanan makroekonomi utama yang membayangi dunia. Pertama, guncangan pasokan energi akibat risiko jalur pelayaran, keterbatasan kapasitas pengolahan minyak dan gas alam, serta pengisian cadangan bahan bakar menjelang musim dingin di belahan bumi utara yang memicu inflasi sekaligus menekan pertumbuhan.

Kedua, tingginya utang publik dan defisit anggaran yang menggerus kapasitas fiskal pemerintah. Di kelompok negara berpendapatan rendah, beban pembayaran bunga utang terus meningkat di tengah menyusutnya bantuan resmi dari negara-negara donor.

  • Baca juga: Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

Ketiga, ekspansi AI yang mendorong pertumbuhan namun memicu tekanan inflasi jangka pendek akibat masifnya pembangunan infrastruktur digital yang dibiayai lewat utang. Selain ketiga faktor tersebut, fenomena super El Nino pada tahun ini turut mengerek harga pangan yang memukul kelompok masyarakat miskin.

Tekanan ekonomi global tersebut tercermin dari lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah bertenor 10 tahun di AS, Jerman, dan Jepang yang baru-baru ini menyentuh level tertinggi masing-masing sejak 2002, 2009, dan 1996. Kenaikan ini turut mengerek biaya pinjaman di negara-negara berkembang.

Merespons tekanan inflasi yang persisten, IMF mendukung langkah pengetatan kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), serta Bank of Japan (BoJ).

“Kenaikan suku bunga hari ini lebih baik daripada tertinggal dari kurva dan harus menggandakan upaya dengan kenaikan suku bunga yang lebih besar pada hari esok,” tegas Georgieva.

Mengingat kebijakan moneter ketat turut mengerek biaya pendanaan pemerintah, IMF meminta negara-negara berutang tinggi segera menyusun rencana konsolidasi fiskal jangka menengah yang kredibel, disertai perlindungan bagi kelompok rentan dan reformasi struktural.

Di sisi lain, Georgieva mengingatkan seluruh negara untuk memitigasi risiko ikutan dari perkembangan AI, mulai dari ancaman pengangguran usia muda, terkikisnya basis pajak, hingga lonjakan ancaman keamanan siber di sektor keuangan.

“Kami melihat jumlah serangan siber tumbuh secara eksponensial, sementara waktu antara ditemukannya kerentanan dan dieksploitasinya kerentanan tersebut menyusut dari hitungan bulan menjadi jam dan segera menjadi menit,” ungkap Georgieva.

  • Baca juga: S&P Afirmasi Rating Indonesia BBB, Menkeu Purbaya: Arah Kebijakan Kita Kredibel

Untuk membantu negara anggota menghadapi berbagai kerentanan tersebut, IMF saat ini mencatatkan nilai pinjaman berjalan dan komitmen pembiayaan yang belum dicairkan sebesar US240miliar,denganpembiayaankonsesionalmencapaiUS240 miliar, dengan pembiayaan konsesional mencapai US240miliar,denganpembiayaankonsesionalmencapaiUS36 miliar atau empat kali lipat rata-rata historisnya. Selain menggalang penguatan dana Poverty Reduction and Growth Trust (PRGT), IMF juga rutin menggelar sekitar 300 program bantuan teknis pengawasan keuangan serta 15 penilaian Financial Sector Assessment Program (FSAP) setiap tahun. ***

Editor: Sandy Romualdus
Tags: ekonomi globalimfKristalina Georgievasuku bungautang pemerintah
 
 
 
 
 
Previous Post

Literasi Asuransi di Angka 42,84 Persen, DAI Perkuat Edukasi UMKM di 7 Kota

Next Post

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

by Stella Gracia
8 Oktober 2026 - 11:49

Korea Selatan menyelidiki pembobolan data 68.000 nasabah di tujuh bank terkemuka akibat serangan siber otomatis berbasis Artex AI. Stabilitas.id - Pemerintah...

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 14:11

Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen pada kuartal III/2026 ditopang ekspor dan investasi, memicu ADB merevisi proyeksi pertumbuhan tahunan menjadi 7,8...

Setahun Berjalan, Bullion Bank Pegadaian dan BSI Himpun 153 Ton Emas

Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

by Stella Gracia
23 September 2026 - 10:36

Tiongkok membukukan rekor impor emas melampaui 1.000 ton senilai Rp2.811 triliun. Manuver ini menjadi langkah mitigasi risiko seiring kolapsnya properti...

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

by Stella Gracia
22 September 2026 - 10:49

IMF membunyikan alarm terkait rasio utang publik global yang akan melampaui 100% PDB pada 2029. Investor mulai rekalibrasi portofolio menjauhi...

Inflasi di Atas Target, The Fed Didesak Tunda Akselerasi Pemangkasan Suku Bunga

Lawan Intervensi Trump, The Fed Kerek Suku Bunga Acuan ke Level 4 Persen

by Stella Gracia
18 September 2026 - 18:14

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75-4,00 persen demi menekan inflasi, mengabaikan kritik dan desakan Presiden Donald...

Deeskalasi Timur Tengah: Trump Tangguhkan Serangan, Iran Ajukan Proposal 10 Poin

Ambisi Trump di Ladang Emas Hitam: Bayang-Bayang Skenario Venezuela di Tanah Persia

by Stella Gracia
14 September 2026 - 14:48

Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil alih kendali minyak Iran mengadopsi skenario kesepakatan Venezuela, di tengah memanasnya konflik Selat...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Aset Dapen Terpusat di Jakarta, BPA Brokers Bidik Pendampingan Korporasi di Sentra Ekonomi Daerah

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

IMF Peringatkan Beban Utang Tinggi dan Defisit Fiskal Batasi Ruang Gerak Ekonomi Global

Literasi Asuransi di Angka 42,84 Persen, DAI Perkuat Edukasi UMKM di 7 Kota

Tembus Buyer Belanda di ISEF 2026, UMKM Binaan BI Jakarta Raup Potensi Ekspor Rp4,4 Miliar

Suku Bunga Bertahan Tinggi, Citi Soroti Ketatnya Perebutan Modal Pemerintah dan Swasta

Pengguna Aktif Tumbuh 75 Persen, Tokocrypto Perkuat Kepatuhan dan Perlindungan Konsumen

Dorong Ekonomi Komunitas Lewat Strategi 3S, Kopdit Pintu Air Perkuat Jaringan di Jawa Barat

Dukung Transformasi Kota Global, Bank Jakarta Biayai Elektrifikasi Transjakarta dan Pedestrian Deck MRT Dukuh Atas

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance